BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Sejarah adalah
suatu rujukan saat kita akan membangun masa depan. Namun, kadang orang malas
untuk melihat sejarah. Sehingga orang cenderung berjalan tanpa tujuan dan
mungkin mengulangi kesalahan yang pernah ada dimasa lalu. Disnilah sejarah
berfungsi sebagai cerminan bahwa dimasa silam telah terjadi sebuah kisah yang
patut kita pelajari untuk merancang masa depan.
Khulafa
al-Rasyidun sebagai sahabat-sahabat yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad
kiranya pantas untuk dijadikan sebagai rujukan saat kita akan melaksanakan
sesuatu dimasa depan. Karena peristiwa yang terjadi sungguh beragam. Dari mulai
cara pengangkatan sebagai khalifah, sistem pemerintahan, pengelolaan
administrasi, hubungan sosial kemasyaratan dan lain sebagainya (Siti Maryam, dkk.2004
: 45)[1]
Dalam memahami
sejarah kita dituntut untuk dapat berpikir kritis. Sebab, sejarah bukanlah
sebuah barang mati yang tidak dapat dirubah. Akan tetapi sejarah bisa saja
dirubah kisahnya oleh sang penulis sejarah. Nalar kritis kita dituntut untuk
mampu membaca sejarah dan membandingkan dengan pendapat lain. Saat kita sudah
mampu untuk menyibak tabir sejarah dari berbagai sumber, barulah kita dapat
melakukan rekonstruksi sejarah.
Rekonstruksi
sejarah perlu dilakukan agar kita dapat memisahkan antara peradaban Arab dan
peradaban islam. Sebab, kita sering memakan mentah-mentah peradaban yang datang
dari Arab sebab semuanya dianggap sebagai peradaban islam. Kita perlu memandang
peradaban dari berbagai aspeknya. Langkah ini agar kita tidak hanya sekedar
”bangga” dan larut dalam historisisme yang seringkali ”menjebak” pemikiran
progressif kita.[2]
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan
masalah dalam pembuatan makalah ni adalah sebagai berikut :
- Apa yang
di maksud dengan khulafaurrosidin ?
- Siapa
para pemimpin khulafaurrosidin ?
- Bagaimanakah
sejarah kepemimpinan khulafaurrosidin ?
- Bagaiman sistem politik dan pemerintahan khulafaurrosidin ?
C.
Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dalam pembuatan makalah ni
adalah sebagai berikut :
- Untuk mengetahui
apa yang di maksud dengan khulafaurrosidin.
- Untuk
mengetahui siapa para pemimpin khulafaurrosidin.
- Untuk
mengetahui bagaimanakah Sejarah kepemimpinan khulafaurrosidin.
- Untuk
mengetahui bagaiman system politik dan pemerintahan khulafaurrosidin.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian khulafaurrosidin
Khulafaurrasyidin
adalah pecahan dari kata Khulafa’ dan Al – Rasyidin, Kata Khulafa’ mengandung
pengertian : cerdik, pandai dan pengganti. Sedangkan kata, Al – Rasyidin
mengandung pengertian : Lurus Benar dan Mendapat petunjuk.
Pengertian
Khulafaurrasyidin adalah “ Pengganti yang cerdik dan benar serta para pemimpin
pengganti Rasulullah dalam urusan kehidupan kaum muslimin, yang sangat adil dan
bijaksana, pandai dan cerdik, dan dalam menjalankan tugasnyasenantiasa pada
jalur yang benar serta senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
B.
Para pemimpin khulafaurrosidin
Para pemimpin
Khulafaurrasyidin terdiri dari empat orang sahabat Rasulullah Yaitu:
- Abu Bakar
Siddiq
- Umar Ibn
Khattab
- Utsman
Ibn Affan.
- Ali Ibn
Abi Thalib.
Dalam
pemerintahannya mereka berjuang terus untuk agama Islam . mereka tidak pernah
memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadinya ataua untuk mengeruk harta.
Mereka adalah pemimpin–pemimpin yang baik dalam melaksanakan kekuasaan. Mereka
mau menerima dan mengemban kekhalifahan, bukan karena untuk mengharapkan
sesuatu yang akan menguntungkan pribadiya, tetapi semata – mata karena
pengabdiannya terhadap Islam dan mencari Keridhaan Allah SWT semata.
Setiap langkah
yang dilakukan oleh Khulafaurrasyidin tidak pernah bertentangan dengan kemauan
kaum muslimin selalu berjalan pada jalur yang benar. (Mohamed Abed
Al-Jabiri,2004:5)
C. Sejarah
hidup para pemimpin khulafaurrosidin
1. Abu Bakar
As-Shiddiq 11-3 H/ 632-634 M
1. Riwayat Hidup Abu Bakar
Sebelum
memeluk agama Islam , beliau bernama Abdul ka’bah, setelah masuk Islam oleh
rasulullah Namanya diganti menjadi Abdullah Ibn Abu Quhafah At – Tamimi.
Ibunya bernama Ummul Khoir Salma Binti Sakhir Ibn Amir. Beliau Lahir dua tahun
setelah Kelahiran Nabi Muhammad.
Abdullah
kemudian digelari Abu Bakar Asy Siddiq yang artinya “Abu (Bapak ) dan Bakar (
Pagi ), gelar Ash Siddiq diberikan kepada beliau karena beliau orang senantiasa
membenarkan segala tindakan Rasulullah, terutama dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.
2. Abu Bakar menjadi Khalifah
Rasulullah,
Sebagai utusan Allah mengemban dua jabatan , yakni sebagai Rasulullah dan
sebagai kepala Negara. Jabatan Beliau yang pertama selesai bersamaan dengan
wafatnya. Namun jabatan kedua perlu ada penggantinya,
Belum lagi
rasulullah dikebumikan , disebuah tempat yang bernama “ Saqifah bani Sa’idah
telah terjadi perselisihan pendapat antara golongan Anshor dan golongan
muhajirin , tentang pengganti rasul dalam pemerintahan.
Berita
perdebatan dua golongan ini kemudian terdengar oleh sahabat – sahabat terkemuka
seperti Abu Bakar, Umar Ibn Khattab dan Utsman Ibn Affan yang sedang berada di
rumah Rasulullah, sedang sahabat Ali sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah.
Mendegar
berita ini akhirnya sahabat Abu baker dan Umar ibn Khattab sangat terkejut,
kemudian keduanya cepat-cepat mendatangi dimana kedua golongan tersebut
yang sedang berdebat, untuk itu mereka mendatangi Saqifah Bani Sa’idah.
Abu baker
berpidato dihadapan mereka dengan mengemukakan kelebihan-kelebihan Anshor dan
Golongan Muhajirin, Abu Bakar Mengusulkan agar hadirin memilih salah satu dari
sahabat yaitu Umar Ibn Khattab dan Abu Ubaidah, namun keduanya menolak,
dan keduanya berkata, “Demi Allah kami tidak akan menerima pekerjaan besar ini
selama engkau,asih ada, hai abu bakar! …. Engkaulah Orang Muhajirin yang paling
mulia, Engkaulah satu-satunya orang yang menyertai Rasulullah di Gua ketika
dikejar-kejar oleh orang – orang Quraisy engkaulah satu-satu nya orang yang pernah
Rasulullah untuk menjadi Imam Shalat waktu Rasulullah Sakit…Untuk itu
tengadahkanlah tanganmu wahai abu baker, kami hendak membaiatmu.
Pada awalnya
Abu bakar sendirimerasa keberatan, kemudian Umar ibn Khattab memegang tangan
Abu bakar sebagai tanda pembaiatan dan diikuti oleh sahabat Abu
Ubaidillah, setelah kedua sahabat selesai maka diikuti oleh seluruh sahabat
yang ada di balairung itu baik kaum Muhajirin maupun Anshor.
Kemudia Abu
Bakar berpidato; “ Wahai Manusia ! saya telah diangkat untuk mengandalikan
urusanmu padahal aku bukanlah orang terbaik diantara kamu , maka jikalau aku
menjalankan tugasku dengan baik maka ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat
salah , maka luruskanlah ! orang yang kamu pandang kuat saya pandang lemah,
sehingga aku dapat mengambil hak darinya, sedag orang yang kau pandang lemah
aku pandang kuat , sehingga aku dapat mengambalikan hak kepadanya. Hendaklah
kamu taat kepadaku selama aku Taat kepada Allah dan RasulNya., tetapi bilamana
aku tidak mentaati Allah dan rasulnya, kamu tidak perlu mentaatiku. (H. Munawir
Sjadzali, M.A.1993:25)
3. Langkah langkah Khalifah Abu Bakar.
Diawal pemerintahannya muncul tiga golongan, Golongan pertama menyatakan
dirinya keluar dari Islam (Murtad), Golongan kedua yaitu golongan yang tidak
puas dengan Islam, mereka menganggap karena , pemimpinnya sama dengan para
budak. Maka muncul Musailamah Al Kazzab dari bani Hanifah di yamamah., Sajah
dari bani Tamim, Al Aswad al Ansi dari yaman dan Thulaihah ibn Khuwailid dari
Bani Asad. Mereka ini mengaku dirinya sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad
SAW. Kemudian golongan ketiga adalah mereka yang ketiga adalah mereka
yang salah memahami ayat -ayat Al-Qur’an. Mereka mengatakan bahwa yang
berhak memungut zakat adalah Nabi, untuk itu setelah Nabi Wafat maka tidak
seorang pun yang berhak memungut zakat.
Menghadapi golongan-golongan ini Abu bakar setelah bermusyawarah dengan
sahabat-sahabat lainnya mengambil tindakan tegas. Beliau membentuk pasukan yang
dibagi ke dalam 11 batalion yang masing masing dipimpin oleh seorang panglima,
yaitu:
1.
Khalid ibn Walib ditugaskan untuk memerangi Thulaihah
Ibn Khuwailid dan para pengikutnya.
2.
Ikrimah bin Abi jahl ditugaskan untuk memerangi
Musailamah Al kazzab dan Para pengikutnya.
3. Syarahbil bin
Hasanah bertugas mendampingi ikrimah.
4. Al Muhajjir
Ibn abi Umayyah ditugaskan utuk memerangi Aswad Al Ansi dan para pengikutnya.
5. Huzaifah ibn
Muhsin bertugas untuk menaklukkan Negeri Daba di Umman.
6. Arfajah Ibn
Hartsamah ditugaskan ke Negeri Muhrah.
7. Suaid Ibn
Muqrin ditugaskan ke Yaman.
8. Al Ula Ibn Al
Hadromy ditugaskan ke Bahrein.
9. Thuraifah Ibn
hajiz ditugaskan ke Negri Bani Sulaim dan Bani Hawazin.
10. Amru Ibn Al
Ash ditugaskan ke Negeri Qudhoah
11. Kholid Ibn
Sa’id ditugaskan ke tanah-tanah tinggi Syam.
Sebelum
Pasukan itu dikerahkan kenegeri masing-masing, Khalifah Abu bakar terlebih
dahulu mengirimkan surat kepada golongan-golongan itu agar mereka kembali ke
Islam. Namun sebagian besar merka tetap bersikeras, maka pasukan ini pun
dikerahkan, dan dalam waktu yang relative singkat , pasukan Abu Bakar telah
sukses dengan gemilang.
Dengan
suiksesnya pasukan Khalifah Abu Bakar ini, maka keadaan Negara Arab tenag
kembali.
Langkah kedua
yang dilakukan Khalifah Abu bakar adalah mengirimkan pasukan ke Negri Persia
dan Syam dibwah pimpinan Panglimanya. Yakni Kholid Ibn Walid. Penyerangan ini
dilakukan karena pada saat Abu bakar sedang menghadapi golongan-golongan
pembngkang Persia dan syam banyak memberi dukungan dan bantuan kepada mereka,
disamping itu Persia dan syam selalu mengancam terhadap Islam.
Kholid Ibn
Walid sebelum menyerang terlebih dahulu mengirim surat kepada Hormoz (Kaisar
Persia) untuk memeluk agama Islam, Namu Kaisar Hormoz membalasnya dengan
mengirimkan pasukan, maka pertempuranpun tak terelakkan. Dalam pertempuran ini
panglima kholid ibn walid berhasil menaklukkan psukan Persia dan raja Hormoz
sendiri terbunuh. Dengan demikian Persia menjadi wilayah Islam.
Langkah
selanjutnya adalah mengumpulkan ayat-ayat al Qur’an . Usaha ini awalnya muncul
dari usul umar Ibn Khattab, beliau melihat banyaknya penghafal alqur’an yang
gugur dalam pernag yamamah. Mulanya Abu Bakar Menolak, Kemudian khalifah Abu
bakar memerintah sahabat Zaid Ibn Tsabit untuk mengumpulkan Al Qur’an, karena
beliau paling bagus Hafalannya.
Demikian
perjuangan Khalifah Abu Bakar selama dua tahun, dan pada tanggal 21 Jumadil
Akhir 13 H bertepatan dengan 12 Agustus 634 M Beliau wafat.
5.
Biografi Umar Ibn Khattab.
Ayahnya
bernama Nufail Al Quraisy dan Ibunya bernama Hantamah Binti Hasim. Beliau
berasal dari bani Adiy.Dimasa Jahiliyah Umar adalah seorang saudagar yang
berpengaruh mulia dan berkedudukan tinggi.Masuknya Umar ke barisan Umat islam
telah membawa perubahan baru bagi masyarakat Islam.umat Islam berani
menjalankan Sholat dirumahnya masing-masing. Tidak takut menghadapi kaum Quraisy.Umar
Ibn Khattab diangkat menjadi Khalifah setelah wafatnya khalifah abu baker
,Yaitu tahun 634 M- 644/13 H-23 H
5 Perjuangan Khalifah
Umar Ibn Khattab.
1.
Memperbaiki Struktur dan lembaga Negara.
Beliau sorang
yang adil dan jujur .pada masa pemerintahannya negara menjadi Aman. Beliau
mengangkat dewan hakim, badan permusyawaratan para sahabat. Badan keuangan. Untuk
daerah-daerah, karena wilayah kekuasaan islam semangkin luas,beliau mengangkat
Gubernur
2.
Lembaga kepentingan msyarakat
Yaitu
diadakannya jawatan pos yang akan menyampaikan berita dari kota madina ke
daerah-daerah lainnya, begitu juga sebaliknya.Perbaikan jalan-jalan umum juga
mendapat perhatian, memberi santunan anak yatim, orang tua dan wanita menyusui,
khalifah umar juga menetapkan tanggal 1 muharram sebagai tahun baru Hijriyah.
Dan menetapkan bulan sabit sebagai lambing Negara.
3.
Menaklukkan beberapa Negara kedalam Islam
– Menakklukkan Damaskus.
Dibawah pimpinan
khalid Ibn Walid, pasukan Islam bergerak ke damaskus. Saat pasukan islam masuk
ke damaskus prajurit Islam dalam keadaan mabuk-mabukan sehingga dengan mudah
dapat ditaklukkan.Sementara panglima Abu Ubaidah bersama pasukannya juga sukses
menaklukkan daerah sekitar syam.Dan di daerah tersebut Khalifah umar
memerintahkan Khalid iIbn Walid dan Abu ubaidah agar memberi kebebasan beragama
kepada penduduknya.
– Membebaskan Baitul Maqdis
Saat itu baitul maqdis
dikuasai oleh kerajaan romawi, maka khalifah umar ibn Khattab mengirim bala
tentaranya dibawah pimpinan Amr Ibn Ash.Pasukan Romawi yang dipimpin
Artabun tidak mampu menghadapi pasukan Islam, setelah pasukan romawi
dikepung selama 4 bulan mereka menyerah.
– Menaklukkan Persia
Khalifah Umar mengirim
pasukannya ke Persia dibawah pimpinn Khalid Ibn Walid yang dibantu oleh
Mutsanna Ibn Haritsah, akan tetapi Khalid ibn walid diperintahkan untuk
membantu pasukan Abu ubaidah di roma dan Mutsanna tetap di Persia. Dengan
begitu kekauatan kaum muslimin di Persia berkurangh dan tidak dapat menaklukkan
Persia.Setelah romawi tunduk pada Islam Khalifah Umar mengirimkan kembali
pasukan Islam ke Persia berjumlah 8000 orang dibawah pimpinan Sa’ad Ibn Abi
Waqosh, dan bertemu dengan pasukan Persia dengan kekauatan 30000 pasukan, namun
kaum muslimin memperoleh kemenangan yang gemilang.
– Menaklukkan Mesir
Mesir saat itu
dikuasai oleh tentara Romawi, maka khalifah umar mengirim pasuknnya ke mesir
dibawh pimpinn Amr ibn Ash.
Dibeberapa daerah kaum
muslimin mendapat kemenangan, namuan di Ummu Dunain, kaum muslimin tidak dapat
menundukkan kekuatan tentara yRomawi, maka
Amr Ibn Ash memint bantuan kepada khalifah umar Ibn Khattab. Kemudian khalifah
umar mengirim pasukannya yang berjumlah 4000 orang dimana terdapat Zubai,
Ubadah Ibn Shamit, dan Al Miqdad Ibn Aswad., dan kaum muslimin harus berjuang
menghadapi lawan yang berjumlah 20000 orang maka amr ibn ash mengatur siasat
perang.
Khalifah Umar Ibn
Khattb wafat tanggal 1 Muharram 23 H ( 644 ) beliau wafat akibat tikaman, saat
menjalankan sholat subuh. Oleh Fairuz atau Abu Lulu karena Dendam tak
beralasan. Beliau menjadi khalifah selama 10 tahun. Dan dimakamkan di madinah
disamping makam Rasulullah dan Abu Bakar As – Siddiq.
2.
Kelahiran Khalifah Usman bin Affan
Nama lengkapnya
adalah Usman bin Affan bin Abil Ash bin Abi Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi
Manafbin Qushiy bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Gholib Al-Qurosyiyy[3] Lahir
pada tahun 576 M. Enam tahun setelah penyerangan ka’bah oleh pasukan bergajah
atau setelah enam tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Ibu khalifah Ustman
bin Affan adalah Urwy bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Asy-syam[4]. Usman
bin affan masuk islam pada usia 30 tahun atas ajakan Abu Bakar. Sesaat setelah
masuk islam, ia sempat mendapatkan siksaan dari pamannya, Hakam bin Abi Abil
Ash. Ia di juluki Dzun Nurain, karena dia menikahi dua putri Rasululloh SAW.
secara berurutan setelah yang satu meninggal, yakni Ruqayah dan Ummu
Kulsum[5]
Khalifah Usman
bin Affan ikut berhijrah bersama istrinya ke Abesinia dan termasuk muhajir
pertama ke Yatsrib. Ia termasuk orang yang shaleh ritual dan sosial. Siang hari
ia gunakan untuk shaum dan malamnya untuk shalat. Ia sangat gemar al-Qur’an.
Sehingga Khalid Muh Khalid menulis bahwa untuk shalat dua rakaat saja, Ustman
menghabiskan waktu semalaman karena banyaknya ayat al-Quran yang di baca,
dan pada saat khalifah Ustman wafat,al-qur’an berada di pangkuannya. Kesalehan
sosialnya terbukti dan membeli telaga milik yahudi seharga 12.000 dirham menghibahkannya
kepada kaum muslimin pada saat hijrah ke Yatsrib. Mewakafkan tanah seharga
15.000 dinar untuk perluasan masjid nabawi. Menyerahkan 940 ekor unta, 60 ekor
kuda, 10.000 dinar unuk keperluan jaisyul ushrah pada perang tabuk. Setiap hari
jum’at, Usman bin Affan membebaskan seorang budak laki-laki dan seorang budak
perempuan. Pada massa paceklik, massa pemerintahan abu bakar, ustman menjual
barang sehari-hari dengan harga yang sangat murah, bahkan membagi-bagikannya
kepada kaum muslimin. Usman termasuk orang yang penyayang, sehingga pernah
suatu pagi, ia tidak tega membangunkan pelayannya untuk mengambil air wudhu,
padahal ia sedang sakit dan sudah udzur.
Pada zaman
nabi Muhammad SAW, Usman bin Affan mengikuti beberapa peperangan, di antaranya
perang uhud, khaibar pembebasan kota mekkah, perang tha’if, hawazin dan tabuk.
Perang badar, tidak ia ikuti karena di suruh oleh Rasululloh SAW. menunggu
istrinya yang sedang sakit sampai meninggalkannya.
3.
Proses Pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan
Sebelum meninggal,
Umar telah memanggil tiga calon penggantinya, yaitu Ustman, Ali, dan Sa’ad bin
Abi Waqqash. Dalam pertemuan dengan mereka secara bergantian, Umar berpesan
agar penggantinya tidak mengangkat kerabat sebagai pejabat [munawwir
sadzali,1993: 30]. Di samping itu, Umar telah membentuk dewan formatur yang
bertugas memilih penggantinya kelak. Dewan formatur yang di bentuk umar
berjumlah 6 orang. Mereka adalah Ali, Ustman, Sa’ad bin Waqqash, Abdur Rahman
bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Di samping itu Abdullah
bin Umar dijadikan anggota, tetapi tidak memiliki hak suara.[6]
Mekanisme
pemilihan khalifah ditentukan sebagai berikut, pertama, :Yang
berhak menjadi khalifah adalah yang dipilih oleh anggota
formatur dengan suara terbanyak. Kedua, apabila suara terbagi
secara berimbang (3:3), Abdullah bin Umar yang berhak menentukannya. Ketiga,
apabila campur tangan Abdullah bin Umar tidak diterima, calon yang dipilih
oleh Abd Ar-Rahman bin Auf harus diangkat menjadi khalifah. Kalau masih ada
yang menantangnya, penentang tersebut hendaklah dibunuh (Hasan Ibrahim
Hasan,1954: 254-5).
Anggota yang
khawatir dengan tata tertib pemilihan tersebut adalah Ali. Ia khawatir
Abd Ar-Rahman (yang mempunyai kedudukan strategis ketika pemilihan (deadlock)
tidak bisa berlaku adil karena antara Usman dan Abd Ar-Rahman terdapat
hubungan kekerabatan. Akhirnya, Ali mengikuti kemauan sendiri, tidak memihak,
tidak mengistimewakan keluarga, Ali menyetujuinya Abd Ar-Rahman berjanji
berlaku adil, tidak memihak, tidak mengikuti kemauan sendiri, tidak
mengistimewakan keluarga, dan tidak menyulitkan umat. Setelah Abd
Ar-Rahman berjanji, Ali menyetujuinya (Ath Thabari, l, t.th, :36).
Masa
pemerintahan Usman bin Affan termasuk yang paling lama apabila
dibandingkan dengan khalifah yang lainnya, yaitu selama 12 tahun;
24-36 H/644-656 M. Umar 10 tahun 13-23 H/656-661 M. Abu Bakar 2 tahun 11-13
H/632-634 M, dan Ali 5 tahun 36-41 H./656-661 M. Awal pemerintahan Utsman, atau
kira-kira 6 tahun masa pemerintahannya penuh berbagai prestasi.
Perluasan
pemerintahan islam telah mencapai Asia dan Afrika, seperti daerah Herat, Kabul,
Ghazani , dan Asia Tengah, juga Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian
yang tersisa dari Persia, dan berhasil menumpas pemberontakan yang dilakukan
orang Persia. Dalam bidang sosial budaya, Usman bin Affan telah membangun
bendungan besar untuk mencegah banjir dan mengatur pembagian air ke kota. Dan
membangun jalan, jembatan, masjid, rumah dan penginapan.
Peperangan di
masa ini adalah Perang Zatis Sawari yaitu “Perang Tiga
Kapal”, suatu peperangan di tengah lautan yang belum pernah dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW. dan para khalifah yang terdahulu-terdahulu. Dan disebut Zatis
Sawari, karena pada perang tersebut dilakukan di Laut Tengah dekat kota
Iskandariyah antara tentara Romawi di bawah pimpinan kaisar Constantine dengan
Laskar kaum Muslimin di bawah pimpinan Abdullah bin Abi Sarah, umat islam
mengerahkan kurang lebih 200 kapal[7].
4.
Visi Dan Misi Khalifah Usman Bin Affan
Mengetahui
visi dan misi khalifah Usman bin Affan dalam melanjutkan kekhalifahannya, dapat
dilihat dari isi pidato setelah Usman bin Affan dilantik atau dibai’at menjadi
khalifah ketiga negara Madinah, beliau menyampaikan isi pidato penerimaan
jabatan sebagai berikut.
“Sesungguhnya
kamu sekalian berada dalam negeri yang tidak kekal dan dalam pemerintahan
yang selalu berganti. Maka bergegaslah kamu berbuat baik menurut kemampuan kamu
untuk menyongsong waktu akhir kamu. Maka sampailah waktunya untuk saya
berkhidmat kepada kamu setiap saat. Ingatlah sesungguhnya dunia ini diliputi
kepalsuan maka janganlah kamu di permainkan kehidupan dunia dan janganlah
kepalsuan mempermainkan kamu terhadap Allah. Beriktibarlah kamu dengan orang
yang telah lalu, kemudian bersungguh-sungguhlah dan jangan melupakannya, karena
sesungguhnya masa ini tidak akan melupakan kamu. Dimanakah di dunia ini
terdapat pemerintahan yang bertahan lama? Jauhkanlah dunia sebagaimana Allah
memerintahkannya, tuntutlah akhirat. Sesungguhnya Allah telah memberikannya
sebagai tempat yang lebih baik bagi kamu. Allah berfirman, ‘Dan berilah
perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan
yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di
muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangakan oleh
angin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S AL-KAHFI/18:45)”[8].
Pidato diatas,
menggambarkan dirinya sebagai sufi, dan citra pemerintahannya lebih bercorak
agama daripada bercorak politik, dalam pidato itu Usman mengingatkan
beberapa hal penting :
1) Agar umat islam selalu berbuat
baik sesuai kemampuan sebagai bekal menghadapi hari
kematian dan hari akhirat sebagai tempat yang lebih baik yang disediakan oleh
Allah ;
2) Agar umat islam tidak terpedaya
kemewahan hidup dunia yang penuh kepalsuan sehingga membuat mereka lupa kepada
Allah ;
3) Agar umat islam mau mengambil ikhtibar
pelajaran dari masa lalu, mengambil yang baik dan menjauhkan yang buruk ;
4) Sebagai khalifah ia akan
melaksanakan perintah Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Umat islam boleh
mengkritikinya bila ia menyimpang oleh ketentuan hukum.
Untuk
pelaksanaan administrasi pemerintahan di daerah, khalifah Usman pada masanya,
wilayah kekuasaan Negara dibagi menjadi sepuluh provinsi:
1.
Nafi’ bin Al-Haris Al Khuza’i, Amir wilayah Makkah
2.
Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi, Amir wilayah Thaif
3.
Ya’la bin Munabbah Halif Bani Naufal bin Abd
Manaf, Amir wilayah Shan’a
4.
Abdullah bin Abi Rabiah, Amir wilayah Al Janad
5.
Usman bin Abi Al Ash, Amir wilayah Al Janad
6.
Al Mughiroh bin Syu’bah Ats Tsaqafi, Amir wilayah
Kuffah
7.
Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy’ari, Amir wilayah
Bashrah
8.
Muawiyah bin Abi Shofyan, Amir wilayah Damaskus
9.
Umar bin Sa’ad, Amir wilayah Hims
10. Amr bin Ash As
Sahami, Amir wilayah Mesir[9]
C.
Sistem politik dan pemerintahan khulafaurrosidin
1.
Abu Bakar
As-Shiddiq 11-3 H/ 632-634 M
Abu Bakar
memangku jabatan khalifah berdasarkan pilihan yang berlangsung sangat
demokratis di muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah, memenuhi tata cara perundingan
yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekankan pada persyaratan
jasa (merit), mereka mengajukan calon Sa’ad Ibn Ubadah. Kaum muhajirin
menekankan pada persyaratan kesetiaan, mereka mengajukan Abu Ubaidah Ibn
Jarrah. Sementara
itu Ahlul bait menginginkan agar Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah atas dasar
kedudukannya dalam islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Hampir saja
perpecahan terjadi. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya Abu
Bakar disetujui oleh jama’ah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah.
Sebagai
kahlifah pertama, Abu Bakar dihadapkan pada keadaan masyarakat sepeninggal
Muhammad SAW. Meski terjadi perbedaan pendapat tentang tindakan yang akan
dilakukan dalam menghadapi kesulitan yang memuncak tersebut, kelihatan
kebesaran jiwa dan ketabahan batinnya. Seraya bersumpah dengan tegas ia
menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran
(orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat dan mengaku diri sebagai
nabi).
Kekuasaan yang
dijalankan pada massa khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasululllah,
bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat
ditangan Khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga
melaksanakan hukum,. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu
Bakar selalu mengajak sahabat-sahabatnya bermusyawarah.
Setelah
menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengririm kekuatan
ke luar Arabia. Khalid Ibn Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hiyah
di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi dibawah pimpinan empat jendral yaitu
Abu Ubaidah, Amr Ibn ’Ash, Yazid Ibn Abi Sufyan, dan Syurahbil. Sebelumnya
pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun.
2.
Umar Ibn Al-Khaththab 13-23 H/634-644 M
Umar Ibn
Al-Khaththab diangkat dan dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetujui
oleh jama’ah kaum muslimin. Pada saat menderita sakit menjelang ajal tiba, Abu
Bakar melihat situasi negara masih labil dan pasukan yang sedang bertempur di
medan perang tidak boleh terpecah belah akibat perbedaan keinginan tentang
siapa yang akan menjadi calon penggantinya, ia memilih Umar Ibn Al-Khaththab.
Pilihannya ini sudah dimintakan pendapat dan persetujuan para pemuka masyarakat
pada saat mereka menengok dirinya sewaktu sakit.
Pada masa
kepemimpinan Umar Ibn Al-Khaththab, wilayah islam sudah meliputi jazirah
Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Karena
perluasan daerah terjadi dengan begitu cepat, Umar Ibn Al-Khaththab segera
mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi pemerintahan, dengan
diatur menjadi delapan wialayah propinsi : Mekah, Madinah, Syria, Jazirah,
Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu
didirikan pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan
pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga Yudikatif
dengan Eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Jawatan kepolisian
dibentuk. Demikian juga jawatan pekerjaan umum, Umar Ibn Al-Khaththab juga
mendirikan Bait al-Mall. Dalam menyelesaikan permasalahan yang berkembang
dimayarakat Umar selalu berkomunikasi dengan orang-orang yang
memang dianggap mampu dibidangnya.[10]
3. Ustman Ibn Affan 23-35 H/644-656 M
Ustman Ibn Affan
dipilih dan diangkat dari enam orang calon yang diangkat oleh khalifah Umar
saat menjelang wafatnya karena pembunuhan. Keenam orang tersebut adalah: Ali
bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abu Waqqash, Abd al-Rahman bin Auf,
Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, serta Abdullah bin Umar, putranya,
tetapi ”tanpa hak suara”.4 Umar menempuh
cara sendiri yang berbeda dengan cara Abu Abakar. Ia menunjukkan enam orang
calon pengganti yang menurutnya dan pengamatan mayoritas kaum muslimin memang
pantas menduduki jabatan Khalifah. Oleh sejarawan islam mereka disebut Ahl
al-Hall a al’aqd pertama dalam islam., merekalah yang bermusyawarah untuk
menentukan siapa yang menjadi khalifah. Dalam pemilihan lewat perwakilan
tersebut Ustman Ibn Affan mendapatkan suaran lebih banyak, yaitu 3 suara untuk
Ali dan 4 suara untuk Ustman Ibn Affan.
Pemerintah
khalifah Ustman Ibn Affan mengalami masa kemakmuran dan berhasil dalam beberapa
tahun pertama pemerintahannya. Ia melanjutkan kebijakan-kebijakan Khalifah
Umar. Pada separuh terakhir masa pemerintahannya, muncul kekecewaaan dan
ketidakpuasaan dikalangan masyarakat karena ia mulai mengambil kebijakan yang
berbeda dari sebelumnya. Ustman Ibn Affan mengangkat keluarganya (Bani
Ummayyah) pada kedudukan yang tinggi. Ia mengadakan penyempurnaan pembagian
kekuasaan pemerintahan, Ustman Ibn Affan menekankan sistem kekuasaan pusat yang
mengusaai seluruh pendapatan propinsi dan menetapkan seorang juru hitung dari
keluarganya sendiri.
4. Ali Ibn Abi Thalib 35-40 H/656-661 M
Ali Ibn Abi
Thalib tampil memegang pucuk kepemimpinan negara di tengah-tengah kericuhan dan
huru-hara perpecahan akibat terbunuhnya Usman oleh kaum pemberontak. Ali Ibn
Abi Thalib dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin di madinah dalam
suasana sangat kacau, dengan pertimbangan jika khalifah tidak segera dipilih
dan di angkat, maka ditakutkan keadaan semakin kacau. Ali Ibn Abi Thalib di
angkat dengan dibaiat oleh masyarakat.
Dalam masa
pemerintahannya, Ali Ibn Abi Thalib mengahadapi pemberontakan Thalhah, Zubair,
dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Ibn Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh
Usman dan mereka menuntut bela’ terhadap daerah Usman yang telah ditumpahkan
secara dhalim. Perang ini dikenal dengan nama perang jamal.[11]
Bersamaan
dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Ibn Abi Thalib juga mengakibatkan
timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah. Yang didukung oleh
sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaannya.
Pertempuran yang terjadi dikenal dengan perang shiffin, perang ini diakhiri
dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelsaikan maslah,
bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga Al-Khawarij (orang-orang yang
keluar dari barisan Ali).
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian di atas
dapat di simpulkan bahwa khulafaurrasyidin adalah khalifah Rasulullah yang
sangat mulia akhlak nya, karena akhlak mereka sebagaimana akhlak rasulullah yang
patut untuk diteladani bagi umat islam pada umum nya. Mereka adalah pemimpin
yang sangat bijaksana dalam memimpin rakyatnya.
Hal selanjutnya yang
perlu sama-sama kita perhatikan adalah, bersediakah kita termasuk para pemimpin
kita sekarang ini, baik yang berlevel gubernur, wali kota, bupati dan pemimpin
di bidang lainnya rela menerima kritikan dari bawahannya? Mampukah para
pemimpin kita tersebut mengambil pelajaran dari kritikan yang mereka terima?
Kritikan itu ibarat pil pahit, yang memang rasanya terasa amat pahit, namun
bisa menyembuhkan, kritikan juga bisa kita misalkan sebuah rem di kendaraan,
dimana rem tersebut akan mampu menyelamatkan sopir dari kecelakaan. Oleh karena
itu hendaklah pemimpin kita di Indonesia ini ikhlas menerima kritikan dalam
bentuk apapun sehingga kritikan tersebut bisa menjadi koreksi dan acuan bagi
pemimpin dan akhirnya mampu meningkatkan kinerjanya. Tipe kepemimpinan yang ada
dalam diri seorang pemimpin itu didasarkan pada teori-teori kepemimpinan yang
ada. Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengayomi para bawahannya.
Pergunakanlah tipe kepemimpinan yang ada sesuai dengan situasi dan kondisi yang
ada, agar tujuan kelompok atau organisasi dapat tercapai dengan cara yang
efektif dan efisien.
A.
Saran
Seorang
pemimpin disarankan tidak memiliki sifat yang egois, karena seorang pemimpin
yang baik harus bisa menerima kritik dan saran dari bawahannya.
DAFTAR PUSTAKA
[1]Siti Maryam, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam dari masa
klasik hingga masa modern, Yogyakarta: LESFI, 2004, Hlm 45
2. Mohamed Abed Al-Jabiri, Problem peradaban: penelusuran atas jejak
Kebudayaan Arab, Islam dan Timur, Yogyakarta: Belukar, 2004, Hlm. 5
3. Buku Duruus Tarikh Al
Islami. Syeh Muhyiddin Al Khoyyati. Hal 78-79
4. Buku Asadul
Ghobah fi Ma’rifatus Shohabah. ‘Izzuddin ibn Astir Abi Hasan Ali. Hal 578
5. Buku Najumul
Islam. Ahmad bin Salim. Hal 70-71
6. Buku Sejarah
Peradaban Islam. Dedi Supriyadi, M.Ag. Hal 87
7. Buku Sejarah
Peradaban Islam. Dedy Supriyadi, M.Ag. Hal 89
8. Buku Sejarah
Peradaban Islam. Dedi Supriyadi, M.Ag. Hal 90
9. Buku Tarikh
Amamil Islamiah. Syekh Khudhori Baek. Hal 27
10. Asghar Ali
Engineer, Devolusi Negara Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2000, Hlm. 35
11. H.Munawir Sjadzali, M.A., Islam dan Tata Negara ajaran, sejarah dan
pemikiran,Jakarta: UI-Press, 1993, Hlm. 25
No comments:
Post a Comment