Thursday, January 12, 2017

PENERAPAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang
Dalam era globalisasi dan ditunjang perkembangan dunia usaha yang semakin pesat mengakibatkan naiknya persaingan bisnis. Masing-masing perusahaan saling beradu strategi dalam usaha menarik konsumen. Persaingan tersebut tidak hanya persaingan bisnis dibidang manufaktur/industri tetapi juga dibidang usaha pelayanan jasa.
Dalam menentukan harga pokok produksi yang masih menggunakan akuntansi biaya tradisional. Biaya produk yang dihasilkan oleh sistem akuntansi biaya tradisional memberikan informasi biaya yang distorsi. Distorsi timbul karena adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya, sehingga mengakibatkan kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan dan pengendalian. Distorsi tersebut juga mengakibatkan undercost/overcost terhadap produk.
Berkembangnya ilmu pengetahuan pada awal 1900an melahirkan suatu sistem penentuan harga pokok produk berbasis aktivitas yang dirancang untuk mengatasi distorsi pada akuntansi biaya tradisional. Sistem akuntansi ini disebut Activity Based Costing.
Perbedaan utama penghitungan harga pokok produksi antara akuntansi biaya tradisional dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu biaya) yang digunakan. Dalam sistem penentuan harga pokok produk dengan metode ABC menggunakan cost driver dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan akuntansi biaya tradisional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan unit.
Dalam metode ABC, menganggap bahwa timbulnya biaya disebabkan oleh adanya aktivitas yang dihasilkan produk. Pendekatan ini menggunakan cost driver yang digunakan dalam pembebanan biaya overhead, sehingga dalam metode ABC dapat meningkatkan ketelitian dalam perincian biaya, dan ketepatan pembebanan biaya lebih akurat.
Dalam menerapkan metode ABC untuk menentukan biaya harga pokok produksi tidaklah mudah, karena manajemen harus dapat menentukan cost driversehingga jumlah cost driver tersebut tidak melebihi nilai manfaatnya.Untuk itulah, masalah tersebut akan dibahas dalam makalah yang berjudul “Penerapan Activity Based Costing”.

1.2         Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka penyusun mengidentifikasi masalah dalam penerapan activity based costing, sebagai berikut :
1.      Bagaimana metode Activity Based Costing diterapkan ?
2.      Apa kelebihan dan kekurangan dari metode Activity Based Costing? 

1.3         Tujuan Penulisan
Dengan telah menetapkan rumusan masalah di atas, maka diharapkan mampu memahami:
1.      Penerapan dari metode Activity Based Costing
2.      Kelebihan dan kekurangan dari metode Activity Based Costing




BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.       Pengertian Activity Based Costing
            Activity Based Costing(ABC) merupakan metode yang menerapkan konsep-konsep akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat.
Metode ABC menyajikan lebih dari sekedar informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke obyek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi.
Garisson dan Norren (2000 : 292) mendefinisikan sebagai berikut “Metode costing yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk keputusan strategik dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap”.
            Sedangkan menurut Mulyadi (1993 : 34) memberikan pengertian ABC sebagai berikut : “ABC merupakan metode penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) yang ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok secara cermat bagi kepentingan manajemen, dengan mengukur secara cermat konsumsi sumber daya alam setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk”.

2.2.       Konsep Dasar Activity Based Costing
            ABC menyediakan informasi mengenai perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost-driver) yakni, bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi. Aktivitas-aktivitas ini menjadi titik perhimpunan biaya. Dalam sistem ABC, biaya ditelusuri ke aktivitas dan kemudian ke produk. ABC mengasumsikan bahwa aktivitas-aktivitaslah yang mengkonsumsi sumber daya bukan produknya.

2.3.       Kelebihan dan Kelemahan Activity Based Costing
            Metode ABC telah dikenal luas dan diterapkan karena beberapa kelebihan yang dimilikinya, antara lain :
a.      Memudahkan manajemen untuk mendapatkan informasi Product-Cost Assignment secara akurat.
b.      Membantu manajemen menelusuri dan mengidentifikasi cost driver ke dalam Pool Activity.
c.      Mempermudah aktivitas perencanaan dan pengendalian overhead cost dengan adanya “Cost Pooling Actvity”.
d.      Memberikan peluang untuk melakukan design “Cost Reduction Activity” terhadap produk yang akan diproduksi.
e.      Meningkatkan kemampuan manajemen dalam menyusun cash flow perusahaan dengan memisahkan biaya ke dalam “Cost Pooling Activity”.

Disamping terdapat kelebihan ABC, juga memiliki beberapa kelemahan yang pada umumnya cenderung dihadapi oleh manajemen, yaitu :
a.      Di dalam implementasinya, ABC relatif lebih sulit direalisasikan karena manajemen harus benar-benar cermat mengidentifikasi cost-driver – cost-driver ke dalam Cost Pooling Activity.
b.      Dalam implementasinya sering mengabaikan aktivitas proses produksi karena tuntutan adanya usaha Cost Reduction Activity.
c.      Penerapan ABC cenderung menimbulkan pertentangan antara manajemen dengan pekerja dengan adanya Cost Efficiency yang amat ketat.
d.      Karena Laporan Keuangan sifatnya timeliness maka ABC sulit dilaksanakan karena adanya kendala periode waktu.

Manfaat metode ABC bagi pihak manajemen perusahaan adalah :
a.      Metode ABC dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif.
b.      Pihak manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.
c.      Metode ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan (management decision making). Hal ini didasarkan bahwa dengan akurasi perhitungan biaya produk yang menjadi sangat penting dalam iklim kompetisi dewasa ini.
d.      Mendukung perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement), melalui analisa aktivitas, metode ABC memungkinkan tindakan eliminasi atau perbaikan terhadap aktivitas yang tidak bernilai tambah atau kurang efisien.
e.      Memudahkan penentuan biaya-biaya yang kurang relevan (Cost Reduction), pada sistem tradisional, banyak biaya-biaya yang kurang relevan tersembunyi. Metode ABC yang transparan menyebabkan sumber-sumber biaya tersebut dapat diketahui dan dieliminasi.
f.       Dengan analisis biaya yang diperbaiki, pihak manajemen dapat menganalisa dengan lebih akurat volume produksi yang diperlukan untuk mencapai impas (break even) atas produk yang bervolume rendah.

Beberapa keunggulan dari metode ABC dalam penentuan biaya produksi, adalah :
a.      Biaya produksi lebih realistis, khususnya pada industri manufaktur teknologi tinggi, dimana biaya overhead adalah merupakan proporsi yang signifikan dari total biaya.
b.      Semakin banyak overhead dapat ditelusuri ke produk. Analisis metode ABC itu sendiri memberi perhatian pada semua aktivitas, sehingga biaya aktivitas non lantai pabrik dapat ditelusuri.
c.      Metode ABC mengakui bahwa aktivitaslah yang menyebabkan biaya (activities cause cost) bukanlah produk, dan produklah yang mengkonsumsi aktivitas.
d.      Metode ABC memfokuskan perhatian pada sifat riil dari pelaku biaya dan membantu mengurangi biaya dan mengidentifikasi aktivitas yang tidak menambah nilai terhadap produk.
e.      Metode ABC mengakui kompleksitas dari diversitas produksi yang modern dengan menggunakan banyak pemacu biaya.
f.       Metode ABC memberikan suatu indikasi yang dapat diandalkan dari biaya produk variabel jangka panjang (long run variabel product cost) yang relevan dalam terhadap pengambilan keputusan yang strategik.
g.       Metode ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya ke proses, pelanggan, area tanggung jawab manajerial, dan juga biaya produk.

2.4.       Perbandingan antara Akuntansi Biaya Tradisional dengan Metode Activity Based Costing
Beberapa perbandingan antara sistem biaya tradisional dan metode ABC yang dikemukakan oleh Amin Widjaya dalam bukunya “Activity-Based Costing untuk manufakturing dan pemasaran”,  adalah sebagai berikut :
a.      Sistem biaya ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya (cost driver) untuk menentukan seberapa besar konsumsi overhead dari setiap produk. Sedangkan sistem biaya tradisional mengalokasikan biaya overhead secara arbitrer berdasarkan satu atau dua basis alokasi yang non representatif.
b.      Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya tradisional terfokus pada performansi keuangan jangka pendek seperti laba. Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan harga dan profitabilitas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan.
c.      Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya ABC memerlukan masukan dari seluruh departemen persyaratan ini mengarah ke integrasi organisasi yang lebih baik dan memberikan suatu pandangan fungsional silang mengenai organisasi.
d.      Sistem biaya ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil untuk analisis varian dari pada sistem tradisional, karena kelompok biaya (cost pools) dan pemacu biaya (cost driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu ABC dapat menggunakan data biaya historis pada akhir periode untuk menghilang biaya aktual apabila kebutuhan muncul.
e.      Pada sistem biaya tradisional penentuan tarif suatu produk berdasar aktivitas level unit (bahan baku dan tenaga kerja). Sedangkan pada ABC System pembebanan biaya overhead berdasarkan aktivitas berlevel unit maupun non unit sehingga penentuan biaya lebih akurat karena ditelusuri ke masing-masing produk.

2.5.       Mekanisme Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
            Menurut Mulyadi (1993: 94), prosedure pembebanan biaya overhead dengan metode ABC melalui dua tahap kegiatan:
a.         Tahap Pertama
            Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang sejenis atau homogen,terdiri dari 4 langkah :
1.    Mengidentifikasi dan menggolongkan biaya kedalam berbagai aktifitas.
2.    Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas, pada langkah ini biayadigolongkan kedalam aktivitas yang terdiri dari 4 kategori yaitu: Unit level activitycosting, Batch related activity costing, product sustaining activity costing, facilitysustaining activity costing.
                   Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.    Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities)
       Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unitbersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh, menyediakantenaga untuk menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderungdikonsumsi secara proporsiona dengan jumlah unit yang diproduksi.
b.    Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities)
       Aktivitas dilakukan setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit yangada pada batch tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi danpengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel batch.
c.    Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities)
       Aktivitas berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanyadikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang diproduksi ataudijual. Sebagai contoh merancang produk atau mengiklankan produk.
d.    Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities)
       Aktivitas berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasiperusahaan namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan denganvolume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produkyang berbeda. Kategori ini termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor,penyediaan jaringan komputer dan sebagainya.
e.     Mengidentifikasikan Cost Driver maksudnya untuk memudahkan dalampenentuan tarif/unit cost driver
f.     Menentukan tarif/unit Cost Driver
       Adalah biaya per unit Cost Driver yang dihitung untuk suatu aktivitas.



b.        Tahap Kedua
            Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas kemasing-masing produk yang menggunakancost driver.





BAB III
PEMBAHASAN

3.1.       Penentuan Harga Pokok Rawat Inap Menggunakan Activity-Based Costing System Mengidentifikasi dan Mendefinisikan Aktivitas dan Pusat Aktivitas
            Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian keuangan, bagian perawatan, bagiandapur, dan bagian gudang.
Aktivitas-aktivitas biaya yang ada diunit rawat inap meliputi:
1.    Biaya perawatan
2.    Biaya konsumsi pasien
3.    Biaya listrik dan air
4.    Biaya kebersihan
5.    Biaya administrasi
6.    Biaya service
7.    Biaya Asuransi
8.    Biaya penyusutan gedung
9.    Biaya penyusutan fasilitas
10. Biaya laundry

Aktivitas-aktivitas tersebut dikelompokkan menjadi beberapa pusat aktivitas, yaitu:
1.    Aktivitas perawatan pasien
       -    biaya perawat
2.    Aktivitas Pemeliharaan inventaris
       -    biaya depresiasi gedung
       -    biaya depresiasi fasilitas
       -    biaya kebersihan
3.    Aktivitas pemeliharaan pasien
       -    biaya konsumsi
4.    Aktivitas pelayanan pasien
       -    biaya listrik dan air
       -    biaya administrasi
-    biaya bahan habis pakai
-    biaya asuransi
-    biaya laundry

Berikut ini akan dijelaskan mengenai elemen biaya diatas sebagai berikut:
1.    Biaya Perawatan Pasien oleh Perawat
       Dalam hubungannya dengan penetapan tarif kamar rawat inap, biaya perawatanpasien oleh perawat secara tidak langsung turut mempengaruhi aktifitas bagianrawat inap, maka aktivitas ini termasuk dalam kategori unit level activity cost.
       Dialokasikan secara profesional pada setiap tipe kamar
2.    Biaya Penggunaan Tenaga Listrik Dan Air
       Seluruh tipe kamar rawat inap rumah sakit memerlukan tenaga listrik untukmenjalankan peralatan elektronik, untuk penerangan kamar atau fasilitas yangada di masing-masing kamar dan air untuk mandi. Untuk penggunaan listrik danair termasuk kategori unit level activity cost, karena biaya berubah sesuai denganperubahan KWH kamar yang terpakai. Fasilitas yang mengkonsumsi listrikmeliputi: TV, Kulkas, alat pemanas, lampu.
3.    Biaya Konsumsi
       Pasien yang menjalani rawat inap membutuhkan makanan dan minuman untukmempercepat penyembuhan pasien, yang termasuk dalam kategori Unit levelactivity costs, karena tidak tergantung pada lamanya pasien menjalani rawatinap.
4.    Biaya Kebersihan
       Biaya kebersihan adalah biaya dikeluarkan untuk menunjang kebersihanlingkungan rawat inap, sehingga pasien merasa nyaman. Biaya ini termasukdalam kategori Batch related activity costs.
5.    Biaya Administrasi
       Pelayanan administasi diberikan untuk menunjang kelancaran dalam penyediaanaktivitas sarana dan prasarana. Termasuk kategori batch related activity basedcosting.
6.    Biaya Bahan Habis Pakai
       Biaya bahan habis pakai adalah biaya yang digunakan oleh perawat untukpasien, juga paket yang diberikan kepada pasien rawat inap pada hari pertamadirawat di rumah sakit.
7.    Biaya Asuransi
       Keberadaan pasien di kamar rawat inap menyebabkan munculnya biaya asuransisebagai jaminan kesehatan bagi pasien rawat inap. Termasuk dalam kategorifasility sustaining activity cost.
8.    Biaya Penyusutan Gedung/Bangunan
       Biaya penyusutan bangunan merupakan fasilitiy sustaining activity cost karenaseluruh tipe kamar menggunakan bangunan dan pembebanan masing-masingkamar.
9.    Biaya Penyusutan Fasilitas
       Pembebanan penyusutan fasilitas ini berdasarkan masing-masing tipe kamar.Penyusutan fasilitas ini termasuk dalam kategori facility sustaining activity costkarena seluruh tipe kamar menggunakan fasilitas yang ada dalam masing-masingtipe kamar dan pembenannya berdasarkan jumlah hari pakai. Penyusutanfasilitas terdiri dari penyusutan TV, AC, Kulkas, Bed, kipas angin, Alatpemanas.
10. Biaya Laundry
       Aktivitas yang dilakukan untuk menyediakan linen bersih kepada pasien rawatinap seperti sprei, selimut, korden, sarung bantal. 

3.2.    Mengklasifikasi Aktivitas Biaya Kedalam Berbagai Aktivitas
1.         Berdasarkan Unit-Level Activity Cost
            Aktivitas ini dilakukan setiap hari dalam menjalani rawat inap pada RSUD Kab. Pangkep. Aktivitas yang termasuk dalam kategori ini adalah aktivitas perawatan,penyediaan tenaga listrik dan air dan biaya konsumsi.
2.         Berdasarkan Batch-Related Activity Cost
            Besar kecilnya biaya ini tergantung dari frekwensi order produksi yang diolaholeh fungsi produksi. Aktivitas ini tergantung pada jumlah batch produk yang diproduksi. Yaitu biaya administrasi, biaya bahan habis pakai, biaya kebersihan.
3.         Product-Sustaining Activity Cost
            Aktivitas ini berhubungan dengan penelitian dan pengembangan produk tertentudan biaya-biaya untuk mempertahankan produk agar tetap dapat dipasarkan.
Aktivitas ini tidak ditemui dalam penentuan tarif jasa rawat inap pada RSUDKab. Pangkep.
4.         Fasilitas-Sustaining Activity Cost
Aktivitas ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan fasilitasyang dimiliki oleh perusahaan. Aktivitas yang termasuk dalam kategori iniadalah biaya laundry, biaya asuransi, biaya penyusutan gedung, biayapenyusutan fasilitas. 

3.3.       Mengidentifikasi Cost Driver
Setelah aktivitas-aktivitas ini diidentifikasi sesuai dengan kategorinya, langkahselanjutnya adalah mengidentifikasi cost driver dari setiap biaya aktivitas.
Pengidentifikasian ini dimaksudkan dalam penentuan kelompok aktivitas dan tarif/unitcost driver.

Menentukan Tarif Per Unit Cost Driver
Setelah mengidentifikasi cost driver, kemudian menentukan tarif per unit cost driver.Karena setiap aktivitasnya memiliki cost driver dengan cara membagi jumlah biayadengan cost driver. Menurut Hansen and Mowen (1999; 134), tarif per unit cost driver
dapat dihitung dengan rumus sbb:
Tarif per unit Cost Driver = CostDriverfitas JumlahAkt

Membebankan Biaya Ke Produk dengan Menggunakan Tarif Cost Driver danUkuran Aktivitas
Dalam tahap ini, menurut Hansen and Mowen (1999; 138), biaya aktivitasdibebankan keproduk berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas produk. Pembebananbiaya overhead dari tiap aktivitas ke setiap kamar dihitung dengan rumus sbb:
BOP yang dibebankan =Tarif/unit Cost Driver x Cost Driver
Dengan Mengetahui BOP yang dibebankan pada masing-masing produk, maka dapatdihitung tarif jasa rawat inap per kamar. Menurut Mulyadi (1993) perhitungan tarifmasing-masing tipe kamar dengan metode ABC dapat dihitung dengan Rumus sbb:
Tarif Per Kamar = Cost Rawat Inap + Laba yang diharapkan
Untuk cost rawat inap per kamar diperolehdari total biaya yang telah dibebankanpada masing-masing produk dibagi dengan jumlah hari pakai. Sedangkan laba yangdiharapkan ditetapkan pihak manajemen.

3.4.       Perbandingan Metode Akuntansi Biaya Tradisional dengan ABC dalam PenetapanTarif Jasa Rawat Inap
Perbedaan yang terjadi antara tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metodetradisional dan metode ABC, disebabkan karena pembebanan biaya overhead pada masingmasingproduk. Pada metode akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masingproduk hanya dibebankan pada satu cost driver saja.
Akibatnya cenderung terjadidistorsi pada pembebanan biaya overhead. Sedangkan pada metode ABC, biaya overheadpada masing-masing produk dibebankan pada banyak cost driver. Sehingga dalam metodeABC, telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepatberdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas.


BAB IV
PENUTUP
4.1.       Kesimpulan
            Pembahasan yang dilakukan oleh penulis maka dapat diambil kesimpulan sebagaiberikut:
1.    Perhitungan tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metode ABC, dilakukanmelalui 2 tahap. Tahap pertama biaya ditelusur ke aktivitas yang menimbulkanbiaya dan tahap ke dua membebankan biaya aktivitas ke produk. Sedangkan tarifdiperoleh dengan menambahkan cost rawat inap dengan laba yang di harapkan.
2.    Dari hasil perhitungan tarif rawat inap dengan menggunakan metode ABC,apabila dibandingkan dengan metode tradisional maka metode ABC memberikanhasil yang lebih besar. Perbedaan yang terjadi antara tarif jasa rawat inap denganmenggunakan metode tradisional dan metode ABC, disebabkan karenapembebanan biaya overhead pada masing-masing produk. Pada metode akuntansibiaya tradisional biaya overhead pada masing-masing produk hanya dibebankanpada satu cost driver saja. Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada pembebananbiaya overhead. Sedangkan pada metode ABC, biaya overhead pada masing-masingproduk dibebankan pada banyak cost driver. Sehingga dalam metodeABC, telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepatberdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas.

Perhitungan tarif rawat inap dengan menggunakan metode Activity Based-Costing, dengan tetap mempertimbangkan faktor-faktor external yang lain seperti tarif pesaing dan kemampuan masyarakat yang dapat mempengaruhi dalam penetapan harga pelayanan rawat inap. 

  
DAFTAR PUSTAKA
Garrison,Noreen,Brewer. 2006. Managerial Accounting Edisi 11. Jakarta:Salemba Empat
Hansen, Don R and Maryanne M Mowen.2004.Akuntansi Manajemen, Edisi 7, Salemba Empat:Jakarta
Mulyadi.1993.Akuntansi Manajemen, Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Edisi 2, BP STIEYKPN, YK
Ronald Hilton, Managerial Accounting: Creating Value in a Dynamic Business Environment, 7th Edition: McGraw-Hill (2003)
Solikin, Ikin: 2008. Activity Based Costing (ABC) danActivity Based Management (ABM). Bandung:STIE Tridharma
Tunggal, Amin Widjaja.1992. Activity Based Costing Suatu Pengantar, Rineka Cipta:Jakarta




No comments: