Friday, May 5, 2017

MAKALAH AUDIT SAMPLING


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Audit merupakan proses sistematis mendapatkan dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif sehubungan dengan asersi atas tindakan dan peristiwa ekenomi untuk memastikan tingkat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dan menetapkan kriteria serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Mulyadi, 2002).
Dalam menyampaikan opini, auditor harus mendapatkan bukti yang cukup. Sebagaimana yang dicantumkan dalam standar audit pekerjaan lapangan yang ketiga yaitu bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. Makna cukup menunjukkan tidak semua bukti audit harus dikumpulkan, melainkan dapat menggunakan sebagian bukti audit yang disebut dengan sampel.
Sampling merupakan prosedur yang umum digunakan oleh auditor. IAI melalui Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 350 mendefinisikan sampling sebagai penerapan prosedur audit terhadap unsur-unsur suatu saldo akun atau kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.
Untuk memperoleh bukti yang memadai, auditor tidak harus memeriksa seluruh transaksi yang ada. Dalam setiap pemeriksaan auditor harus mempertimbangkan manfaat dan biaya karena pertimbangan ini kemudian dalam profesi dikenal secara luas bahwa sebagian besar bukti diperoleh melalui sampel.
Hall et al. (2002) menyebutkan bahwa pengadilan federal di Amerika Serikat sesuai dengan Federal Judicia Center 1994 memutuskan menerima bukti sampel tergantung dari fakta atau data sampel tersebut merupakan “tipe sampel data yang digunakan oleh ahli dalam bidang tertentu untuk membentuk opini atau menarik kesimpulan atas subyek tertentu.” Dengan demikian bukti sampel yang dihimpun oleh auditor layak dijadikan bukti di pengadilan. Dan ini merupakan tantangan bagi profesi audit untuk meningkatkan kualitas pengambilan sampel. Pada kenyataannya auditor tidak akan mengetahui apakah sampel yang diambilnya merupakan sampel yang representatif maka auditor maksimal hanya dapat meningkatkan kualitas pengambilan sampel menjadi mendekati kualitas sampel yang representatif (Halim, 2001).
Untuk menentukan teknik pengambilan sampel, auditor dapat menggunakan sampling non statistical atau pertimbangan (nonstatistical or judgement sampling). Dalam hal ini auditor tidak menggunakan teknik statistik untuk menentukan ukuran sampel, pemilihan sampel dan atau pengukuran risiko sampling pada saat mengevaluasi hasil sampel. Selain sampel non statistical auditor dapat juga menggunakan sampling statistik (statistical sampling). Dalam metode ini auditor menggunakan hukum probabilitas untuk menghitung ukuran sampel dan mengevaluasi hasil sampel, dengan demikian memungkinkan auditor untuk menggunakan ukuran sampel yang paling efisien dan mengkuantifikasi hasilnya, sehingga dapat mengambil kesimpulan yang lebih akurat.

1.2     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini adalah “ Bagaimanakah metode pengambilan sampel audit dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan metode sampel audit?

1.3     Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana metode pengambilan sampel audit dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan metode sampel audit.
  
1.4     Manfaat Penulisan
1.    Makalah ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan mengenai audit sampling serta merupakan sarana latihan untuk diterapkan dalam pembelajaran dari literatur yang ada.
2.    Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan referensi yang berguna bagi pembaca.
3.    Makalah ini diharapkan dapat menambah pembendaharaan perpustakaan dan juga dipakai sebagai bahan kajian dan perbandingan bagi mahasiswa lain.


  



BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Audit
Setiap badan usaha baik yang bertujuan untuk memaksimalkan laba maupun nirlaba membutuhkan audit. audit dapat dilakukan oleh auditor eksterna juga oleh auditor internal. Biasanya auditor eksternal melakukan audit atas laporan keuangan suatu perusahaan dengan tujuan untuk menjamin keandalan laporan keuangan perusahaan tersebut. Sedangkan audit yang dilakukan oleh pihak internal selain bertujuan untuk menjamin keandalan laporan keuangan yang dikeluarkan oleh manajemen perusahaan, audit tersebut bertujuan untuk menjamin bahwa perusahaan telah melaksanakan peraturan dan perundangan. Audit internal dapat juga dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan. Mengingat penting audit atas asersi suatu entitas, maka audit harus dilaksanakan dengan menggunakan tahap-tahap yang terstruktur. Proses audit atas laporan keuangan dibagi dalam tahap-tahap berikut :
1.    Penerimaan perikatan audit
Perikatan (engagement) adalah kesepakatan dua pihak untuk mengadakan suatu ikatan perjanjian. Dalam ikatan perjanjian, klien menyerahkan pekerjaan audit atas laporan keuangan kepada auditor dan auditor sanggup untuk melaksanakan pekerjaan audit tersebut berdasarkan kompetensi profesional.
2.    Perencanaan audit
Setelah auditor memutuskan untuk menerima perikatan audit dari kliennya, langkah berikutnya yang perlu ditempuh adalah merencanakan audit. Tahap-tahap yang harus dilakukan dalam merencanakan audit adalah memahami bisnis dan industri klien, melaksanakan prosedur analitik, mempertimbangkan tingkat materialitas awal, mempertimbangkan resiko bawaan, mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap saldo awal, jika perikatan dengan klien berupa audit tahun pertama, mengembangkan strategi audit awal terhadap asersi signifikan, memahami pengendalian intern klien.
3.    Pelaksanaan pengujian audit
Tahap pelaksanaan pengujian disebut juga dengan pekerjaan lapangan. Tujuan utama pelaksanaan pekerjaan lapangan ini adalah untuk memperoleh bukti audit tentang efektivitas pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangan klien.
4.    Pelaporan audit
Tahap akhir pekerjaan audit atas laporan keuangan adalah pelaporan audit. Pelaksanaan tahap ini harus mengacu ke standar pelaporan. Ada dua langkah penting yang dilaksanakan oleh auditor dalam pelaporan audit ini (1) menyelesaikan audit dengan meringkas semua hasil pengujian dan menarik simpulan, (2) menerbitkan laporan audit.

2.2    Bukti Audit
Untuk menyajikan laporan audit atau memberikan opini atas laporan keuangan suatu perusahaan, auditor membutuhkan bukti-bukti audit. Menurut Mulyadi (2002 : 74) Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar yang layak untuk menyatakan pendapatnya. Bukti audit yang mendukung laporan keuangan terdiri dari data akuntansi dan semua informasi penguat (corroborating information) yang tersedia bagi auditor. Tipe bukti audit dapat dikelompokkan dalam dua golongan yaitu data akuntansi dan informasi penguat. Data akuntansi terdiri dari pengendalian intern dan catatan akuntansi. Pengendalian intern yang dibentuk dalam setiap kegiatan perusahaan dapat digunakan untuk mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi. Kesalahan yang timbul akan segera dan secara otomatis dapat diketahui dengan adanya pengecekan silang (cross check) dan cara-cara pembuktian (proof) yang dibentuk di dalamnya.
Jika auditor yakin bahwa perusahaan telah merancang pengendalian intern dan telah melaksanakannya dalam kegiatan usahanya setiap hari, hal ini merupakan bukti audit yang kuat bagi auditor mengenai keandalan informasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan. Sedangkan catatan akuntansi terdiri dari jurnal, buku besar dan buku pembantu serta buku pedoman akuntansi, memorandum, dan catatan tidak resmi, seperti daftar lembaran kerja (worksheet) yang mendukung alokasi biaya, perhitungan dan rekonsiliasi secara keseluruhan merupakan bukti yang mendukung laporan keuangan. Data akuntansi saja tidak dapat dianggap sebagai pendukung yang cukup suatu laporan keuangan tanpa dilandasi oleh kewajaran dan kecermatan data akuntansi yang mendukung laporan keuangan, pendapat auditor atas laporan keuangan tidak akan terjamin. Auditor menguji data akuntansi yang mendasari laporan keuangan dengan jalan (1) menganalisis dan mereview, (2) menelusuri kembali langkah-langkah prosedur yang diikuti dalam proses akuntansi dan dalam proses pembuatan lembaran kerja dan alokasi yang bersangkutan, (3) menghitung kembali dan melakukan rekonsiliasi jumlah-jumlah yang berhubungan dengan penerapan informasi yang sama. Informasi penguat meliputi segala dokumen seperti bukti fisik, bukti documenter, bukti perhitungan, bukti lisan, perbandingan dan rasio dan bukti dari spesialis. Informasi penguat diperoleh melalui permintaan keterangan, pengamatan, inspeksi dan pemeriksaan fisik, serta informasi lain yang dikembangkan oleh atau tersedia bagi auditor yang memungkinkannya untuk menarik kesimpulan berdasarkan alasan yang kuat.


2.2.1   Populasi dan Sampel
Sebelum melakukan pengujian, baik pengujian pengendalian maupun pengujian substantive, auditor harus mengumpulkan bukti. Bukti yang dapat digunakan sebagai pendukung laporan audit adalah seluruh data akuntansi dan informasi penguat yang digunakan oleh perusahaan dalam menyusun laporan keuangan. Seluruh bukti ini merupakan populasi bukti audit. Menurut Copper dan Schindler (2006 : 112) Populaso merupakan kumpulan seluruh obyek yang ingin kita ketahui besaran karakteristiknya. Pengujian dengan menggunakan seluruh anggota populasi dapat menghasilkan hasil yang akurat, karena dikumpulkan dari semua bukti. Tetapi penggunaan populasi memakan waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang tinggi. Untuk menghemat waktu sekaligus menghemat biaya, dan mendapatkan informasi yang dapat digeneralisir dengan data populasi, auditor dapat menggunakan sampel. Menurut Copper dan Schindler (2006 : 112) sampel adalah sebagian obyek populasi yang mewakili karakteristik populasinya, dan kemudian diteliti. Hasil penelitian atas sampel kemudian digeneralisasi bagi keseluruhan populasi. Dengan demikian sampel yang digunakan harus representative (bersifat mewakili populasi).

2.2.2   Alasan Menggunakan Sampel
            Ada beberapa alasan yang mendorong pengambilan sampel. Alasan pertama menggunakan sampel adalah biaya yang lebih rendah dari pada menggunakan populasi, alasan lain adalah akurasi hasil yang lebih besar. Karena jumlah bukti yang lebih sedikit, maka kecepatan pengumpulan data lebih tinggi, dan tersedianya elemen populasi. Menurut Gaffor dan Charmichael (1984) baik non statistical sampling maupun statistical sampling mempunyai dasar karakeristik sebagai berikut :
1.    Penggunaan sampel dapat menekan biaya
2.    Dapat dijadikan dasar untuk mengambil keputusan audit, apakah suatu akun secara material disajikan terlalu tinggi atau tidak ada kesalahan yang terdeteksi.
3.    Dapat menghindarkan masalah yang kompleks dan inefisiensi seperti dalam menentukan deviasi standar atas populasi.
Di samping ciri dasar diatas, ada kelemahan-kelemahan dalam menggunakan sampel yang harus dipertimbangkan auditor. Jika sampling digunakan, terdapat suatu unsur ketidakpastian dalam kesimpulan audit. Unsur ketidakpastian ini disebut risiko sampling (sampling risk). Menurut Messier, Glover dan Prawitt (2006 : 369) risiko sampling adalah kemungkinan bahwa sample yang telah diambil tidak mewakili populasi, sehingga sebagai akibatnya atas dasar sampel tersebut auditor menarik kesimpulan yang salah atas saldo akun atau kelompok transaksi.


2.3    Sampling Audit
Menurut PSA No. 26 Sampling audit adalah penerapan prosedur audit terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan dalam audit sampling yaitu non statistical dan statistik. Pada non statistik untuk menentukan ukuran sampel, pemilihan sampel dan atau pengukuran risiko sampling pada saat mengevaluasi hasil sampel. Sedangkan sampel statistik (statistical sampling) menggunakan hukum probabilitas untuk menghitung ukuran sampel dan mengevaluasi hasil sampel, dengan demikian memungkinkan auditor untuk menggunakan ukuran sampel yang paling efisien dan mengkuantifikasi risiko sampling untuk tujuan mencapai kesimpulan statistik atas populasi. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan. Pelaksanaan dan pengevaluasian bukti sampel. Menurut Messier, Glover dan Prawitt (2006 : 374) keuntungan utama dari sampling statistik adalah membantu auditor dalam (1) merancang ukuran sampel yang efisien, (2) mengukur kecukupan dari bukti yang diperoleh, dan (3) mengkuantifikasi risiko sampling. Kerugian dari sampling statistik di antaranya adalah adanya tambahan biaya untuk (1) pelatihan auditor dalam menggunakan tehnik sampling yang memadai, (2) perancangan dan pelaksanaan penerapan sampling, dan (3) kurangnya konsistensi penerapan antara tim audit karena kompleksitas dari konsep yang mendasarinya.
Secara lebih rinci auditor memeriksa sebagian bukti dengan berbagai cara seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Cara Pengambilan Bukti Audit
Tipe Sampel
Contoh Penerapan Sampel
Cara Pemilihan Sampel
Pengambilan Kesimpulan di dasarkan
1.  Sampel 100%
Semua faktur penjualan di atas Rp 400.000 diperiksa oleh auditor
Unsur kunci
Konklusif
2.  Judgement Sampling
Semua faktur penjualan yang dibuat mulai bulan Juni s.d September 19X1
Pertimbangan auditor
Pertimbangan auditor
3.  Representatif sampel
Lima puluh faktur penjualan yang dibuat dalam tahun yang diaudit
Acak
Pertimbangan auditor
4.  Statistical sample
Enam puluh faktur penjualan yang di buat dalam 10 bulan pertama dalam tahun yang di audit
Acak
Matematik
Sumber : Mulyadi

2.3.1   Statistical Sampling Models
            Statistical sampling dibagi menjadi dua : attribute sampling dan variabel sampling. Attribute sampling atau disebut pula proportional sampling digunakan terutama untuk menguji efektivitas pengendalian intern (dalam pengujian-pengujian), sedangkan variabel sampling digunakan terutama untuk menguji nilai rupiah yang tercantum dalam akun (dalam pengujian substantive).
A.   Attribute Sampling Models
Ada tiga model attribute sampling yaitu :
1.    Fixed-sample-size attribute sampling
Model pengambilan sampel ini adalah model yang paling banyak digunakan dalam audit. pengambilan sampel dengan model ini ditujukan untuk memperkirakan persentase terjadinya mutu tertentu dalam suatu populasi. Misalnya, dengan model ini auditor dapat memperkirakan berapa persen bukti kas keluar (voucher) yang terdapat dalam populasi tidak dilampiri bukti pendukung yang lengkap. Model ini terutama digunakan jika auditor melakukan pengujian pengendalian terhadap suatu unsur pengendalian intern, dan auditor tersebut memperkirakan akan menjumpai beberapa penyimpangan (kesalahan). Prosedur pengambilan sampel adalah sebagai berikut :
a.    Penentuan attribute yang akan diperiksa untuk menguji efektivitas pengendalian intern. Attribute adalah karakteristik yang bersifat kualitatif suatu unsur yang membedakan unsur tersebut dengan unsur yang lain. Dalam hubungannya dengan pengujian pengendalian, attribute adalah penyimpangan dari atau tidak adanya unsur tertentu dalam suatu pengendalian intern yang seharusnya ada.
b.    Penentuan populasi yang akan diambil sampelnya. Apabila attribute telah ditentukan, auditor harus menentukan populasi yang akan diambil, misalnya kelompok dokumen apa yang akan diambil.
c.    Penentuan besarnya sampel. Untuk menentukan besarnya sampel yang akan diambil dari populasi tersebut secara statistik, maka auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut :
1)    Penentuan tingkat keandalan (realibility level) atau confidence level atau disingkat R%. Tingkat keandalan adalah probabilitas benar dalam mempercayai efektivitas pengendalian intern. Sebagai contoh, jika auditor memilih R= 95% berarti bahwa ia mempunyai risiko 5% untuk mempercayai suatu pengendalian intern yang sebenarnya tidak efektif.
2)    Penaksiran presentase, terjadinya attribute dalam populasi. Penaksiran didasarkan pada pengalaman auditor dimasa yang lalu atau dengan melakukan percobaan.
3)    Penentuan batas ketepatan atas yang diinginkan (desired upper precision limit atau DUPL)
4)    Penggunaan tabel penentuan besarnya sampel untuk menentukan besarnya sampel.
d.    Pemilihan anggota sampel dari seluruh anggota populasi. Setelah ditentukan besarnya sampel, langkah selanjutnya adalah menentukan anggota populasi yang akan menjadi sampel. Agar setiap anggota populasi dapat menjadi sampel, maka auditor dapat menggunakan tabel acak.
e.    Pemeriksaan terhadap attribute yang menunjukkan efektivitas unsur pengendalian intern. Langkah selanjutnya adalah memeriksa attribute yang telah ditentukan sebelumnya pada sampel yang akan diambil. Auditor harus mencatat beberapa kali menemukan attribute yang tidak sesuai dengan pengendalian intern yang telah dilakukan.
f.     Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap attribute anggota sampel. Apabila auditor telah mendapatkan tingkat kesalahan dalam attribute, maka auditor dapat membandingkan tingkat kesalahan dalam sampel tersebut dengan menggunakan tabel Achieved Upper Percision Limit (AUPL). AUPL akan dibandingkan dengan DUPL. Jika AUPL lebih rendah dari AUPL, kesimpulan yang dapat diambil adalah unsur pengendalian intern yang diperiksa merupakan unsur sistem yang efektif.

2.    Stop or Go Sampling
Jika auditor menggunakan fixed sample size attribute sampling, kemungkinan ia akan terlalu banyak mengambil sampel. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan model attribute sampling yang lain, yaitu stop or go sampling. Dalam stop or go sampling ini, jika auditor tidak menemukan adanya penyimpangan atau menemukan jumlah penyimpangan tertentu yang telah ditetapkan, ia dapat menghentikan pengambilan sampelnya. Prosedur yang harus ditempuh oleh auditor dalam menggunakan stop or go sampling adalah sebagai berikut :
a.    Tentukan desired upper precision limit dan tingkat keandalan. Pada tahap ini auditor menentukan tingkat keandalan yang akan dipilih dan tingkat kesalahan maksimum yang dapat diterima. Tabel yang tersedia dalam stop or go sampling ini menyarankan auditor untuk memilih tingkat kepercayaan 90%, 95% atau 99%.
b.    Gunakan tabel besarnya sampel minimum untuk pengujian pengendalian guna menentukan sampel pertama yang harus diambil. Setelah tingkat keandalan dan desired upper precision limit (DUPL) ditentukan, langkah berikutnya adalah menentukan besarnya sampel minimum yang harus diambil oleh auditor dengan bantuan tabel besarnya sampel minimum untuk pengujian pengendalian. Jika pengendalian intern baik, auditor disarankan untuk tidak menggunakan tingkat keandalan kurang dari 95% dan menggunakan desired upper precision limit lebih dari 5%. Dengan demikian pada umumnya dalam pengujian pengendalian, auditor tidak pernah memilih besarnya sampel kurang dari 60.
c.    Buat tabel stop or go decision. Setelah besarnya sampel minimum ditentukan langkah selanjutnya adalah membuat tabel keputusan. Dalam tabel stop or go decision tersebut auditor akan mengambil sampel sampai 4 kali.
d.    Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap sampel.

3.    Discovery Sampling
Umumnya kondisi yang diperlukan sebagai dasar penggunaan discovery sampling adalah :
a.    Jika auditor memperkirakan tingkat kesalahan dalam populas sebesar nol atau mendekati nol persen.
b.    Jika auditor mencari karakteristik yang sangat kritis, yang jika hal ini ditemukan, merupakan petunjuk adanya ketidakberesan yang lebih luas atau kesalahan yang serius dalam laporan keuangan.
Discovery sampling digunakan pula oleh auditor dalam pengujian substantif. Jika tujuan audit untuk menemukan paling tidak satu kesalahan yang mempunyai dampak potensial terhadap suatu akun, discovery sampling umumnya dipakai untuk tujuan tersebut. Prosedur pengambilan sampel dalam discovery sampling adalah sebagai berikut :
1)    Tentukan attribute yang akan diperiksa
2)    Tentukan populasi dan besar populasi yang akan diambil sampelnya
3)    Tentukan tingkat keandalan
4)    Tentukan desired upper precision limit
5)    Tentukan besarnya sampel
6)    Periksa attribute sampel
7)    Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap karakteristik sampel

B.   Variabel Sampling
Variabel sampling adalah teknik statistik yang digunakan oleh auditor untuk menguji kewajaran suatu jumlah atau saldo dan untuk mengestimasi jumlah rupiah suatu saldo akun atau kuantitas yang lain. Dalam pengujian substantif, auditor dapat menghadapi dua keputusan yaitu melakukan estimasi suatu jumlah (misalnya saldo suatu akun) atau menguji kewajaran suatu jumlah. Jika variabel sampling digunakan untuk memperkirakan saldo suatu akun, hasil perhitungannya akan berupa nilai rupiah (rata-rata sampel dikalikan dengan besarnya populasi ditambah atau dikurangi dengan suatu interval jumlah rupiah pada tingkat kepercayaan yang diinginkan. Variabel sampling untuk memperkirakan saldo suatu akun digunakan oleh auditor dalam kondisi :
1.    Jika klien tidak menyajikan suatu jumlah yang dapat dianggap benar.
2.    Jika suatu akun ditentukan dengan statistical sampling.

2.3.2     Variabel Sampling Untuk Uji Hipotesis
Baik dengan menggunakan nonstatistical sampling maupun statistical sampling, pengambilan sampel dalam pengujian substantif dilakukan oleh auditor melalui 7 tahap berikut ini :
1.    Penentuan tujuan pengambilan sampel
2.    Penentuan populasi
3.    Penentuan sampling audit
4.    Penentuan besarnya sampel
5.    Penentuan metode pemilihan sampel
6.    Pemeriksaan sampel
7.    Evaluasi hasil sampel

2.3.3     Penerapan Metode Sampling Audit
Metode sampling dalam melaksanakan audit sudah digunakan secara luas, baik oleh auditor internal maupun auditor eksternal (akuntan publik). Menurut Gaffor dan Charmichael (1984) pada dasarnya ada dua jenis audit sampel yaitu statistical sampling dan non statistical sampling. Meskipun sebagian auditor lebih memilih non statistical sampling sebagai judgement sampling, sekarang telah bergeser, karena pertimbangan dibutuhkan baik menggunakan metode sampel statistik dan metode non statistik. Perbedaan utama antara statistical dan non statistical sampling adalah terletak pada pengukuran semua karakteristik evaluasi secara ketat tergantung pada teori probabilitas. Kedua metode audit sampel memenuhi syarat berikut :
1.    Menyeleksi sampel yang representatif
2.    Menentukan ukuran sampel
3.    Menentukan tingkat kesalahan yang dapat diterima sebagai risiko sampel.

2.3.4     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Sampling Audit
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan sampling audit :
1.    Keahlian menggunakan metode audit sampling
Sebagian besar perusahaan-perusahaan akuntan publik (Bamett 1986) dan akuntan intern (Maingot dan Quon 2009) menggunakan non statistical sampling. Hal ini kemungkinan disebabkan karena keahlian yang rendah dalam menggunakan audit sampling. Sementara itu penelitian Silaban (1993) menyimpulkan bahwa mayoritas akuntan publik belum memahami penggunaan sampling statistik untuk pemeriksaan. Dan tingkat pemahaman tersebut berhubungan positif dengan penggunaan dan frekuensi penggunaan sampling statistik oleh auditor informasi lain dikumpulkan oleh (Maingot dan Quon 2009) baru hampir separuh responden mengikuti pelatihan audit sampling dan metode evaluasi.
2.    Persepsi auditor terhadap metode sampling statistik dan persepsi auditor terhadap risiko audit. Penelitian Zarkasyi (1992) menemukan bahwa persepsi auditormempengaruhi rendahnya hubungan dependensi dengan frekuensi penerapanmetode sampling statistik. Jika persepsi auditor baik teerhadap metode samplingstatistik, kemungkinan mereka menggunakan sampling statistik semakin besar. Jika persepsi auditor buruk maka cenderung menghindari sampling statistik.Bedingfield (1974) dalam Arkin (1982) menyatakan bahwa dampakberkembangnya tuntutan hukum terhadap KAP mengawali atau memperluaspenggunaan sampling statistik. Menurut Tucker dan Lordi (1997) sejak awalpenyelidikan metode sampling statistik oleh AICPA, mereka sangat menyadariimplikasi hukum (legal) dari penggunaan metode ini. Dan menurut kedua penelititersebut ketidakpuasan terhadap metode sampling tradisional dan keraguanterhadap kemampuan bertahan pendekatan sampling tradisonal terhadap seranganahli statistik di pengadilan telah menjadi katalis berkembangnya sampling statistic.

2.3.5     Ketidakpastian Dan Sampling Audit
Beberapa tingkat ketidakpastian secara implisit termasuk dalam konsep “sebagai dasar memadai untuk suatu pendapat” yang di acu dalam standar pekerjaan lapangan ketiga. Dasar untuk menerima beberapa ketidakpastian timbul dari hubungan antara faktor-faktor seperti biaya dan waktu yang diperlukan untuk memeriksa semua data dan konsekuensi negatif dari kemungkinan keputusan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang dihasilkan dari audit terhadap data sampel saja. Jika faktor-faktor ini tidak memungkinkan penerimaan ketidakpastian, maka alternatifnya hanyalah memeriksa semua data. Karena hal ini jarang terjadi, maka konsep dasar sampling menjadi lazim dalam praktik audit.
Ketidakpastian yang melekat dalam penerapan prosedur-prosedur audit disebut risiko audit. risiko audit terdiri dari (a) risiko (meliputi risiko bawaan dan risiko pengendalian) bahwa saldo atau kelompok dan asersi yang berkaitan, mengandung salah saji yang mungkin material bagi laporan keuangan, jika dikombinasikan dengan salah saji pada saldo-saldo atau kelompok yang lain, dan (b) risiko (risiko deteksi) bahwa auditor tidak menemukan salah saji tersebut. Risiko terjadinya peristiwa-peristiwa negatif ini (adverse events) secara bersamaan dapat dipandang sebagai suatu fungsi masing-masing risiko. Dengan menggunakan pertimbangan profesional, auditor menilai berbagai faktor untuk menentukan risiko bawaan dan risiko pengendalian (penentuan risiko pengendalian pada tingkat yang lebih rendah dari pada tingkat maksimum akan menuntut pelaksanaan pengujian atas pengendalian), dan melakukan pengujian substantif (prosedur analitik dan pengujian atas rincian saldo-saldo akun atau kelompok transaksi) untuk membatasi risiko deteksi.
Risiko audit meliputi ketidakpastian yang disebabkan oleh sampling dan ketidakpastian yang disebabkan oleh faktor-faktor selain sampling. Aspek-aspek risiko audit adalah risiko sampling dan risiko non sampling.
Risiko sampling timbul dari kemungkinan bahwa, jika suatu pengujian pengendalian atau pengujian substantif terbatas pada sampel, kesimpulan auditor mungkin menjadi lain dari kesimpulan yang akan dicapainya jika cara pengujian yang sama diterapkan terhadap semua unsur saldo akun atau kelompok transaksi. Dengan pengertian, suatu sampel tertentu mungkin mengandung salah saji moneter atau penyimpangan dari pengendalian yang telah ditetapkan, yangsecara proporsional lebih besar atau kurang daripada yang sesungguhnya terkandung dalam saldoakun atau kelompok transaksi secara keseluruhan. Untuk suatu desain sampel tertentu, risiko samplingakan bervariasi secara berlawanan dengan ukuran sampelnya: semakin kecilukuran sampel, semakintinggi risiko samplingnya.
Risiko nonsampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan sampling.Seorang auditor mungkin menerapkan prosedur audit terhadap semua transaksi atau saldo dantetap gagal mendeteksi salah saji yang material. Risiko nonsampling meliputi kemungkinanpemilihan prosedur audit yang tidak semestinya untuk mencapai tujuan audit tertentu.Sebagaicontoh, pengiriman surat konfirmasi atas piutang yang tercatat tidak dapat diandalkan untukmenemukan piutang yang tidak tercatat. Risiko nonsamplingjuga muncul karena auditor mungkingagal mengenali salah saji yang ada pada dokumen yang diperiksanya, hal yang akan membuatprosedur audit menjadi tidak efektif walaupun ia telah memeriksa semua data. Risiko nonsamplingdapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat diabaikan melalui cara-cara seperti perencanaandan supervisi memadai (lihat SA Seksi 311 [PSA No. 05] Perencanaan dan Supervisi danpenyelenggaraan praktik audit yang balk oleh kantor akuntan publik (lihat SASeksi 161 [PSA No.01] Hubungan Standar Audit ing dengan Standar Pengendalian Mutu.


2.3.6     Risiko Sampling
Auditor harus menerapkan pertimbangan profesional dalam menentukan risiko sampling. Dalam menyelenggarakan pengujian substantif atas rincian, auditor memperhatikan dua aspek dari risiko sampling :
1.    Risiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance), yaitu risiko mengambil kesimpulan berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun telah salah saji secara material.
2.    Risiko keliru menolak (risk of incorrect rejection), yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun tidak berisi salah saji secara material.

Auditor juga memperhatikan dua aspek risiko sampling dalam menyelenggarakan pengujian pengendalian jika ia menggunakan sampling :
1.    Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah (risk of assessing control risk too low), yaitu risiko menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah dibandingkan dengan efektivitas operasi pengendalian yang sesungguhnya.
2.    Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi (risk of assessing control risk too high), yaitu risiko penentuan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu tinggi dibandingkan dengan efektivitas operasi pengendalian yang sesungguhnya.

Risiko keliru menolak dan risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, berkaitan dengan efisiensi audit. sebagai contoh, jika penilaian auditor atas sampel audit menuntunnya pada kesimpulan awal yang keliru bahwa suatu saldo telah salah saji secara material, padahal kenyataannya tidak demikian, penerapan prosedur tambahan dan pertimbangan atas bukti-bukti audit yang lain biasanya akan menuntun auditor ke kesimpulan yang benar. Sama halnya, jika penilaian auditor atas sampel menuntunnya pada penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, maka biasanya auditor akan memperluas lingkup pengujian substantif untuk mengkompensasi anggapannya atas ketidakefektivan pengendalian. Walaupun audit dilaksanakan kurang efisien dalam kondisi tersebut namun tetap efektif.
            Risiko keliru menerima dan risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah, berkaitan dengan efektivitas audit dalam pendeteksian terhadap ada atau tidaknya salah saji yang material.

2.4     Sampling Dalam Pengujian Substantif Rinci
2.4.1     Perencanaan Sampel
Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk melaksanakan audit atas laporan keuangan. Untuk panduan umum perencanaan, lihat SA Seksi 311 (PSA No. 05) Perencanaan dan Supervisi.
Dalam perencanaan sampel untuk pengujian substantif rinci, auditor harus mempertimbangkan :
1.    Hubungan antara sampel dan tujuan audit yang relevan. Lihat SA Seksi 326 (PSA No. 07) Bukti Audit.
2.    Pertimbangan pendahuluan atas tingkat materialitas.
3.    Tingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima (allowable risk of incorrect acceptance).
4.    Karakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi perhatian.

Dalam perencanaan sampel tertentu, auditor wajib mempertimbangkan tujuan audittertentu yang hares dicapai dan wajib menentukan apakah prosedur atau kombinasi proseduraudit yang akan diterapkan akan mencapai tujuan tersebut. Auditor wajib menentukanapakah populasi yang menjadi asal suatu sampel adalah memadai untuk suatu tujuan audit.Sebagacontoh, auditor tidak akan dapat mendeteksi penyajian akun yang terlalu rendah karena adanyaunsur yang dihilangkan, dengan melakukan sampling atas catatan. Rencana sampling semestinyauntuk pendeteksian penyajian yang terlalu rendah tersebut melibatkan pemilihan sumber datayang mengikutsertakan unsur yang dihilangkan. Sebagai gambaran, pengeluaran kas kemudianmungkin perlu diambil sampelnya untuk menguji apakah utang dagang telah disajikan terlalu rendahkarena tidak dicatatnya transaksi pembelian. Atau dokumen pengiriman mungkin diambil sampelnya untukmendeteksi penyajian penjualan yang terlalu rendah karena pengiriman yang telah dilakukan belumdicatat sebagai penjualan.
Penilaian dalam satuan moneter atas hasil sampel untuk pengujian substantif rincian akanmemberikan manfaat secara langsung bagi auditor, karena penilaian seperti itu dapatdihubungkan dengan pertimbangan auditor atas jumlah salah saji moneter yang mungkinmaterial. Dalam perencanaan sampel untuk penguj ian substantif rinci, auditor wajibmempertimbangkanberapa besar salah saji moneter yang dapat terkandung dalam saldo akun ataukelompok transaksi yang bersangkutan tanpa mengakibatkan laporan keuangan menjadi salah sajisecara material. Salah saji moneter maksimum pada saldo atau kelompok ini disebut salah saji yangdapat diterima (tolerable misstatement) pada sampel. Salah saji yang dapat diterima adalah suatukonsep perencanaan dan berkaitan dengan pertimbangan pendahuluanauditor atas tingkatmaterialitas, yang ditentukan sedemikian rupa sehingga salah saji yang dapat diterima,dikombinasikan untuk seluruh rencana audit, tidaklah melampaui estimasi tingkat materialitastersebut.
Standar pekerjaan lapangan kedua menyatakan, "Pemahaman memadai ataspengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, danlingkup pengujian yangakan dilakukan."Setelah menentukan dan mempertimbangkan tingkat risikobawaan dan risiko pengendalian, auditor melaksanakan pengujian substantif untukmembatasirisiko deteksi pada tingkat yang dapat diterima. Pada saat tingkatrisiko bawaan, risikopengendalian, dan risiko deteksi yang telah ditentukan untuk prosedur audit lain yang diarahkan ketujuan audit yang sama menurun, risiko keliru menerima yang dapat diterima oleh auditor untukpengujian substantif rinci meningkat, sehingga, ukuran sampel yang diperlukan untuk pengujiansubstantif atas rincian tersebut semakin kecil. Sebagai contoh, jika risiko bawaan dan risikopengendalian ditentukan pada tingkat maksimum, dan tidak ada pengujiansubstantif lain yang diarahkan ke tujuan audit yang sama, auditor harus menerima risiko kelirumenerima dengan tingkat yang rendah untuk pengujian substantif rinci. Dalam hal ini, auditormemilih ukuran sampel yang lebih besar untuk pengujian atas rincian daripada jika ia menerima risikokeliru menerima dengan tingkat yang lebih tinggi.
Lampiran Seksi ini menguraikan bagaimana auditor dapat menghubungkan risiko kelirumenerima untuk pengujian substantif atas rincian dengan penentuan risiko bawaan, risikopengendalian, dan risiko bahwa prosedur analitik dan pengujian substantif lain yang relevan akangagal mendeteksi salah saji material.
Sebagaimana dibahas dalam SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti Audit,cukup atau tidaknyapengujian atas rincian saldo akun atau, kelompok transaksi tertentu, berkaitan dengan penting atautidaknya unsur yang diuji dan kemungkinan salah saji yang material. Dalam perencanaan sampeluntuk pengujian substantif atas rincian, auditor menggunakan pertimbangannyauntukmenentukan unsur, jika ada, yang harus diuji tersendiri, dan unsur yang harus disampling. Auditorwajib memeriksa unsur yang, menurut pertimbangannya, tidak sesuai untuk penerapan risikosampling. Sebagai contoh, hal tersebut meliputi unsur yang potensi salah sajinya secara individualdapat sama atau melebihi salah saji yang dapat diterima. Semua unsur yang telah diputuskan olehauditor untuk diperiksa 100% bukan merupakan bagian dari populasi yang disampling. Unsur lainyang, menurut pertimbangan auditor, perlu diuji untuk memenuhi tujuan audit namun tidak perludiperiksa 100 %, harus disampling.
Auditor mungkin dapat mengurangi ukuran sampel yang disyaratkan dengan memisahkanunsur yang disampling ke dalam kelompok-kelompok yang relatif homogen berdasarkan atas beberapakarakteristik yang berkaitan dengan tujuan audit tertentu. Sebagai contoh, dasar-dasar umum untukpengelompokan tersebut adalah nilai buku atau catatan unsur, sifat pengendalian yang terkaitdengan pemrosesan unsur, dan pert imbangan khusus yang berkaitan dengan unsur tertentu.Jumlah unsur memadai kemudian ditentukan dari masing-masing kelompok.
Untuk menentukan jumlah unsur yang harus dipilih dalam suatu sampel pada pengujiansubstantif tertentu, auditor wajib mempertimbangkan salah saji yang dapat diterima, risiko kelirumenerima yang dapat diterima,dan karakteristik populasi. Auditor menggunakan pertimbanganprofesionalnya untuk menghubungkan faktor-faktor ini dalam penentuanukuran sampel memadai.Lampiran Seksi ini menguraikan dampak faktor-faktor ini yang mungkin timbul dalam ukuran sampel.

2.4.2     Pemilihan Sampel
Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampelnya dapat diharapkan mewakili populasi. Oleh karena itu, semua unsur dalam populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Sebagai contoh, pemilihan secara acak atas unsur merupakan suatu cara memperoleh sampel yang mewakili.

2.4.3     Kinerja dan Penilaian
Prosedur audit memadai untuk suatu tujuan audit tertentu harus diterapkan terhadap setiap unsur sampel. Dalam beberapa situasi, auditor mungkin tidak dapat menerapkan prosedur audit yang direncanakan terhadap unsur sampel yang terpilih karena, misalnya, dokumentasipendukungnya hilang. Perlakuan auditor terhadap unsur yang tidak diperiksa ini akan tergantung pada dampak unsur tersebut terhadap penilaian hasil sampel.Jika penilaian auditor terhadap hasilsampel tidak berubah dengan dipertimbangkannya unsur yang tidak diperiksa sebagai salah saji,maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan terhadap unsur tersebut. Namun, jika setelahmempertimbangkan unsur yang tidak diperiksa ternyata auditor berkesimpulan bahwa saldoatau kelompok transaksi berisi salah saji yang material, ia wajib mempertimbangkan proseduralternatif yang dapat memberikan bukti yang cukup untuk mengambil kesimpulan. Auditorberkewajiban pula untuk mempertimbangkan apakah alasan-alasan yang mendasari tentang tidakdapat diperiksanya unsur tersebut memiliki implikasi terhadap penentuan tingkat risiko pengendalian yang telah direncanakan, atau seberapa jauh ia dapat menaruh kepercayaan kepada representasi klien.
Auditor wajib memproyeksikan salah saji hasil sampel terhadap unsur dalam populasi yang menjadi asal sampel yang dipilih. Ada beberapa cara yang dapat diterima untuk memproyeksikansalah saji dari suatu sampel.Sebagai contoh, auditor mungkin telah memilih sebuah sampel dari setiapunsur yang keduapuluh (50 unsur) dari suatu populasi yang terdiri dari 1000 unsur. Jika auditormenemukan lebih saji (overstatement) sebesar Rp 600.000 dalam sampel tersebut, maka auditordapat memproyeksikan lebih saji sebesar Rp 12.000.000 dengan membagi jumlah lebih saji dalamsampel tersebut dengan pecahan antara total sampel dengan total populasi. Auditorharusmenambahkan proyeksi tersebut ke salah saji yang ditemukan dalam unsur yang diperiksa 100%.Total salah saji projeksian tersebut harus dibandingkan dengan salah saji saldo akun atau kelompoktransaksi yang dapat diterima, dan pertimbanganmemadai harus dilakukan terhadap risiko sampling. Jika total salah saji projeksian lebih kecil daripadasalah saji yang dapat diterima untuk saldo akun atau kelompok transaksi, auditor harusmempertimbangkan pula risiko bahwa hasil semacam ini mungkin masih diperoleh, walaupun salahsaji moneter yang sesungguhnya dalam populasi melebihi salah saji yang dapat diterima. Sebaliknya, jika total salah saji projeksian mendekati salah saji yang dapat diterima, auditor dapat
menyimpulkan adanya risiko yang sangat tinggi bahwa salah saji moneter yang sesungguhnya dalampopulasi melebihi salah saji yang dapat diterima.Auditor menggunakan pertimbanganprofesionalnya dalam membuat penilaian tersebut.
Sebagai tambahan terhadap penilaian atas frekuensi dan jumlah moneter suatu salah saji,auditor harus mempertimbangkan aspek kualitatif suatu salah saji. Hal ini meliputi (a) sifat danpenyebab salah saji, sepertiapakah salah saji disebabkan oleh perbedaan secara prinsip atauperbedaan dalam penerapan, apakah disebabkan oleh kekeliruan atau ketidakberesan,danapakah disebabkan oleh tidak dipahaminya instruksi atau kecerobohan, dan (b) kemungkinanhubungan antara salah saji dengan tahapan audit yang lain. Penemuan adanya ketidakberesan biasanya memerlukan pertimbanganyang lebih luas atas kemungkinan implikasinya daripadapenemuan adanya kekeliruan.
Jika hasil sampel menunjukkan bahwa asumsi perencanaan auditor tidak benar, maka iaharus mengambil tindakan yang dipandang perlu.Sebagai contoh, jika salah saji moneterditemukan dalam pengujian substantif atas rincian jumlah atau frekuensi, yang lebih besar dari tingkatrisiko bawaan dan risiko pengendalian yang telah ditentukan, maka auditorharus mengubah tingkatrisiko yang ditentukan sebelumnya. Auditor harus juga mempertimbangkan apakah ia akanmemodifikasi pengujian audit yang lain yang telah dirancang atas dasar tingkat risiko bawaan dan risikopengendalian sebelumnya. Sebagai contoh, sejumlah besar salah sajiditemukan dalam konfirmasipiutang mungkin merupakan indikasi perlu dipertimbangkannya kembali tingkat risiko pengendalian yangtelah ditentukan dikaitkan dengan asersi yang berdampak terhadap desainpengujian substantif ataspenjualan atau penerimaan kas.
Auditor harus mengaitkan penilaian atas sampel dengan bukti audit lain yang relevan dalampenarikan kesimpulan atas saldo-saldo akun ataukelompok transaksi yang berkaitan.Hasil proyeksi salah saji untuk penerapan sampling audit dan penerapan nonsampling harusdipertimbangkan secara total, bersama-sama dengan bukti audit lain yang relevan, dalam rangkapenilaian auditor terhadap apakah laporan keuangan secara keseluruhantelah salah saji secara material.

2.5     Sampling Dalam Pengujian Pengendalian
2.5.1     Perencanaan Sampel
Dalam perencanaan sampel audit tertentu untuk pengujian pengendalian, auditor harus mempertimbangkan :
1.    Hubungan antara sampel dengan tujuan pengujian pengendalian
2.    Tingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang ditetapkan yang akan mendukung tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
3.    Tingkat risiko yang dapat diterima auditor atas penentuan risiko pengendalian yang terlalu rendah.
4.    Karakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi fokus perhatian.

Terhadap berbagai pengujian pengendalian, sampling tidak dapat diterapkan. Prosedur yangdilaksanakan untuk memperoleh pemahaman ataspengendalian intern memadai untuk merencanakan audittidak dapat dilaksanakan dengan menggunakan sampling. Sam-pling biasanya tidakdapat diterapkandalam pengujian pengendalian yang sangat tergantung atas pemisahan tugas memadai atau yangsebaliknya tidak akan memberikan bukti dokumenter atas kinerja. Di samping itu, sampling mungkin tidakdapat diterapkan dalam pengujian atas pengendalian tertentu yangdidokumentasikan. Samplingtidak dapat diterapkan untuk pengujian yang ditujukan untuk memperoleh bukti tentang desain atauoperasi suatu lingkungan pengendalian atau sistem akuntansi. Sebagai contoh, sampling tidak dapatditerapkan dalam prosedur permintaan keterangan atau observasi mengenai penjelasan ataspenyimpangan dari anggaran, jika auditor tidak ingin mengestimasi tingkat penyimpangan daripengendalian yang telah ditetapkan.
Dalam mendesain sampel untuk pengujian pengendalian, auditor biasanya harus merencanakanuntuk menilai efektivitas operasi dalam hubungannya dengan penyimpangan dari pengendalian internyang telah ditetapkan, baik dalam bentuk tingkat penyimpangan maupun jumlah monetertransaksi yangterkait.Dalam hal ini, pengendalian tertentu adalah pengendalian yang belum dimasukkan dalamdesain pengendalian intern yang akan berpengaruh sebaliknya terhadap rencana tingkat risikopengendalian yang ditetapkan oleh auditor. Tingkat risiko pengendaliansecara keseluruhan yangditetapkan oleh auditor untuk asersi tertentu melibatkan kombinasi antara pertimbangan ataspengendalian yang telah ditetapkan, penyimpangan dari prosedur atau kebijakan yang telah ditetapkan,dan tingkat keyakinan yang diberikan oleh sampel dan pengujian pengendalian yang lain.
Auditor harus menentukan tingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang telahditetapkan, yaitu, ia akan bersedia menerima tanpa mengubah rencana tingkat risiko pengendalianyang telah ditetapkan. Inilah yang disebut tingkat penyimpangan yang dapat diterima. Dalampenentuan tingkat penyimpangan yang dapat diterima, auditor harus mempertimbangkan(a) tingkatrisiko pengendalian yang direncanakan, dan (b) tingkat keyakinan yang diinginkan oleh bukti auditdalam sampel. Sebagai contoh, jika auditor merencanakan untuk menentukan tingkat risikopada tingkat yang rendah, dan ia menginginkan tingkat keyakinan yang tinggi dari bukti audit yangtersedia dari sampel untuk pengujian pengendalian (yaitu, tidak melakukan pengujian pengendalianyang lain atas asersi), ia mungkin menentukanbahwa tingkat penyimpangan yang dapat diterimasebesar 5% atau lebih kecil makin baik. Jika auditor merencanakan tingkat risiko pengendalian yanglebih tinggi, atau ia menginginkan tingkat keyakinan dari pengujianpengendalian yang lain bersama-samadengan yang disediakan oleh sampel (seperti misalnya permintaan keterangan atas cukup atau tidaknyapersonalia entitas atau pengamatan atas penerapan prosedur atau kebijakan), auditormungkinmemutuskan bahwa tingkat penyimpangan yang dapat diterima sebesar 10% atau lebih adalah cukup memadai.
Dalam penentuan tingkat penyimpangan yang dapat diterima, auditor harusmempertimbangkan bahwa, sementara penyimpangan dari pengendalian tertentu meningkatkanrisiko salah saji material dalam catatanakuntansi, penyimpangan tersebut tidak perlu menghasilkan suatu salahsaji.Sebagai contoh, suatu pengeluaran yang tercatat, yang tidak memperlihatkan adanya bukti persetujuanyang diperlukan, dapat merupakan transaksi yang telah diotorisasi dan dicatat secara semestinya.Penyimpangan hanya akan menyebabkan salah saji dalam catatan akuntansi jika penyimpangan dansalahsaji tersebut terjadi dalam transaksi yang sama. Penyimpangan dari prosedur pengendalian tertentu padatingkat tertentu biasanya diharapkan akan menghasilkan salah saji pada tingkat yang lebih rendah.
Dalam beberapa situasi, risiko salah saji material atas suatu asersi mungkin berkaitan dengan kombinasipengendalian. Jika kombinasi antaradua atau lebih pengendalian diperlukan untuk mempengaruhi risiko salahsaji material, maka pengendalian intern tersebut harus dipandang sebagai satuprosedur, dan penyimpangan dari kombinasi prosedur atau kebijakan harus dinilai dengan dasar tersebut.
Sampel yang diambil untuk pengujian terhadap efektivitas pelaksanaan pengendalian ditujukan untuk memberikan dasar bagi auditor dalam menyimpulkan apakah prosedur atau kebijakan pengendalian telah diterapkan sebagaimana yang telah ditetapkan. Jika tingkat keyakinan tinggi diharapkan dari bukti audit yang dihasilkan dari sampel, auditor harus menerima tingkat risiko sampling yang rendah (yaitu, risiko pengendalian ditentukan terlalu rendah) .
Untuk menentukan jumlah unsur yang akan dipilih sebagai sampel dalam pengujianpengendalian, auditor harus mempertimbangkan tingkat penyimpangan yang dapat diterima dari pengendalian yang diuji, kemungkinan tingkat penyimpangan, dan risiko yang dapat diterima dalam penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah. Auditor menerapkanpertimbangan profesionalnya untuk menghubungkan berbagai faktor tersebut dalam menentukan ukuran sampel memadai.


2.5.2     Pemilihan Sampel
Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampel yang terpilih diharapkan dapat mewakili populasi. Oleh karena itu, semua unsur dalam populasi harus memiliki kesempatanyang sama untuk dipilih.Pemilihan secara acak merupakan salah satu cara pemilihan sampeltersebut. Ada tiga metode pemilihan sampel yang umum digunakan: (1)pemilihan acak (randomselection), yaitu setiap unsur dalam populasi atau dalam setiap strata memiliki kesempatan yangsama untuk dipilih, (2)pemilihan sistematik (systematic selection), yaitu pemilihan unsur denganmenggunakan interval konstan di antara yang dipilih, yang intervalpermulaannya dimulai secaraacak, (3) pemilihan sembarang (haphazardselection), yang merupakan alternatif pemilihan acak,dengan syarat auditormencoba mengambil sampel yang mewakili dari keseluruhan populasi tanpamaksud untuk memasukkan atau tidak memasukkan unit tertentu ke dalamsampel yang dipilih.Idealnya, auditor harus menggunakan metode pemilihan yang memiliki kemampuan untuk memilihunsur dari seluruh periode yang diaudit. SA Seksi 319 [PSA No. 23] Pertimbangan PengendalianIntern dalamAudit Laporan Keuangan paragraf 73 memberikan panduan yang dapatditerapkandalam penggunaan sampling oleh auditor selama periode interimdan periode sisanya.

2.5.3     Kinerja dan Penilaian
Prosedur audit memadai untuk mencapai tujuan pengujian pengendalian harusdilaksanakan terhadap setiap unsur sampel. Jika auditor tidak dapat menerapkan prosedur audityang direncanakan atau prosedur alternatif memadai terhadap unsur sampel yang terpilih, ia harusmempertimbangkanpenyebab keterbatasan tersebut , dan ia biasanya harusmempertimbangkan unsur yang terpilih tersebut sebagai penyimpangan dari prosedur ataukebijakan yang telah ditetapkan untuk tujuan penilaian sampel.
Tingkat penyimpangan dalam sampel merupakan estimasi terbaik auditor terhadap tingkatpenyimpangan dalam populasi yang menjadi asal sampel. Jika estimasi tingkat penyimpanganlebih kecil dari tingkat penyimpangan yang dapat diterima untuk populasi, auditor harusmempertimbangkan risiko bahwa hasil semacam itu mungkin akan diperoleh walaupun tingkatpenyimpangan yang sesungguhnya dalam populasi melebihi tingkat penyimpangan populasiyang dapat diterima. Sebagai contoh, jika tingkat penyimpangan populasi yang dapat diterimasebesar 5%, dan auditor tidak menemukan penyimpangan dalam sampel sebanyak 60 unsur, auditordapat menyimpulkan bahwa terdapat suatu risiko sam-pling rendah yang dapat diterima bahwa tingkatpenyimpangan sesungguhnya dalam populasimelarnpaui tingkat 5% yang dapat diterima. Sebaliknya, jika dalam sampel tersebut terdapat satuatau lebih penyimpangan, auditor dapat menyimpulkan bahwa terdapat risiko sampling tinggi yangtidak dapat diterima bahwa tingkat penyimpangan dalam populasi melampaui tingkat 5%yangdapat diterima. Auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam melakukan evaluasitersebut.
Di samping itu, dalam penilaian terhadap frekuensi penyimpangan dalam prosedur tertentu,pertimbangan juga dilakukan terhadap aspek kualitatif suatu penyimpangan. Hal ini meliputi (a)sifat dan penyebab penyimpangan, seperti misalnya, apakah penyimpangan tersebut merupakankekeliruan atau ketidakberesan, atau disebabkan oleh tidak dipahaminyainstruksi atau kecerobohan,dan (b) kemungkinan hubungan antara penyimpangan dengan fase-fase lain dalam audit.Penemuan adanya suatu ketidakberesan biasanya memerlukan pertimbangan yang lebih luas ataskemungkinan implikasinya daripada penemuan adanya suatu kekeliruan.
Jika auditor menyimpulkan bahwa hasil sampel tidak mendukung tingkat risikopengendalian yang direncanakan atas suatu asersi, maka ia harus menilai kembali sifat, waktu, danlingkup prosedur substantif berdasarkan atas pertimbangan yang telah direvisi atas tingkat risikopengendalian yang ditetapkan untuk asersi laporan keuangan yang relevan.

2.6     Sampel Dengan Tujuan Ganda
Dalam beberapa situasi,  auditor dapat mendesain sampel yang akan digunakan untukmemenuhi dua tujuan: menentukan risiko pengendalian dan menguji kebenaran jumlah monetertransaksi yang dicatat . Pada umumnya,auditor yang merencanakan untuk menggunakansampel dengan tujuan ganda telah membuat estimasi pendahuluan bahwa terdapat tingkat risikoyang rendah bahwa penyimpangan dari pengendalian yang ditetapkan dalampopulasi, akan melebihitingkat penyimpangan yang dapat diterima. Sebagai contoh, auditor yang mendesain pengujianterhadap prosedur pengendalian atas pencatatan dalam register bukti kas keluar (voucher register)dapat merencanakan pengujian substantif yang berkaitan pada tingkat risiko yangmemperkirakan tingkatrisiko pengendalian yang ditentukan di bawah maksimum. Ukuran sampel yang dirancang untuk tujuanganda harus merupakan yang terbesar di antara ukuran-ukuran sampel yang dirancanguntuk masing-masingtujuan secara terpisah. Dalam menilai pengujian tersebut, penyimpangan dari prosedur dansalah saji moneter harus dinilaisecara terpisah dengan menggunakan tingkat risiko yang sesuaiuntuk masing-masing tujuan pengujian.








BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1     Kesimpulan
Dalam melaksanakan pemeriksaan, auditor harus merencanakan pelaksanaan auditnya secara efektif dan efisien. Auditor harus dapat mengumpulkan bukti yang akurat dengan mempertimbangkan efisiensi biaya dan waktu. Auditor dapat menggunakan Audit sampling. Ada dua metode dalam audit sampling, yaitu nonstatistik sampling dan statistik sampling. Dari beberapa hasil penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa sebagian besar auditor internal, auditor eksternal maupun auditor pemerintah lebih banyak menggunakan nonstatistical sampling. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor kemampuan auditor menggunakan audit sampling, persepsi auditor terhadap metode audit sampling dan persepsi terhadap risiko. Dari beberapa hasil penelitian, terungkap pula bahwa auditor yang menggunakan nonstatistical sampling tidak memperhitungkan bias dalam evaluasinya. Penggunaan nonstatistical sampling juga terbukti lebih banyak menimbulkan masalah dibanding penarikan sampel dengan menggunakan statitical sampling. Dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya statistical sampling merupakan metode yang lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

3.2     Saran
Dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan agar dapat menambah pengetahuan berkaitan dengan Audit sampling. Tak lupa, kami meminta saran dan kritik atas tulisan kami demi melengkapi dan menjadi bahan pertimbangan pada penulisan-penulisan berikutnya.

 Sumber:

PSA No. 26 Sampling Audit SA Seksi 350

















No comments: