BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam dunia usaha,
mulai dari usaha kecil sampai pada perusahaan besar membutuhkan informasi
akuntansi sebagai alat pengawasan maupun sebagai dasar pengambilan keputusan.
Dalam proses pengambilan keputusan, seorang manajer membutuhkan informasi
akuntansi manajemen, karena informasi manajemen cakupannya lebih luas, tidak
hanya menyangkut masalah keuangan tetapi juga masalah non keuangan.
Perkembangan
yang pesat di bidang akuntasi manajemen mendorong para pakar di bidang
akuntansi manajemen, baik perorangan maupun dalam wadah lembaga akuntansi untuk
merumuskan definisi akuntansi manajemen. Dari definisi tersebut dapat ditarik
kesimpulan batasan dari akuntansi manajemen dan profesi akuntansi manajemen
yang akan datang.
Akuntansi manajerial merupakan bagian
dari akuntansi dimana berfungsi untuk menyediakan informasi bagi pengguna
intern perusahaan, sehingga membantu dalam mencapai tujuan perusahaan.
The Institute of Management
Accountants (IMA) dalam Atkinson, Kaplan, Matsumura, dan Young (2007)
menjelaskan akuntansi manajemen sebagai berikut:
“a value adding continuous improvement
process of planning, designing, measuring, and operating nonfinancial and
financial information systems that guides management action, motivates
behavior, and support and creates the cultural values necessary to achieve an organization’s
strategic, tactical, and operating objectives.”
Pengertian di atas menunjukkan bahwa
akuntansi manajemen memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap
manajemen, dimana akuntansi manajemen memberikan informasi yang berguna
bagi manajemen dalam mencapai tujuan dari perusahaan.
Dalam era globalisasi, perusahaan
dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, dimana perusahaan membutuhkan
suatu informasi akuntansi yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan
untuk mengambil keputusan. Penyajian informasi akuntansi secara tepat dan
akurat akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan dalam pengambilan suatu
keputusan. Hal ini disebabkan karena akuntansi, informasi, dan pengambilan
keputusan merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan, saling berkaitan,
serta terus berkembang.
Perkembangan akuntansi tidak terlepas dari perubahan inovasi
dan teknologi yang terus-menerus mengalami perubahan. Hal ini membuat manajemen
dituntut untuk dapat menetapkan suatu kebijakan strategi bisnis agar dapat
mencapai keunggulan kompetitif. Salah satu cara perusahaan dalam mencapai
keunggulan kompetitif adalah melalui produksi yang efisien dan efektif sehingga
dapat menekan biaya langsung (bahan baku dan tenaga kerja langsung) dan biaya
tidak langsung (biaya overhead). Seiring dengan berjalannya waktu dan pertumbuhan pesaing yang
semakin meningkat perusahaan dituntut untuk mampu untuk memberikan hasil yang
optimal dengan pemenuhan kebutuhan perusahaan yang lebih luas, pihak manajemen
merasa bahwa sistem biaya tradisional tidak dapat memberikan kontribusi yang
lebih akurat dan spesifik sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi
perusahaan.
Dalam sistem biaya tradisional, biaya tidak langsung hanya
berdasarkan single tarif, dimana biaya-biaya dihitung
berdasarkan satu satuan ukuran volume tertentu saja. Kelemahan dalam sistem
biaya tradisional adalah tidak mampu perusahaan dalam mengelompokkan
biaya-biaya overhead ke dalam aktivitas- aktivitas pemakai produk dan
jasa. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan suatu alat bantu yang berguna
dalam memecahkan persoalan yang timbul seiring dengan kegagalan sistem biaya
tradisional. Pengadopsian sistem Activity Based Costing atau dikenal dengan istilah
ABC merupakan salah satu kunci untuk menjawab kekurangan yang timbul dalam
sistem tradisional.
Sistem ABC ini mencoba untuk memperbaiki masalah-masalah yang
ada di dalam perusahaan terutama berkaitan dengan kegiatan operasional
perusahaan. Pemilihan penggunaan sistem Activity Based Costing (ABC) hanya dikhususkan
berdasarkan kondisi di mana suatu perusahaan menghasilkan berbagai macam produk
dan jasa (midti produk). Dalam sistem ABC ini biaya overhead yang meliputi bermacam-macam
produk dapat secara langsung digolongkan berdasarkan kelompok
aktivitas-aktivitasnya masing-masing sehingga dapat lebih memiliki tingkat keakuratan
biaya yang lebih spesifik daripada menggunakan sistem biaya tradisional.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang
di atas, maka rumusan masalahnya adalah:
1.
Apa pengertian Activity Based Costing?
2.
Apa saja karakteristik Activity Based Costing?
3.
Bagaimana model Activity Based Costing?
4.
Bagaimana tahap penerapan Activity Based Costing?
5.
Bagaimana perbandingan Traditional Costing dan Activity Based Costing?
6.
Apa saja kekuatan dan
kelemahan Activity Based Costing?
7.
Bagaimana perhitungan biaya
berdasarkan Aktivitas dan Laporan Eksternal?
1.3.
Tujuan Penulisan
Tujuan
penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas dari mata kuliah
Akuntansi Manajemen dan sebagai pengingat di kala lupa bagi pembaca pada
umumnya serta untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi disekitar kita
terkait pembahasan ini.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Activity Based Costing
Perhitungan Biaya berdasarkan
Aktivitas (Activity Based Costing)
adalah metode perhitungan biaya produksi dan nonproduksi berdasarkan aktivitas
dan sumber daya yang dikonsumsi oleh produk yang diproses dalam satu periode
tertentu. Activity Based Costing
dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk keputusan
strategis dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi kapasitas dan
juga biaya tetap. Activity Based Costing
biasanya digunakan sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti sistem biaya yang
dipakai oleh perusahaan.
Dalam bukunya (Garrison: 1991) Managerial Accounting memberikan definisi mengenai Activity Based Costing (ABC) sebagai suatu metode kalkulasi
biaya yang menciptakan suatu kelompok biaya untuk setiap kejadian atau
transaksi (aktivitas) dalam suatu organisasi yang berlaku sebagai pemacu biaya.
Biaya overhead kemudian
dialokasikan ke produk dan jasa dengan dasar jumlah dari kejadian atau
transaksi produk atau jasa yang dihasilkan tersebut.
Pada
awal perkembangannya, ABC sistem dipakai sebagai alat untuk memperbaiki akurasi
perhitungan biaya produk salah satu yang termasuk didalamnya adalah biaya
overhead pabrik. Mulyadi (2003:50) menyatakan ABC sistem didesain dan dikelola
dengan teknologi informasi memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Data
biaya dan operasi dicatat dalam akun multidimensi. Paling tidak ada empat
dimensi yang dicakup dalam catatan: pusat pertanggungjawaban, aktivitas, jenis
biaya, dan produk/jasa.
b. Data
biaya dan biaya operasi disediakan dalam shared
database yang dapat diakses oleh karyawan dan
manajer.
c. Informasi
yang dihasilkan tidak terbatas pada informasi keuangan, namun mencakup pula
informasi operasi.
d. Informasi
biaya yang dihasilkan bersifat multidimensi.
2.2 Karakteristik Activity Based Costing
Karakteristik Activity Based
Costing adalah:
Ø Biaya
produksi dan nonproduksi dibebankan ke produk.
Ø Beberapa
biaya produksi tidak dimasukkan ke biaya produk.
Ø
Ada sejumlah cost pool BOP. Setiap pool dialokasikan ke produk dan objek costing
lainnya dengan menggunakan ukuran khusus aktivitas masing-masing.
Ø
Basis alokasi biasanya berbeda
dengan basis alokasi dalam sistem akuntansi biaya tradisional. Activity Based Costing menggunakan lebih
dari satu jenis cost driver.
Ø Tarif
overhead atau tarif aktivitas disesuaikan dengan kapasitas aktivitas, bukan
dengan kapasitas yang dianggarkan.
Dalam perhitungan biaya berdasarkan aktivitas, sebuah aktivitas (activity) adalah kegiatan apa pun yang
mengakibatkan konsumsi bahan baku overhead. Sebuah pul biaya aktivitas (activity costpool) adalah sebuah wadah di mana biaya diakumulasi dan
berkaitan dengan sebuah pengukuran aktivitas tunggal dalam sistem ABC. Ukuran
aktivitas (activity masure) adalah
basis alokasi dalam sebuah sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas.
Istilah pemicu biaya (cost driver) adalah
juga dipakai untuk mengacu pada ukuran aktivitas karena ukuran aktivitas harus
“menggerakkan-memicu” biaya yang dialokasikan.
Ada dua jenis ukuran aktivitas yaitu : penggerak transaksi (tmnsaction driver)
dan penggerak
durasi (duration driver). Penggerak transaksi (transaction drivers)
adalah hitungan sederhana tentang berapa kali suatu aktivitas terjadi seperti jumlah
tagihan yang dikirimkan ke pelanggan. Penggerak durasi (duration driver) mengukur
waktu yang diperlukan untuk melakukan suatu aktivitas seperti waktu yang
digunakan untuk menyiapkan tagihan. Secara umum penggerak durasi adalah ukuran
yang lebih akurat untuk penggunaan sumber daya dibanding penggerak transaksi,
tetapi lebih memerlukan usaha untuk mencatatnya. Untuk alasan tersebut,
penggerak transaksi lebih banyak digunakan.(Garrison, dkk: 2013).
Sistem biaya tradisional bergantung pada basis alokasi yang dibawa oleh
volume produksi. Di lain hal, perhitungian biaya berdasarkan aktivitas
mendefinisikan lima tingkat aktivitas-tingkat unit, tingkat batch, tingkat produk, tingkat
pelanggan, aktivitas pemeliharaan organisasi yang secara luas tidak terkait dengan volume unit yang
diproduksi. Biaya dan ukuran aktivitas yang merespons untuk aktivitas tingkat
unit tidak terkait dengan volume dari unit yang diproduksi; tetapi, kategori
sisanya tidak termasuk.
Tingkatan-tingkatan
tersebut dijelaskan sebagai berikut.
1. Aktivitas
tingkat unit (unit-level activities) dilakukan untuk setiap unit
produksi. Biaya aktivitas tingkat unit bersifat proporsional dengan jumlah unit
produksi. Sebagai contoh, menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan
menjadi aktivitas tingkat unit karena tenaga tersebut cenderung dikonsumsi
secara proporsional dengan jumlah unit produksi.
2. Aktivitas
tingkat batch (batch-level activities)
dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan
berapa unit yang ada dalam batch tersebut. Sebagai contoh,
perkerjaan seperti membuat pesanan produksi, pengaturan peralatan dan
pengaturan pengiriman kepada pelanggan adalah aktivitas tingkat batch. Aktivitas tersebut terjadi untuk
setiap batch (pesanan
pelanggan). Biaya pada tingkat batch lebih bergantung pada jumlah batch yang diproses dan bukannya pada
jumlah unit produksi, jumlah unit yang dijual, atau ukuran volume yang lain.
Sebagai contoh, biaya untuk pengaturan mesin untuk memproses batch adalah
sama tanpa memperhatikan apakah batch berisi satu atau ribuan item.
3. Aktivitas
tingkat produk (product-level activities)
berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan
berapa batch atau berapa unit yang diproduksi
atau dijual. Sebagai contoh, aktivitas untuk merancang produk, mengiklankan
produk, dan biaya untuk manajer serta;staf produksi adalah aktivitas tingkat
produk.
4. Aktivitas
tingkat pelanggan (customer-level activities) berkaitan dengan pelanggan khusus
dan meliputi aktivitas seperti telepon untuk penjualan, pengiriman katalog,
dukungan teknis yang tidak terpaku pada produk tertentu.
5.
Aktivitas
pemeliharaan organisasi (organization-sustaining
activities) yang
dilakukan tanpa memperhatikan pelanggan mana yang dilayani, barang apa yang
diproduksi, berapa batch yang dijalankan, atau berapa unit
yang dibuat. Kategori ini termasuk aktivitas seperti pemanas di pabrik,
kebersihan kantor eksekutif, penyediaan jaringan komputer, pengaturan pinjaman,
penyusunan laporan tahunan untuk pemegang saham, dan sebagainya.(Garrison, dkk
: 2013).
Manajer akuntansi membuat Gambar diatas untuk menjelaskan struktur umum dari model ABC. Objek
biaya seperti aktivitas pembuatan produk Contohnya, pelanggan memesan tiang
penyangga spesial memerlukan aktivitas menyiapkan pesanan produksi. Aktivitas
seperti penggunaan sumber daya. Order produksi menggunaku formulir-formulir dan
memakan waktu untuk diisi. Penggunaan dari sumber daya menyebabkan terjadinya
biaya. Makin banyak jumlah formulir yang harus diisi untuk pesanan produksi
makin besar jumlah waktu yang harus digunakan untuk mengisi formulir, makin
besar biaya yang terjadi. ABC berusaha menelusuri hubungan ini dengan
mengidentifikasikan bagaimana bajang dan pelanggan saling memengaruhi biaya.
2.4 Tahap Penerapan Activity Based Costing
Tahap penerapan Activity Based
Costing adalah:
1)
Mendefinisikan
aktivitas, pul biaya aktivitas, dan pengukuran aktivitas.
Langkah utama yang pertama dalam menerapkan sistem ABC adalah
mengidentifikasikan aktivitas yang akan menjadi dasar sistem tersebut. Langkah
ini mungkin sulit, memakan banyak waktu, dan membutuhkan pertimbangan. Prosedur
umum untuk melakukannya adalah melakukan wawancara terhadap semua orang yang
terlibat atau setidaknya semua supervisor dan manajer dalam departemen yang
menimbulkan overhead dan meminta mereka untuk menggambarkan aktivitas utama
yang mereka lakukan. Biasanya, akan diperoleh catatan aktivitas yang sangat
panjang.
Panjangnya catatan tersebut juga menimbulkan masalah. Di satu sisi, makin
banyak jumlah aktivitas yang dimasukkan ke dalam sistem ABC, makin akurat
perlakuan terhadap biaya. Sebaliknya, diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk
merancang, menerapkan, memelihara, dan menggunakan sistem yang kompleks yang
melibatkan sejumlah besar aktivitas. Konsekuensinya, catatan aktivitas yang panjang
tersebut dikurangi dengan menggabungkan aktivitas-aktivitas yang sejenis.
Sebagai contoh, beberapa aktivitas dalam penanganan dan pemindahan bahan baku —
mulai dari menerima bahan baku dari area bongkar muat dan menyortirnya untuk
dimasukkan ke gudang. Seluruh aktivitas ini dapat digabungkan menjadi satu
aktivitas yang disebut penanganan material.
Ketika
mengombinasikan aktivitas dalam sistem ABC, aktivitas seharusnya digabung
bersamaan pada level yang sesuai. Aktivitas tingkat batch tidak seharusnya dikombinasikan
dengan aktivitas tingkat unit atau aktivitas tingkat produk dengan tingkat batch dan selanjutnya. Secara umum, cara
terbaik untuk mengombinasikan aktivitas-aktivitas tersebut yang mempunyai
hubungan sama satu dengan lainnya dalam satu tingkatan. Sebagai contoh,
penerimaan sejumlah pesanan pelanggan sangat terkait dengan jumlah pesanan yang
terselesaikan, jadi dua batch tingkat aktivitas ini (menerima dan
mengirim pesanan) biasanya dapat dikombinasikan dengan kehilangan sedikit akurasi.
2)
Membebankan
biaya overhead ke pul biaya aktivitas.
Alokasi tahap «pertama biasanya
berdasarkan hasil tanya jawab dengan pegawai yang terkait langsung dengan
aktivitas. Sebagai contoh, Classic Brass perlu mengalokasikan $500.000 upah
pabrik tidak langsung ke dalam lima pul biaya aktivitas. Alokasi ini akan lebih
akurat jika karyawan yang diklasifikasikan sebagai tenaga kerja tidak langsung
(supervisor, teknisi, dan tenaga inspeksi kualitas) ditanya berapa persentase
waktu yang digunakan untuk pesanan pelanggan, desain produk, jumlah pesanan dan
berhubungan dengan pelanggan. Wawancara ini harus dilakukan dengan hati-hati.
Mereka yang diwawancarai harus memahami sepenuhnya apa aktivitas yang menjadi
tanggung jawabnya dan apa yang mereka harapkan dari wawancara tersebut.
Selanjutnya, manajer departemen diwawancarai untuk menentukan bagaimana biaya-
biaya yang tidak berkaitan dengan karyawan akan didistribusikan ke dalam pul
biaya aktivitas.
3)
Menghitung tarif aktivitas.
Tarif aktivitas yang akan digunakan untuk pembebanan biaya
overhead ke produk dan diharapkan diproduksi perusahaan untuk bauran produk
saat ini dan untuk melayani pelanggannya saat ini. Sebagai contoh, tim ABC
menemukan bahwa 400 desain produk baru dibutuhkan setiap tahun untuk melayani
pelanggan perusahaan saat ini Tarif aktivitas dihitung dengan membagi total biaya untuk masing-masing
aktivitas dengan total aktivitasnya.
4)
Membebankan
biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas dan ukuran aktivitas.
Langkah ke empat dalam penerapan ABC disebut alokasi tahap
kedua (second-stage
alocation).
Dalam alokasi tahap kedua, tarif aktivitas digunakan untuk membebankan biaya
produk dan pelanggan. Pertama, kita akan mengilustrasikan bagaimana membebankan
biaya ke produk yang
ada di contoh dan kemudian bagaimana membebankan biayanya kepada pelangganLangkah ke empat dalam penerapan ABC disebut alokasi tahap kedua (second-stage alocation).
ada di contoh dan kemudian bagaimana membebankan biayanya kepada pelangganLangkah ke empat dalam penerapan ABC disebut alokasi tahap kedua (second-stage alocation).
Fokus dari sistem ABC adalah
aktivitas sehingga identifikasi aktivitas menjadi langkah pertama dalam ABC.
Aktivitas merupakan tindakan-tindakan yang harus diambil atau setiap pekerjaan
yang dilakukan. Setelah teridentifikasi, dicari atribut aktivitas untuk
menjelaskan dan mengklasifikasikan aktivitas lebih lanjut. Atribut aktivitas (activity attribute) adalah jenis informasi keuangan
maupun non keuangan yang menggambarkan setiap aktivitas. Atribut aktivitas
digunakan untuk mengelompokkan aktivitas terkait ke dalam kelompok-kelompok
yang menjadi landasan bagi pengelompokan biaya sejenis. Aktivitas yang berkaitan
dikelompokkan untuk membentuk kumpulan sejenis yang: (a) secara logika
berkolerasi dan (b) memiliki rasio konsumsi yang sama untuk setiap produk.
5)
Menyiapkan
laporan manajemen.
Laporan manajemen umumnya yang dibuat dengan data ABC adalah
produk dan profitabilitas pelanggan. Laporan ini membantu
perusahaan menghubungkan sumber dayanya pada kesempatan pertumbuhan yang lebih
menguntungkan sedangkan dengan waktu yang sama memperbaiki produk dan pelanggan
yang dapat menghasilkan laba. Kita memulai dengan mengilustrasikan suatu
laporan profitabilitas sebuah produk kemudian diikuti oleh laporan
profitabilitas pelanggan.
Tim ABC menyadari bahwa laba dari sebuah produk, disebut
margin produk, adalah fungsi dari penjualan produk dan biaya langsung dan tidak
langsung yang menyebabkan sebuah produk. Alokasi biaya ABC hanya meringkas
tiap-tiap biaya tidak langsung produk (overhead). Sehingga, untuk menghitung
laba sebuah produk (margin produk), tim desain perlu untuk mengumpulkan
tiap-tiap penjualan produk dan biaya langsung sebagai tambahan ke biaya
overhead yang telah dihitung sebelumnya.
Setelah mengumpulkan data di atas, tim desain membuat laporan
profitabilitas produk. Laporan menyajikan bahwa tiang penyangga standar lebih
menguntungkan, dengan margin produk positif
atau negatif, dimana compass housing khusus tidak menguntungkan,
dengan margin produk negatif perhatikan bahwa laporan profitabilitas produk
tidak menyertakan pul biaya aktivitas hubungan pelanggan dan pul biaya
aktivitas lainnya. Biaya hubungan pelanggan diakibatkan oleh pelanggan, bukan
oleh produk. Biaya lainnya seperti biaya pemeliharaan organisasi dan kapasitas
menganggur tidak diakibatkan oleh produk khusus.
2.5 Perbandingan Traditional Costing dan Activity
Based Costing
Menurut (Tunggal 2000, Lambert dan Whitworth 1996; dalam Adi,
2005) memberikan gambaran tentang perbedaan antara penggunaan sistem ABC dan
sistem biaya tradisional antara lain:
Keterangan
|
Activity Basic Costing
|
Sistem
Tradisional
|
Dasar
Alokasi
|
Aktivitas
|
Unit
produksi, Jam Tenaga kerja, dsb
|
Fokus
Pengukuran
|
Biaya,
kualitas, skala produk, data keuangan dan waktu
|
Kinerja
keuangan jangka pendek
|
Klasifikasi
biaya
|
Biaya
variabel jangka pendek, biaya variabel jangka panjang dan biaya tetap
|
Biaya
variabel dan biaya tetap
|
Tim ABC menggunakan proses dua langkah untuk
membandingkan biaya produk tradisional dan ABC. Pertama, tim menyajikan margin
produk yang dilaporkan dengan sistem biaya tradisional. Kemudian, dibandingkan
perbedaannya antara produk margin tradisional dan ABC.
Perhitungan Margin Produk dengan
Sistem Biaya Tradisional
Sistem biaya tradisional di Classic Brass membebankan
hanya biaya produksi ke dalam produk - hal ini termasuk bahan baku langsung,
tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik. Biaya penjualan dan administrasi tidak dibebankan ke produk. Pertama,
penjualan dan bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung menggunakan jumlah
yang sama seperti yang digunakan tim ABC. Dengan kata lain, sistem biaya
tradisional dan sistem ABC memperlakukan tiga jenis data dari pendapatan dan biaya adalah sama jumlahnya.
Kedua, sistem biaya tradisional menggunakan tarif tunggal
overhead untuk membebankan biaya overhead pabrik ke produk pembilang untuk
tarif tunggal overhead dimana jumlah overhead pabrik yang ditampilkan di laporan
laba rugi.
Tarif tunggal Overhead = Total estimasi overhead
pabrik
Total
estimasi jam mesin
Ada tiga alasan
mengapa sistem biaya tradisional dan ABC melaporkan margin produk yang berbeda.
Pertama, sistem biaya tradisional Classic Brass mengalokasikan semua biaya
overhead pabrik ke produk. Hal ini mengakibatkan produk untuk menyerap semua
overhead pabrik tanpa memandang .apakah mereka benar-benar dipakai dalam biaya
atau hanya dialokasikan saja. Sistem ABC tidak membebankan biaya overhead
pabrik yang digunakan oleh aktivitas hubungan pelanggan ke dalam produk karena
biaya ini diakibatkan oleh pelanggan, bukan produk tertentu. Juga tidak
membebankan biaya overhead pabrik yang masuk dalam aktivitas lainnya ke dalam
produk karena biaya pemeliharaan organisasi dan biaya kapasitas menganggur
tidak diakibatkan oleh produk tertentu. Dari sisi ABC, membebankan biaya ini ke
dalam produk tidak dapat dinalar dan tidak produktif.
Kedua, sistem biaya
tradisional di Classic Brass mengalokasikan semua biaya overhead pabrik
menggunakan dasar alokasi volume—jam mesin—yang mungkin atau tidak mungkin
merefleksikan.
Kalkulasi Biaya Produk
Tradisional
Dalam sistem biaya tradisional, hanya penggerak aktivitas
tingkat unit yang digunakan untuk membebankan biaya pada produk. Penggerak
aktivitas tingkat unit (unit level activity driver) adalah faktor-faktor yang menyebabkan
perubahan biaya sebagai akibat perubahan unit yang diproduksi. Dengan hanya
menggunakan penggerak tingkat unit, diasumsikan biaya overhead yang
dikonsumsi oleh produk berkorelasi tinggi dengan
jumlah unit yang diproduksi. Penggerak aktivitas berdasarkan unit membebankan biaya overhead ke produk melalui
tarif pabrik secara menyeluruh maupun
departemental. Penggerak tingkat unit yang biasa digunakan antara lain:
Ø Unit yang diproduksi.
Ø Jumlah jam tenaga kerja langsung.
Ø Jumlah upah tenaga kerja langsung.
Ø Jumlah jam mesin.
Ø Jumlah bahan baku.
Setelah menentukan penggerak tingkat unit, langkah selanjutnya adalah memperkirakan tingkat output aktivitas yang akan diukur, yaitu melalui tingkat aktivitas yang diharapkan dan tingkat aktivitas normal. Tingkat aktivitas yang diharapkan adalah ouput yang diharapkan akan dicapai perusahaan di masa yang akan datang, sedangkan tingkat aktivitas normal adalah output aktivitas rata-rata yang merupakan pengalaman perusahaan dalam jangka panjang. Aktivitas normal memiliki keunggulan berupa penggunaan tingkat aktivitas yang sama dari tahun ke tahun sehingga fluktuasi pembebanan biaya overhead per unit dari tahun ke tahun relatif rendah.
Contoh Kasus:
Amanah Corporation, sebuah perusahaan telekomunikasi,
memproduksi dua jenis telepon, yaitu telepon reguler dan telepon tanpa kabel.
Berikut adalah data estimasi dan data aktual
tahun 2006:
Diasumsikan Amanah Corp. memiliki dua divisi produksi, yaitu
pabrikasi dan perakitan. Divisi
pabrikasi bertanggungjawab untuk membuat komponen elektronik utama. Bagian-bagian lainnya dibeli dari pemasok. Semua
komponen kemudian dirakit di
divisi perakitan. Mempertimbangkan bahwa divisi pabrikasi bersifat intensif mesin sedangkan divisi perakitan cenderung intensif tenaga
kerja, maka Amanah Corp. mendasarkan tarif
overhead departemental pada jam mesin untuk pabrikasi dan pada jam tenaga kerja langsung untuk
perakitan. Berikut ini adalah data departemental untuk tahun 2006:
Dari hasil perhitungan di atas terlihat bahwa sistem tarif
pabrik menyeluruh dan tarif departemental menghasilkan biaya per unit yang
berbeda untuk telepon reguler dan telepon tanpa
kabel. Namun perbedaan antara biaya per unit telepon reguler yang diproduksi secara massal dan telepon tanpa kabel
yang diproduksi dalam jumlah yang jauh lebih
sedikit tidak terpaut terlalu jauh.
Keterbatasan Sistem Akuntansi
Tradisional
Seringkali organisasi mengalami hal-hal tertentu yang
mengindikasikan bahwa sistem akuntansi biaya sudah
ketinggalan jaman, contohnya:
Ø Hasil dari penawaran bisnis sulit dijelaskan.
Ø Harga pesaing tampak begitu rendah dan tidak masuk akal.
Ø Produk-produksi yang memiliki tingkat kesulitan tinggi
menunjukkan laba
yang tinggi.
yang tinggi.
Ø Manajer operasional ingin menghentikan produksi dari
produk-produknya
yang tampaknya menguntungkan.
yang tampaknya menguntungkan.
Ø Marjin laba sulit untuk dijelaskan.
Ø Perusahaan memiliki ceruk pasar yang nampaknya hanya memberi
laba tinggi pada perusahaan sendiri.
Ø Pelanggan tidak mengeluh atas kenaikan harga produk-produk
khusus.
Ø Departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk memberikan
data biaya bagi produk khusus.
Ø Beberapa departemen menggunakan sistem akuntansinya sendiri
Ø Biaya produk berubah karena perubahan peraturan pelaporan
keuangan.
Organisasi yang menerapkan sistem biaya tradisional dengan menggunakan tarif overhead pabrik atau departemen seringkali mengalami hal-hal yang disebutkan di atas. Setidaknya ada dua faktor utama yang menyebabkan kegagalan sistem biaya tradisional:
1.
Menggunakan
hanya penggerak biaya aktivitas berdasar unit untuk membebankan biaya overhead yang tidak berkaitan dengan unit akan menimbulkan distorsi biaya produk. Padahal ada banyak penggerak biaya
aktivitas berdasarkan non unit (non unit based activity cost driver) yang berperan dalam konsumsi biaya overhead, antara lain: penerimaan pesanan, set up, rekayasa teknik, inspeksi, dll.
aktivitas berdasarkan non unit (non unit based activity cost driver) yang berperan dalam konsumsi biaya overhead, antara lain: penerimaan pesanan, set up, rekayasa teknik, inspeksi, dll.
2. Adanya
keragaman produk (product diversity)
yang berarti bahwa masing-masing produk mengkonsumsi aktivitas overhead dalam proporsi yang berbeda.
Activity Based Costing (ABC)
Sistem biaya berdasar aktivitas menelusuri biaya aktivitas
dan kemudian ke produk. Tidak seperti sistem tradisional, ABC menekankan
penelusuran langsung dan penelusuran penggerak dengan
menekankan hubungan sebab akibat. ABC menggunakan penggerak biaya
aktivitas berdasarkan unit maupun non unit. Ada dua prosedur yang digunakan untuk menerapkan ABC, yaitu:
Prosedur Tahap I:
1.
Identifikasi
aktivitas.
2.
Biaya-biaya
dibebankan ke aktivitas.
3.
Aktivitas yang
berkaitan dikelompokkan untuk membentuk kumpulan sejenis
yang: (a) secara logika berkolerasi dan (b) memiliki rasio konsumsi yang sama untuk setiap produk.
yang: (a) secara logika berkolerasi dan (b) memiliki rasio konsumsi yang sama untuk setiap produk.
4.
Biaya
aktivitas yang dikelompokkan dijumlah untuk mendefinisikan
kelompok biaya sejenis.
kelompok biaya sejenis.
5.
Tarif overhead
kelompok dihitung.
Prosedur tahap II:
Biaya dari setiap kelompok overhead ditelusur ke produk.
Kumpulan
aktivitas diklasifikasikan menjadi salah satu dari empat kategori umum aktivitas berikut ini:
Ø Tingkat unit: aktivitas yang dilakukan setiap suatu unit
diproduksi. Contoh: pengujian produk.
Ø Tingkat batch: aktivitas yang dilakukan setiap suatu batch
barang diproduksi. Contoh: persiapan, pemeriksaan, jadwal produksi, penanganan bahan.
Ø Tingkat produk: aktivitas yang dilakukan untuk mendukung
berbagai produk yang diproduksi perusahaan. Contoh: perubahan rekayasa, pengembangan prosedur pengujian produk, pemasaran produk, rekayasa produk.
Ø Tingkat fasilitas: aktivitas yang menopang proses umum manufaktur
suatu pabrik. Contoh: manajemen pabrik, landscaping, keamanan, pajak kekayaan, dan penyusutan pabrik.
Dengan menggunakan kasus Amanah Corporation, berikut ini
adalah informasi tambahan terkait dengan rincian aktivitas yang dilakukan
selama proses produksi.
Hasil
kalkulasi biaya produk dengan menggunakan ABC menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan kalkulasi produk menggunakan tarif pabrik maupun tarif departemental. Dengan ABC, biaya telepon tanpa kabel jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan biaya
telepon reguler, yakni lebih dari dua kali lipatnya. Bandingkan dengan kalkulasi
menggunakan tarif pabrik maupun tarif departemental yang menghasilkan biaya telepon
tanpa kabel dan biaya telepon reguler yang tidak terpaut terlalu jauh.
Sistem
ABC memperbaiki keakuratan biaya produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead
tetap ternyata bervariasi secara proporsional dengan perubahan selain volume
produksi. Dengan memahami penyebab perubahan, biaya tersebut dapat ditelusuri ke
masing-masing produk. Hubungan sebab akibat ini memungkinkan manajer untuk
memperbaiki ketepatan perhitungan biaya produk yang kemudian dapat secara
signifikan memperbaiki kualitas pengambilan keputusan.
Pengetahuan
tentang perilaku biaya juga memungkinkan manajer untuk melakukan pengendalian aktivitas dengan
lebih baik. Hal ini memungkinkan manajer untuk mengidentifikasi aktivitas mana
yang memberi nilai tambah dan aktivitas mana yang tidak. Analisis nilai ini dapat
menjadi dasar untuk perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement).
2.6 Kekuatan
dan Kelemahan Activity Based Costing
Menurut (Bloclier, Chen, dan Lin: 2007) ada tiga yang menjadi kelebihan
dalam Activity Based Costing antara lain:
1. Pengukuran profitabilitas yang lebih baik, ABC menyajikan biaya produk yang
lebih akurat dan informatif, mengarahkan pada pengukuran profitabilitas produk yang lebih akurat dan keputusan strategis yang diinformasikan
dengan lebih baik tentang penerapan harga jual, lini produk dan segmen pasar.
2. Keputusan dan kendali yang lebih baik. ABC menyajikan pengukuran yang
lebih akurat tentang biaya yang timbul karena dipicu oleh aktivitas, membantu
manajemen untuk meningkatkan nilai produk dan nilai proses dengan membuat
keputusan yang lebih baik tentang desain produk, mengendalikan biaya secara
lebih baik, dan membantu perkembangan proyek-proyek yang meningkatkan nilai.
3. Informasi yang lebih baik untuk mengendalikan biaya kapasitas, ABC membantu
manajer mengidentifikasikan dan mengendalikan biaya kapasitas yang tidak
terpakai.
Terdapat beberapa keterbatasan dalam menggunakan
sistem Activity Based Costing antara lain:
1.
Mengabaikan biaya.
Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi sistem ABC cenderung tidak mencakup
seluruh biaya yang berhubungan dengan produk atau jasa tersebut. Biaya produk
atau jasa biasanya tidak termasuk biaya untuk aktivitas seperti pemasaran, pengiklanan,
penelitian dan pengembangan, dan rekayasa produk, meski sebagian dari
biaya-biaya ini menyebabkan biaya tersebut. Contohnya adalah biaya pendukung
fasilitas seperti biaya sistem informasi, gaji manajer pabrik, dan pajak
bumi&bangunan untuk pabrik
karena
prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk pelaporan keuangan mengharuskan
biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik.
2.
Mahal dan menghabiskan
waktu. Sistem ABC tidak murah dan membutuhkan banyak waktu untuk dikembangkan
dan dilaksanakan. Untuk perusahaan dan organisasi yang telah menggunakan sistem
perhitungan biaya tradisional berdasarkan volume, pelaksanaannya suatu sistem
baru ABC cenderung sangat mahal. Lagipula, seperti sebagian besar sistem
akuntansi dan manajemen yang inovatif, biasanya diperlukan waktu setahun atau
lebih untuk mengembangkan dan melaksanakan ABC dengan sukses.
2.7 Perhitungan Biaya berdasarkan
Aktivitas dan Laporan Eksternal
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (ABC) umumnya menyediakan data lebih akurat dibandingkan dengan
sistem biaya tradisional, mengapa tidak digunakan
untuk laporan eksternal? Beberapa perusahaan memang menggunakan perhitungan
biaya ABC untuk membuat laporan eksternal, tetapi sebagian besar tidak
melakukannya. Ada banyak alasan yang pertama, laporan eksternal kurang
terperinci dibandingkan laporan internal yang disiapkan untuk pembuatan
keputusan. Pada laporan eksternal, biaya produk individual tidak dilaporkan.
Harga pokok penjualan dan penilaian persediaan diungkapkan tetapi tidak dipilah
per jenis produk. Jika beberapa produk dihargai terlalu rendah atau terlalu
tinggi, kesalahan tersebut cenderung membatalkan satu sama lain bila biaya
produk dijadikan satu.
Kedua, sangat sulit untuk melakukan perubahan sistem
akuntansi perusahaan. Sistem resmi akuntansi biaya perusahaan biasanya berupa
program komputer yang rumit dan telah dimodifikasi sendiri setelah dijalankan
selama beberapa tahun. Jelas sangat sulit untuk melakukan perubahan program
komputer tanpa mengorbankan sumber daya.
Ketiga, sistem ABC seperti yang digambarkan dalam bab
ini tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU—GAAP).
Seperti yang sudah dibahas di Bab 2,3, dan 4, perhitungan biaya produksi untuk
laporan eksternal harus memasukkan seluruh biaya produksi dan hanya biaya
produksi saja; tetapi dalam sistem ABC tidak memasukkan seluruh biaya produksi
dan memasukkan beberapa biaya nonproduksi. Mungkin saja pada akhir periode
melakukan penyesuaian data ABC untuk menyesuaikan dengan PABU tetapi perlu
kerja keras untuk itu.
Keempat, auditor biasanya tidak menyukai alokasi yang
didasarkan pada wawancara dengan karyawan perusahaan. Data subjektif seperti
itu dapat dengan mudah dimanipulasi oleh manajemen untuk menciptakan pendapatan
yang lebih besar.
Untuk semua alasan ini, kebanyakan perusahaan
membatasi ABC pada studi untuk manajemen dan tidak akan menggabungkan ABC ke
dalam sistem akuntansi biaya yang formal.
Klasifikasi
biaya berdasarkan fungsinya adalah klasifikasi yang diperlukan untuk membuat
laporan eksternal. Dalam menyiapkan laporan, biaya dipisahkan ke dalam biaya
produksi dan biaya penjualan/ administrasi. Hal ini dikarenakan biaya produksi
dianggap sebagai biaya produk dan diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi
bila produk tersebut terjual dan yang melekat pada produk yang tidak terjual
dilaporkan sebagai persediaan di neraca. Biaya penjualan dan administrasi
dianggap sebagai bagian dari periode tersebut dan oleh karenanya dianggap
sebagai biaya periode dan harus dikurangkan pada setiap periode sebagai beban
sehingga tidak muncul pada neraca.
Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi mewakili jumlah biaya barang yang
diselesaikan pada periode tersebut. Satu-satunya biaya yang diberikan pada
barang yang diselesikan adalah biaya produksi dari bahan baku langsung, tenaga
kerja langsung dan biaya lain-lain. Rinciannya dilaporkan dalam laporan Harga
Pokok Produksi. Berikut contoh
laporan harga pokok produksi untuk
perusahaan manufaktur:
Bahan
Langsung:
|
||
Persediaan Awal
|
200.000,00
|
|
Ditambah Pembelian
|
450.000,00
|
|
Bahan Yang Tersedia
|
650.000,00
|
|
Dikurangi Persediaan Akhir
|
(50.000,00)
|
|
Bahan
Langsung Yang Terpakai
|
600.000,00
|
|
Tenaga
Kerja Langsung
|
350.000,00
|
|
Overhead
Manufaktur:
|
||
Tenaga Kerja Tidak Langsung
|
122.500,00
|
|
Penyusutan
|
177.500,00
|
|
Sewa
|
50.000,00
|
|
Utilitas
|
37.500,00
|
|
Pajak Properti
|
12.500,00
|
|
Pemeliharaan
|
50.000,00
|
|
Jumlah Biaya Overhead Manufaktur
|
450.000,00
|
|
Total
Tambahan Biaya Manufaktur
|
1.400.000,00
|
|
Ditambah Barang Dalam Proses
Awal
|
200.000,00
|
|
Total
Biaya Manufaktur
|
1.600.000,00
|
|
Dikurangi Barang Dalam
Proses Akhir
|
400.000,00
|
|
Harga
Pokok Produksi
|
1.200.000,00
|
Harga Pokok Penjualan
Harga
pokok penjualan adalah biaya dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung
dan biaya lain-lain yang terkait dengan unit penjualan. Untuk dapat menghitung
harga pokok penjualan harus dihitung lebih dulu harga pokok produksi.
Barang Dalam Proses
Barang Dalam Proses
Barang
dalam proses merupakan barang setengah jadi yang terdapat pada produksi pada
saat tertentu. Persediaan awal barang dalam proses terdiri dari barang setengah
jadi yang dimiliki pada awal periode. Biaya persediaan awal barang dalam proses
mewakili biaya biaya produksi yang dibwa dari periode sebelumnya. Biaya
tambahan diperlukan untuk menyelesaikan barang dalam proses tersebut pada
periode berjalan.
Persediaan
akhir barang dalam proses merupakan jumlah barang setengah jadi yang dimiliki
pada akhir periode. Biaya persediaan akhir barang dalam proses adalah biaya
yang mewakili biaya produksi yang akan dibawa ke periode berikutnya. Dalam hal
ini biaya produksi tambahan diperlukan untuk menyelesaikan produk dalam proses tersebut.pada
periode berikutnya.
Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur
Laporan
Laba Rugi yang didasarkan pada klasifikasi fungsional mengikuti format
tradisional. Artinya, Pendapatan dihitung dengan mengikuti klasifikasi
fungsional yang mengacu pada perhitungan pendapatan-biaya absorbsi atau
perhitungan pendapatan-biaya menyeluruh karena semua biaya produksi seluruhnya
dibebankan pada produk. Berdasarkan perhitungan pendapatan-biaya menyeluruh
(absorbsi), pengeluaran dipisahkan berdasarkan fungsi dan kemudian dipotongkan
pada keuntungan untuk memperoleh penghasilan sebelum pajak. Laporan memuat
Ringkasan, harga pokok penjualan dan biaya operasi yang masing-masing
dikeluarkan untuk produksi dan non produksi.
Laporan Laba Rugi Perusahaan Jasa
Pada organisasi jasa, harga pokok penjualan jasa
dihitung dengan cara berbeda dengan harga pokok penjualan pada perusahaan
manufaktur. Perusahaan jasa tidak memiliki persediaan barang jadi. Dengan
demikian harga pokok penjualan jasa akan selalu berhubungan dengan harga pokok
produksi. Namun dalam beberapa kasus, perusahaan jasa dimungkinkan untuk
memiliki barang dalam proses, misalnya seorang ortodentis bisa saja memiliki
sejumlah pasien pada berbagai tahapan proses pemasangan kawat gisi atau seorang
desainer memiliki beberapa gambar yang sedang dalam proses pengerjaan.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan dapat
disimpulkan bahwa Perhitungan Biaya
Berdasarkan Aktivitas:
Ø Merupakan
sistem perhitungan biaya dimana tempat penampungan biaya overhead yang
lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebih
faktor yang tidak berkaitan dengan volume.
Ø Mewakili
penerapan penelusuran biaya yang lebih menyeluruh.
Ø Mengakui
bahwa banyak biaya lain yang pada kenyataannya dapat ditelusuri tidak ke
unit output, tapi ke aktivitas yang diperlukan untuk memproduksi output.
Sedangkan perhitungan biaya tradisional menelusuri
hanya biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung ke setiap
unit output.
1. Dengan menerapkan
sistem ABC, maka manajemen akan dapat merencanakan proses secara rinci dan
akurat (waktu penyelesaian produk dan harga pokok yang mengikutinya)
2. Analisa prediksi
profit/loss proses pada bulan berjalan yang lebih akurat, sehingga akan
membantu manajemen untuk segera mengambil tindakan strategis yang perlu.
3. Penelusuran penyebab
loss/profit pada akhir bulan/periode analisa yang akurat, berdasarkan jenis
produk dan faktor produksi (material,
jam kerja yang digunakan dan bila memungkinkan hari dan jam terjadinya
kerugian, departemen dan personil yang bertanggung jawab, dll.)
DAFTAR PUSTAKA
A Santoso. 2015. Perkembangan Akuntansi
Manajemen (Online). (e-journal.uajy.ac.id/8321/3/EA218915.pdf, diakses 21 Desember 2016).
Anthony, R.N., dan Govindarajan, V. 2001. Management Control
Systems. Tenth
Edition. New York: McGraw-Hill Irwin.
Edition. New York: McGraw-Hill Irwin.
Arman Ali. 2013. Tugas
Akuntansi Manajemen (Online). (http://doc-bukanbasabasi.blogspot.co.id/ diakses, 21 Desember
2016).
Blocher,
Edwar J, Chen, Khung H, Cokins, Gary, Lin Thomas W. 2007. Manajemen Biaya Penekanan Strategis, Edisi Ketiga. Jakarta :
Salemba Empat.
Eka Nicho. 2014. Pengertian
Akuntansi Manajemen (Online). (http://nichonotes.blogspot.co.id, diakses 21
Desember 2016).
Garrison,
Ray H. 1991. Managerial Accounting.
6th Edition. Richard D. Irwin.
Garrison, Ray H, Norren, Brewer. 2013.
Akuntansi Manajerial. Jakarta: Salemba
Empat.
Hansen, Don.R dan Maryanne M. Mowen. 2009. Akuntansi Manajerial. Volume dua. Edisi Kedelapan. Jakarta: Salemba
Empat.
Halim,
Abdul,dkk. 2014. Akuntansi Manajemen
(Akuntansi Manajerial). Yogyakarta: BPFE.
Muliyadi.2003.
Activity Based Cost System – Sistem
Informasi Biaya untuk Pengurangan Biaya Edisi ke 6. Yogyakarta: UPP AMP
YKPN.
Rayburn, L.G. Akuntansi
Biaya: dengan Menggunakan Pendekatan Manajemen
Biaya. Edisi 6. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Biaya. Edisi 6. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Suedi, Bambang. 2012. Peranan Akuntansi Manajemen
dalam Pengambilan Keputusan Manajerial. Semarang: Jurnal Stie Semarang Vol.4, No. 2, Edisi Juni 2012.
Sugiri, S., dan Sulastiningsih. 2004. Akuntansi Manajemen:
Sebuah Pengantar. Edisi Ketiga.
Yogyakarta: UPP AMP YKPN.











No comments:
Post a Comment