BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
era globalisasi dan ditunjang perkembangan dunia usaha yang semakin pesat
mengakibatkan naiknya persaingan bisnis. Masing-masing perusahaan saling beradu
strategi dalam usaha menarik konsumen. Persaingan tersebut tidak hanya
persaingan bisnis dibidang manufaktur/industri tetapi juga dibidang usaha
pelayanan jasa.
Dalam
menentukan harga pokok produksi yang masih menggunakan akuntansi biaya
tradisional. Biaya produk yang dihasilkan oleh sistem akuntansi biaya
tradisional memberikan informasi biaya yang distorsi. Distorsi timbul karena
adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya, sehingga mengakibatkan kesalahan
penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan dan pengendalian. Distorsi
tersebut juga mengakibatkan undercost/overcost terhadap produk.
Berkembangnya
ilmu pengetahuan pada awal 1900an melahirkan suatu sistem penentuan harga pokok
produk berbasis aktivitas yang dirancang untuk mengatasi distorsi pada
akuntansi biaya tradisional. Sistem akuntansi ini disebut Activity Based Costing.
Perbedaan
utama penghitungan harga pokok produksi antara akuntansi biaya tradisional
dengan ABC adalah jumlah cost driver
(pemicu biaya) yang digunakan. Dalam sistem penentuan harga pokok produk dengan
metode ABC menggunakan cost driver
dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan akuntansi biaya tradisional yang
hanya menggunakan satu atau dua cost
driver berdasarkan unit.
Dalam
metode ABC, menganggap bahwa
timbulnya biaya disebabkan oleh adanya aktivitas yang dihasilkan produk.
Pendekatan ini menggunakan cost driver
yang digunakan dalam pembebanan biaya
overhead, sehingga dalam metode ABC
dapat meningkatkan ketelitian dalam perincian biaya, dan ketepatan pembebanan
biaya lebih akurat.
Dalam
menerapkan metode ABC untuk menentukan biaya harga pokok produksi tidaklah
mudah, karena manajemen harus dapat menentukan cost driversehingga jumlah cost
driver tersebut tidak melebihi nilai manfaatnya.Untuk itulah, masalah
tersebut akan dibahas dalam makalah yang berjudul “Penerapan Activity Based Costing”.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
uraian di atas, maka penyusun mengidentifikasi masalah dalam penerapan activity
based costing, sebagai berikut :
1.
Bagaimana metode Activity
Based Costing diterapkan ?
2.
Apa kelebihan dan kekurangan
dari metode Activity Based Costing?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Penerapan dari metode
Activity Based Costing
2.
Kelebihan dan kekurangan
dari metode Activity Based Costing
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1.
Pengertian Activity Based
Costing
Activity Based Costing(ABC)
merupakan metode yang menerapkan konsep-konsep akuntansi aktivitas untuk
menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat.
Metode ABC menyajikan lebih dari sekedar
informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi
tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri
biaya-biaya secara akurat ke obyek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan
saluran distribusi.
Garisson dan Norren (2000 : 292)
mendefinisikan sebagai berikut “Metode costing yang dirancang untuk menyediakan
informasi biaya bagi manajer untuk keputusan strategik dan keputusan lainnya
yang mungkin akan mempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap”.
Sedangkan menurut Mulyadi (1993 :
34) memberikan pengertian ABC sebagai
berikut : “ABC merupakan metode
penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) yang ditujukan untuk menyajikan informasi
harga pokok secara cermat bagi kepentingan manajemen, dengan mengukur secara
cermat konsumsi sumber daya alam setiap aktivitas yang digunakan untuk
menghasilkan produk”.
2.2.
Konsep Dasar Activity Based
Costing
ABC
menyediakan informasi mengenai perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang
dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah
setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost-driver) yakni,
bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi.
Aktivitas-aktivitas ini menjadi titik perhimpunan biaya. Dalam sistem ABC, biaya ditelusuri ke aktivitas dan
kemudian ke produk. ABC mengasumsikan
bahwa aktivitas-aktivitaslah yang mengkonsumsi sumber daya bukan produknya.
2.3.
Kelebihan dan Kelemahan
Activity Based Costing
Metode ABC telah dikenal luas dan
diterapkan karena beberapa kelebihan yang dimilikinya, antara lain :
a.
Memudahkan manajemen untuk
mendapatkan informasi Product-Cost Assignment secara akurat.
b.
Membantu manajemen
menelusuri dan mengidentifikasi cost driver ke dalam Pool Activity.
c.
Mempermudah aktivitas
perencanaan dan pengendalian overhead cost dengan adanya “Cost Pooling
Actvity”.
d.
Memberikan peluang untuk
melakukan design “Cost Reduction Activity” terhadap produk yang akan
diproduksi.
e.
Meningkatkan kemampuan
manajemen dalam menyusun cash flow perusahaan dengan memisahkan biaya ke dalam
“Cost Pooling Activity”.
Disamping
terdapat kelebihan ABC, juga memiliki beberapa kelemahan yang pada umumnya
cenderung dihadapi oleh manajemen, yaitu :
a.
Di dalam implementasinya,
ABC relatif lebih sulit direalisasikan karena manajemen harus benar-benar
cermat mengidentifikasi cost-driver – cost-driver ke dalam Cost Pooling
Activity.
b.
Dalam implementasinya sering
mengabaikan aktivitas proses produksi karena tuntutan adanya usaha Cost
Reduction Activity.
c.
Penerapan ABC cenderung
menimbulkan pertentangan antara manajemen dengan pekerja dengan adanya Cost
Efficiency yang amat ketat.
d.
Karena Laporan Keuangan
sifatnya timeliness maka ABC sulit dilaksanakan karena adanya kendala periode
waktu.
Manfaat
metode ABC bagi pihak manajemen perusahaan adalah :
a.
Metode ABC dapat meyakinkan
pihak manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi
lebih kompetitif.
b.
Pihak manajemen akan berada
dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.
c.
Metode ABC dapat membantu
dalam pengambilan keputusan (management decision making). Hal ini didasarkan
bahwa dengan akurasi perhitungan biaya produk yang menjadi sangat penting dalam
iklim kompetisi dewasa ini.
d.
Mendukung perbaikan yang
berkesinambungan (continuous improvement), melalui analisa aktivitas, metode
ABC memungkinkan tindakan eliminasi atau perbaikan terhadap aktivitas yang
tidak bernilai tambah atau kurang efisien.
e.
Memudahkan penentuan
biaya-biaya yang kurang relevan (Cost Reduction), pada sistem tradisional,
banyak biaya-biaya yang kurang relevan tersembunyi. Metode ABC yang transparan
menyebabkan sumber-sumber biaya tersebut dapat diketahui dan dieliminasi.
f.
Dengan analisis biaya yang
diperbaiki, pihak manajemen dapat menganalisa dengan lebih akurat volume produksi
yang diperlukan untuk mencapai impas (break even) atas produk yang bervolume
rendah.
Beberapa
keunggulan dari metode ABC dalam penentuan biaya produksi, adalah :
a.
Biaya produksi lebih
realistis, khususnya pada industri manufaktur teknologi tinggi, dimana biaya
overhead adalah merupakan proporsi yang signifikan dari total biaya.
b.
Semakin banyak overhead
dapat ditelusuri ke produk. Analisis metode ABC itu sendiri memberi perhatian
pada semua aktivitas, sehingga biaya aktivitas non lantai pabrik dapat ditelusuri.
c.
Metode ABC mengakui bahwa
aktivitaslah yang menyebabkan biaya (activities cause cost) bukanlah produk,
dan produklah yang mengkonsumsi aktivitas.
d.
Metode ABC memfokuskan
perhatian pada sifat riil dari pelaku biaya dan membantu mengurangi biaya dan
mengidentifikasi aktivitas yang tidak menambah nilai terhadap produk.
e.
Metode ABC mengakui
kompleksitas dari diversitas produksi yang modern dengan menggunakan banyak
pemacu biaya.
f.
Metode ABC memberikan suatu
indikasi yang dapat diandalkan dari biaya produk variabel jangka panjang (long
run variabel product cost) yang relevan dalam terhadap pengambilan keputusan
yang strategik.
g.
Metode ABC cukup fleksibel untuk menelusuri
biaya ke proses, pelanggan, area tanggung jawab manajerial, dan juga biaya
produk.
2.4.
Perbandingan antara
Akuntansi Biaya Tradisional dengan Metode Activity Based Costing
Beberapa
perbandingan antara sistem biaya tradisional dan metode ABC yang dikemukakan
oleh Amin Widjaya dalam bukunya “Activity-Based Costing untuk manufakturing dan
pemasaran”, adalah sebagai berikut :
a. Sistem
biaya ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya (cost driver) untuk menentukan seberapa
besar konsumsi overhead dari setiap produk. Sedangkan sistem biaya tradisional
mengalokasikan biaya overhead secara arbitrer berdasarkan satu atau dua basis
alokasi yang non representatif.
b. Sistem
biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya
tradisional terfokus pada performansi keuangan jangka pendek seperti laba.
Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan harga dan
profitabilitas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan.
c. Sistem
biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya ABC
memerlukan masukan dari seluruh departemen persyaratan ini mengarah ke
integrasi organisasi yang lebih baik dan memberikan suatu pandangan fungsional
silang mengenai organisasi.
d. Sistem
biaya ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil untuk analisis varian dari
pada sistem tradisional, karena kelompok biaya (cost pools) dan pemacu biaya (cost
driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu ABC dapat menggunakan data
biaya historis pada akhir periode untuk menghilang biaya aktual apabila
kebutuhan muncul.
e. Pada
sistem biaya tradisional penentuan tarif suatu produk berdasar aktivitas level
unit (bahan baku dan tenaga kerja). Sedangkan pada ABC System pembebanan biaya
overhead berdasarkan aktivitas berlevel unit maupun non unit sehingga penentuan
biaya lebih akurat karena ditelusuri ke masing-masing produk.
2.5.
Mekanisme Perhitungan Biaya
Berdasarkan Aktivitas
Menurut Mulyadi (1993: 94),
prosedure pembebanan biaya overhead dengan metode ABC melalui dua
tahap kegiatan:
a. Tahap Pertama
Pengumpulan
biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang sejenis atau homogen,terdiri
dari 4 langkah :
1. Mengidentifikasi dan
menggolongkan biaya kedalam berbagai aktifitas.
2. Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas,
pada langkah ini biayadigolongkan kedalam aktivitas yang terdiri dari 4
kategori yaitu: Unit level activitycosting, Batch related activity costing,
product sustaining activity costing, facilitysustaining activity costing.
Level
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Aktivitas Berlevel Unit
(Unit Level Activities)
Aktivitas ini
dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unitbersifat
proporsional dengan jumlah unit produksi. Sebagai contoh, menyediakantenaga
untuk menjalankan peralatan, karena tenaga tersebut cenderungdikonsumsi secara
proporsiona dengan jumlah unit yang diproduksi.
b. Aktivitas Berlevel
Batch (Batch Level Activities)
Aktivitas dilakukan
setiap batch diproses, tanpa memperhatikan berapa unit yangada pada batch
tersebut. Misalnya, pekerjaan seperti membuat order produksi danpengaturan
pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel batch.
c. Aktivitas Berlevel
Produk (Produk Level Activities)
Aktivitas berlevel
produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanyadikerjakan tanpa
memperhatikan berapa batch atau unit yang diproduksi ataudijual. Sebagai contoh
merancang produk atau mengiklankan produk.
d. Aktivitas Berlevel
Fasilitas (Fasility level activities)
Aktivitas berlevel
fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasiperusahaan namun banyak
sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan denganvolume. Aktivitas ini
dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produkyang berbeda. Kategori
ini termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor,penyediaan jaringan komputer
dan sebagainya.
e. Mengidentifikasikan Cost Driver maksudnya untuk memudahkan dalampenentuan
tarif/unit cost driver
f. Menentukan tarif/unit Cost
Driver
Adalah biaya per unit Cost
Driver yang dihitung untuk suatu aktivitas.
b. Tahap Kedua
Penelusuran
dan pembebanan biaya aktivitas kemasing-masing produk yang menggunakancost driver.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1. Penentuan Harga Pokok Rawat Inap
Menggunakan Activity-Based Costing System Mengidentifikasi dan
Mendefinisikan Aktivitas dan Pusat Aktivitas
Berdasarkan
hasil wawancara dengan bagian keuangan, bagian perawatan, bagiandapur, dan
bagian gudang.
Aktivitas-aktivitas biaya yang ada diunit rawat inap meliputi:
1. Biaya perawatan
2. Biaya konsumsi pasien
3. Biaya listrik dan air
4. Biaya kebersihan
5. Biaya administrasi
6. Biaya service
7. Biaya Asuransi
8. Biaya penyusutan gedung
9. Biaya penyusutan
fasilitas
10. Biaya laundry
Aktivitas-aktivitas tersebut dikelompokkan menjadi beberapa pusat
aktivitas, yaitu:
1. Aktivitas perawatan
pasien
- biaya perawat
2. Aktivitas Pemeliharaan
inventaris
- biaya depresiasi gedung
- biaya depresiasi fasilitas
- biaya kebersihan
3. Aktivitas pemeliharaan
pasien
- biaya konsumsi
4. Aktivitas pelayanan
pasien
- biaya listrik dan air
- biaya administrasi
- biaya bahan habis pakai
- biaya asuransi
- biaya laundry
Berikut ini akan dijelaskan mengenai elemen biaya diatas sebagai
berikut:
1. Biaya
Perawatan Pasien oleh Perawat
Dalam hubungannya
dengan penetapan tarif kamar rawat inap, biaya perawatanpasien oleh perawat
secara tidak langsung turut mempengaruhi aktifitas bagianrawat inap, maka
aktivitas ini termasuk dalam kategori unit level activity cost.
Dialokasikan secara
profesional pada setiap tipe kamar
2. Biaya
Penggunaan Tenaga Listrik Dan Air
Seluruh tipe kamar
rawat inap rumah sakit memerlukan tenaga listrik untukmenjalankan peralatan
elektronik, untuk penerangan kamar atau fasilitas yangada di masing-masing
kamar dan air untuk mandi. Untuk penggunaan listrik danair termasuk kategori unit
level activity cost, karena biaya berubah sesuai denganperubahan KWH kamar
yang terpakai. Fasilitas yang mengkonsumsi listrikmeliputi: TV, Kulkas, alat
pemanas, lampu.
3. Biaya
Konsumsi
Pasien yang menjalani
rawat inap membutuhkan makanan dan minuman untukmempercepat penyembuhan pasien,
yang termasuk dalam kategori Unit levelactivity costs, karena tidak
tergantung pada lamanya pasien menjalani rawatinap.
4. Biaya
Kebersihan
Biaya kebersihan
adalah biaya dikeluarkan untuk menunjang kebersihanlingkungan rawat inap,
sehingga pasien merasa nyaman. Biaya ini termasukdalam kategori Batch
related activity costs.
5. Biaya
Administrasi
Pelayanan administasi
diberikan untuk menunjang kelancaran dalam penyediaanaktivitas sarana dan
prasarana. Termasuk kategori batch related activity basedcosting.
6. Biaya
Bahan Habis Pakai
Biaya bahan habis
pakai adalah biaya yang digunakan oleh perawat untukpasien, juga paket yang
diberikan kepada pasien rawat inap pada hari pertamadirawat di rumah sakit.
7. Biaya
Asuransi
Keberadaan pasien di
kamar rawat inap menyebabkan munculnya biaya asuransisebagai jaminan kesehatan
bagi pasien rawat inap. Termasuk dalam kategorifasility sustaining activity
cost.
8. Biaya
Penyusutan Gedung/Bangunan
Biaya penyusutan
bangunan merupakan fasilitiy sustaining activity cost karenaseluruh tipe
kamar menggunakan bangunan dan pembebanan masing-masingkamar.
9. Biaya
Penyusutan Fasilitas
Pembebanan penyusutan
fasilitas ini berdasarkan masing-masing tipe kamar.Penyusutan fasilitas ini
termasuk dalam kategori facility sustaining activity costkarena seluruh tipe
kamar menggunakan fasilitas yang ada dalam masing-masingtipe kamar dan
pembenannya berdasarkan jumlah hari pakai. Penyusutanfasilitas terdiri dari
penyusutan TV, AC, Kulkas, Bed, kipas angin, Alatpemanas.
10. Biaya
Laundry
Aktivitas yang
dilakukan untuk menyediakan linen bersih kepada pasien rawatinap seperti sprei,
selimut, korden, sarung bantal.
3.2. Mengklasifikasi Aktivitas Biaya Kedalam
Berbagai Aktivitas
1. Berdasarkan Unit-Level Activity Cost
Aktivitas
ini dilakukan setiap hari dalam menjalani rawat inap pada RSUD Kab. Pangkep.
Aktivitas yang termasuk dalam kategori ini adalah aktivitas
perawatan,penyediaan tenaga listrik dan air dan biaya konsumsi.
2. Berdasarkan Batch-Related Activity
Cost
Besar
kecilnya biaya ini tergantung dari frekwensi order produksi yang diolaholeh
fungsi produksi. Aktivitas ini tergantung pada jumlah batch produk yang
diproduksi. Yaitu biaya administrasi, biaya bahan habis pakai, biaya
kebersihan.
3. Product-Sustaining Activity Cost
Aktivitas
ini berhubungan dengan penelitian dan pengembangan produk tertentudan
biaya-biaya untuk mempertahankan produk agar tetap dapat dipasarkan.
Aktivitas ini tidak ditemui dalam
penentuan tarif jasa rawat inap pada RSUDKab. Pangkep.
4. Fasilitas-Sustaining Activity Cost
Aktivitas ini berhubungan dengan
kegiatan untuk mempertahankan fasilitasyang dimiliki oleh perusahaan. Aktivitas
yang termasuk dalam kategori iniadalah biaya laundry, biaya asuransi, biaya
penyusutan gedung, biayapenyusutan fasilitas.
3.3.
Mengidentifikasi Cost Driver
Setelah aktivitas-aktivitas ini
diidentifikasi sesuai dengan kategorinya, langkahselanjutnya adalah
mengidentifikasi cost driver dari setiap biaya aktivitas.
Pengidentifikasian ini dimaksudkan dalam penentuan kelompok
aktivitas dan tarif/unitcost driver.
Menentukan Tarif Per Unit Cost Driver
Setelah mengidentifikasi cost
driver, kemudian menentukan tarif per unit cost driver.Karena setiap
aktivitasnya memiliki cost driver dengan cara membagi jumlah biayadengan
cost driver. Menurut Hansen and Mowen (1999; 134), tarif per unit cost
driver
dapat dihitung dengan rumus sbb:
Tarif per unit Cost Driver = CostDriverfitas
JumlahAkt
Membebankan Biaya Ke Produk dengan Menggunakan Tarif Cost Driver
danUkuran Aktivitas
Dalam tahap ini, menurut Hansen
and Mowen (1999; 138), biaya aktivitasdibebankan keproduk berdasarkan konsumsi
masing-masing aktivitas produk. Pembebananbiaya overhead dari tiap aktivitas ke
setiap kamar dihitung dengan rumus sbb:
BOP yang dibebankan =Tarif/unit Cost
Driver x Cost Driver
Dengan Mengetahui BOP yang
dibebankan pada masing-masing produk, maka dapatdihitung tarif jasa rawat inap
per kamar. Menurut Mulyadi (1993) perhitungan tarifmasing-masing tipe kamar
dengan metode ABC dapat dihitung dengan Rumus sbb:
Tarif Per Kamar = Cost Rawat Inap + Laba yang diharapkan
Untuk cost rawat inap per kamar diperolehdari total biaya yang
telah dibebankanpada masing-masing produk dibagi dengan jumlah hari pakai.
Sedangkan laba yangdiharapkan ditetapkan pihak manajemen.
3.4. Perbandingan Metode Akuntansi Biaya
Tradisional dengan ABC dalam PenetapanTarif Jasa Rawat Inap
Perbedaan yang terjadi antara
tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metodetradisional dan metode ABC,
disebabkan karena pembebanan biaya overhead pada masingmasingproduk.
Pada metode akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masingproduk
hanya dibebankan pada satu cost driver saja.
Akibatnya cenderung
terjadidistorsi pada pembebanan biaya overhead. Sedangkan pada metode ABC,
biaya overheadpada masing-masing produk dibebankan pada banyak cost driver.
Sehingga dalam metodeABC, telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas
kesetiap kamar secara tepatberdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Pembahasan
yang dilakukan oleh penulis maka dapat diambil kesimpulan sebagaiberikut:
1. Perhitungan tarif jasa
rawat inap dengan menggunakan metode ABC, dilakukanmelalui 2 tahap.
Tahap pertama biaya ditelusur ke aktivitas yang menimbulkanbiaya dan tahap ke
dua membebankan biaya aktivitas ke produk. Sedangkan tarifdiperoleh dengan
menambahkan cost rawat inap dengan laba yang di harapkan.
2. Dari hasil perhitungan
tarif rawat inap dengan menggunakan metode ABC,apabila dibandingkan
dengan metode tradisional maka metode ABC memberikanhasil yang lebih
besar. Perbedaan yang terjadi antara tarif jasa rawat inap denganmenggunakan
metode tradisional dan metode ABC, disebabkan karenapembebanan biaya overhead
pada masing-masing produk. Pada metode akuntansibiaya tradisional biaya
overhead pada masing-masing produk hanya dibebankanpada satu cost driver saja.
Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada pembebananbiaya overhead.
Sedangkan pada metode ABC, biaya overhead pada masing-masingproduk dibebankan
pada banyak cost driver. Sehingga dalam metodeABC, telah mampu
mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepatberdasarkan konsumsi
masing-masing aktivitas.
Perhitungan tarif rawat inap
dengan menggunakan metode Activity Based-Costing, dengan tetap
mempertimbangkan faktor-faktor external yang lain seperti tarif pesaing
dan kemampuan masyarakat yang dapat mempengaruhi dalam penetapan harga
pelayanan rawat inap.
DAFTAR
PUSTAKA
Garrison,Noreen,Brewer. 2006. Managerial Accounting Edisi 11. Jakarta:Salemba Empat
Hansen, Don R and Maryanne M Mowen.2004.Akuntansi Manajemen,
Edisi 7, Salemba Empat:Jakarta
Mulyadi.1993.Akuntansi Manajemen, Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Edisi 2, BP STIEYKPN, YK
Ronald
Hilton, Managerial Accounting: Creating
Value in a Dynamic Business Environment, 7th Edition: McGraw-Hill (2003)
Solikin, Ikin: 2008. Activity Based Costing (ABC) danActivity Based Management (ABM). Bandung:STIE
Tridharma
Tunggal, Amin Widjaja.1992. Activity Based Costing Suatu
Pengantar, Rineka Cipta:Jakarta
No comments:
Post a Comment