BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Analisis biaya volume laba (cost
volume profit analysis) merupakan suatu alat yang sangat berguna untuk
perencanaan dan pengambilan keputusan dalam suatu perusahaan. Karena analisis biaya
volume laba menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas yang terjual, dan
harga, semua informasi keuangan perusahaan terkandung di dalamnya. Analisis
biaya volume laba dapat menjadi suatu alat yang bermanfaat untuk
mengidentifikasi cakupan dan besarnya kesulitan ekonomi yang dihadapi suatu perusahaan
dan membantu mencari pemecahannya. Tujuan dari suatu perusahaan adalah untuk
memperoleh laba yang maksimal agar kelangsungan hidup perusahaan terus
berjalan. Besar kecilnya laba perusahaan akan menjadi ukuran sukses tidaknya
manajemen dalam mengelola perusahaan. Sedang faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat laba adalah harga jual, biaya dan volume penjualan.
Tingkat laba perusahaan dipengaruhi secara langsung oleh harga jual per
unit, volume penjualan, total biaya tetap dan biaya variabel satuan. Perubahan
salah satu atau beberapa komponen diatas dapat berpengaruh dalam proses
penyusunan atau perencanaan laba. Untuk itu, diperlakukan penilaian atau
evaluasi terhadap perubahan-perubahan tersebut. Digunakan analisis biaya volume
laba menyebabkan perusahaan dapat merencanakan tingkat labanya secara teliti
dan akurat.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Biaya Volume
Laba(Cost Volume Profit)
Sebelum menjelaskan pengertian biaya volume laba,
maka kata biaya volume laba jika diuraikan terdiri dari 3 bagian, yaitu:
1. Biaya
2. Volume (penjualan atau
produksi)
3. Laba
Penguraian ini perlu dijelaskan agar dapat lebih
dipahami dan dimengerti arti dari biaya volume laba itu sendiri.
A1. Biaya(Cost)
Dalam arti sempit, biaya (cost) memiliki arti pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh
aktiva, jumlah yang dikorbankan tersebut secara tidak langsung disebut harga
pokok dan dicatat pada neraca sebagai aktiva. Secara luas, biaya(cost) mengandung arti pengorbanan
sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang, baik yang telah terjadi
maupun yang akan terjadi untuk tujuan tertentu (Iman Firmansyah, 2014:25).
Menurut American
Accounting Association, yang dikutip oleh Kamaruddin Ahmad (2013:34), biaya
(cost) adalah pengeluaran yang diukur
dalam moneter yang telah dikeluarkan atau potensial akan dikeluarkan untuk
memperoleh dan mencapai tujuan tertentu.
Pengukuran biaya sebagian besar bergantung padakemampuan
untuk menelusuri biaya terhadap objek biaya. Objek biaya merupakan sesuatu atau
aktivitas dimana biaya diakumulasikan (Kaharuddin Ahmad, 2013:13).
Kaharuddin Ahmad (2013:13) menambahkan bahwa ada
empat jenis objek biaya adalah: (1) produk atau kelompok produk yang saling
berhubungan; (2) jasa; (3) departemen (teknik dan sumber daya manusia); dan (4)
proyek, seperti penelitian, promosi pemasaran atau usaha jasa.
Seringkali kata biaya (cost) dan beban (expense)
terkadang diasumsikan memiliki pengertian yang sama. Padahal dalam penerapan di
perusahaan diperoleh penjelasan yang berbeda tentang keduanya. Menurut AICPA dalam Accounting Terminology Bulleting No. 4, yang dikutip oleh Winwin
Yadiati (2010:77), beban (expense) adalah
expired cost, yaitu biaya yang
manfaatnya telah digunakan dan berkaitan dengan revenues untuk periode yang bersangkutan.
Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
biaya dan beban merupakan suatu bentuk pengorbanan sumber ekonomi, tetapi
tujuan pengorbanannya berbeda. Biaya dikeluarkan untuk memperoleh barang dan
jasa, sedangkan beban untuk memperoleh pendapatan.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:34-36), biaya
dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Biaya berdasarkan fungsinya,
yaitu:
a) Biaya produksi
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu barang.
b) Biaya pemasaran
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjual suatu barang atau jasa.
c) Biaya administrasi
Adalah pengeluaran untuk menjalankan kebijaksanaan-kebijaksanaan.
d) Biaya keuangan
Adalah bagian pengeluaran yang dikaitkan upaya mencari dana.
2. Biaya berdasarkan
unsur-unsurnya, yaitu:
a) Bahan langsung
Adalah bahan baku yang merupakan bagian yang integral dari produk jadi.
b) Upah langsung
Adalah upah tenaga kerja langsung untuk keperluan komponen produk jadi.
c) Biaya umum pabrik
Adalah mencakup segala bahan, upah tidak langsung serta biaya produksi yang
tidak langsung dapat dibebankan pada satuan, pekerjaan atau produk tertentu.
3. Biaya dalam hubungannya
dengan produk, yaitu:
a) Biaya langsung
Adalah biaya yang dibebankan kepada produk tanpa memerlukan alokasi lebih
lanjut.
b) Biaya tidak langsung
Adalah biaya yang dialokasikan.
4. Biaya dalam hubungannya
dengan departemen produksi, yaitu:
a) Biaya produksi
Adalah satu unit kegiatan yang dilaksanakan atas suatu komponen atau suatu
produk yang biayanya dialokasikan lebih lanjut.
b) Biaya pelayanan/jasa
Adalah suatu unit yang tidak langsung terlibat dalam kegiatan produksi dan
biaya pada akhirnya dibebankan kepada suatu produksi.
5. Biaya saat dibebabnkan
kepada pendapatan, yaitu:
a) Biaya produk
Adalah biaya-biaya yang dimasukkan pada waktu penghitungan biaya produksi.
Biaya produk termasuk dalam persediaan dan dalam harga pokok penjualan apabila
produk dijual.
b) Biaya periode
Adalah biaya yang berkaitan dengan perjalanan waktu dan bukan dengan jumlah
produk. Biaya ini ditunjukkan pada biaya perhitungan rugi/laba setiap akhir
periode karena tidak ada lagi manfaat yang diterima dimasa mendatang.
6. Biaya dalam hubungannya
dengan volume produksi/penjualan, yaitu:
a) Biaya variabel
Adalah biaya yang jumlahnya berubah secara proporsional dengan perubahan
kegiatan bersangkutan. Biaya satuan tidak berubah dan tidak dipengaruhi oleh
volume.
b) Biaya tetap
Adalah biaya yang tidak berubah jumlahnya sekalipun volume berubah. Harga
satuannya akan turun bila volumenya meningkat.
7. Biaya dalam hubungannya
dengan periode yang dicakup (periode akuntansi), yaitu:
a) Pengeluaran modal
Adalah biaya yang diharapkana akan member manfaat dimasa mendatang dan
diklasifikasikan sebagai aktiva.
b) Pengeluaran pendapatan
Adalah biaya yang diharapkan akan member manfaat pada waktu terjadi
pengeluaran dan biasanya dianggap expense.
8. Biaya dalam hubungannya
dengan tingkat rata-rata, yaitu:
a) Biaya total
Adalah biaya komulatif menurut kategori yang ditentukan.
b) Biaya satuan
Adalah keseluruhan jumlah
biaya dibagi dengan unit/volume.
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa biaya
dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, unsur-unsurnya, dalam hubungannya
dengan produk, hubungannya dengan departemen produksi, biaya saat dibebankan
kepada pendapatan, hubungannya dengan volume produksi/penjualan, hubungannya
dengan periode akuntansi, dan hubungannya dengan tingkat rata-rata.
Pusat biaya (cost
centres) adalah area tanggung jawab yang memproduksi suatu produk atau
memberikan suatu servis. Manajer yang bertanggung jawab atau pusat biaya
mempunyai keleluasaan dan pengendalian biaya pada penggunaan fisik dan sumber
daya manusia untuk menyelesaikan tugas yang diberikan (Amin Widjaja Tunggal,
1993:69).
Selama proses
perencanaan, manajer pusat biaya diberi kuota produksi dan dapat berpartisipasi
dalam menentukan tujuan biaya yang realitas dan wajar untuk tingkat keluaran
yang diantisipasi. Hasil performa secara berkala dilaporkan kepada manajer
dalam bentuk laporan yang membandingkan biaya actual yang terjadi, dengan biaya
yang dianggarkan.
A2. Volume (Penjualan atau
Produksi)
Menurut Halim dan Supomo
(2005:49), volume penjualan berpengaruh terhadap volume produk atau jasa
tersebut. Volume produksi akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi.
Dengan demikian, volume penjualan atau produksi merupakan bagian yang
mempengaruhi perolehan laba perusahaan.
A3. Laba
Laba merupakan salah satu tujuan utama perusahaan
dalam menjalankan aktivitasnya. Pihak manajemen selalu merencanakan besar
perolehan laba setiap periode, yang ditentukan melalui target yang harus
dicapai. Penentuan target besarnya laba ini penting guna mencapai tujuan
perusahaan secara keseluruhan (Kasmir, 2010:302).
Laba yang diperoleh perusahaan akan digunakan
untuk berbagai kepentingan oleh pemilik dan manajemen. Laba akan digunakan
untuk meningkatkan kesejahteraan pemilik dan karyawan atas jasa yang
diperolehnya. Laba juga digunakan untuk penambahan modal dalam rangka
meningkatkan kapasitas produksi untuk melakukan perluasan pemasaran ke berbagai
wilayah.
Dalam prakteknya, laba yang diperoleh perusahaan
terdiri dari dua macam, yaitu:
1. Laba kotor (gross profit); dan
2. Laba bersih (net profit).
Menurut Kasmir (2010:307), ada tiga faktor yang
mempengaruhi perubahan laba kotor, yaitu:
1. Berubahnya harga jual;
2. Berubahnya jumlah
kuantitas (volume) barang yang dijual; dan
3. Berubahnya harga pokok
penjualan.
Menurut Jumingan (2011:165), ada enam faktor yang
mempengaruhi perubahan laba bersih, yaitu:
1. Naik turunnya jumlah unit
yang dijual dan harga jual per unit;
2. Naik turunnya harga pokok
penjualan;
3. Naik turunnya biaya usaha
yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dijual;
4. Naik turunnya posa
penghasilan atau biaya nonoperasional yang dipengaruhi oleh variasi jumlah unit
yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan perubahan kebijaksanaan dalam
pemberian atau penerimaan discount;
5. Naik turunnya pajak
perseroan yang dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang diperoleh atau tinggi
rendahnya tariff pajak; dan
6. Adanya perubahan dalam
metode akuntansi.
Pusat laba adalah segmen dimana manajer mempunyai
pengendalian, baik pendapatan maupun biaya. Manajer dinilai dengan basis
efisiensi mereka dalam menghasilkan pendapatan dan mengendalikan biaya.
Keleluasaan mereka dalam biaya termasuk biaya untuk menghasilkan produk atau
jasa (Amin Widjaja Tunggal, 1993:72).
Dengan menjadikan unit organisasi sebagai pusat
laba, maka kualitas keputusan dapat meningkat, karena keputusan tersebut dibuat
oleh para manajer yang paling dekat dengan titik keputusan.
Kesadaran akan laba dapat lebih ditingkatkan
karena para menajer yang bertanggung jawab atas laba akan selalu mencari cara
dan tindakan yang tepat untuk meningkatkan labanya. Sebagai contoh, seorang
manajer yang bertanggung jawab untuk kegiatan pemasaran cenderung untuk menyetujui
pengeluaran promosi untuk meningkatkan penjualan.
Setelah diuraikan
pengertian dan penjelasan biaya, volume dan laba, maka dapat disimpulkan bahwa
pengertian biaya volume laba (cost volume
profit) adalah suatu hubungan yang menekankan keterkaitan antara biaya,
kuantitas yang terjual dan harga, sehingga semua informasi keuangan perusahaan
terkandung di dalamnya.
B.
Perilaku Biaya
Biaya tetap (fixed
cost) dan biaya variabel (variable
cost) diartikan dalam hubungannya dengan bagaimana biaya total berubah
karena tercapainya fluktuasi kuantitas aktivitas tertentu (Lili M. Sadeli dan
Bedjo Siswanto, 2004:35).
Hansen dan Mowen (2005:84) mendefiniskan perilaku
biaya meupakan istilah umum untuk mengambarkan apakah biaya berubah seiring
dengan perubahan output. Biaya-biaya
bereaksi pada perubahan output seperti
perubahan biaya tetap, biaya variabel dan biaya campuran.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:87), biaya tetap
mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Biaya total yang tidak
berubah atau tidak dipengaruhi oleh periode yang ditentukan atau kegiatan
tertentu.
2. Biaya per unitnya
berbading terbalik dengan perubahan volume, pada volume rendah fixed cost unitnya tinggi, sebaliknya
pada volume yang tinggi fixed cost
per unitnya rendah.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:89), biaya
variabel mempunyai pola sebagai berikut:
1. Total biaya variabel
berubah proporsional dengan perubahan volume/kapasitas, makin besar kapasitas
yang digunakan semakin besar pula total biaya variabel, demikian pula
sebaliknya.
2. Per unit biaya variabel
konstan/tetap. Misalnya biaya bahan langsung, contoh dimuka biaya pemakaian
bahan langsung, bensin, oli yang dihitung dan tergantung kilometer yang
ditempuh.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:100), sifat biaya
campuran seperti berikut ini:
1. Totalnya berubah
mengikuti perubahan volume, tetapi perubahannya tidak proporsional.
2. Per unitnya juga berubah,
tetapi terbalik dengan perubahan volume, dan tidak sebanding.
C.
Contribution Margin: Dasar-dasar
Analisis Cost Volume Profit
Jumlah laba yang diperoleh merupakan indikator
keberhasilan bagi perusahaan yang orientasinya mencari laba. Agar diperoleh
laba seusai yang dikehendaki. Perusahaan perlu menyusun perencanaan laba yang
baik. Hal tersebut ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam memprediksi
kondisi dimasa yang akan dating yang penuh dengan ketidakpastian, serta
mengamati kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi laba perusahaan.
Biaya yang timbul dari perolehan atau untuk pengolahan
suatu produk atau jasa akan mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan.
Dengan adanya analisis perhitungan biaya volume laba dapat merencanakan dan
mengawasi pengeluaran biaya yang terjadi dan volume biaya yang harus diupayakan
perusahaan agar laba yang direncakan dapat dicapai.
Dasar analisis perhitungan biaya volume laba
memanfaatkan contribution margin. Menurut
Sugiri (2002:107), contribution margin merupakan
selisih antara hasil penjualan dan seluruh komponen biaya variabel (produksi, administrasi
dan penjualan).
Contribution
margin positif menunjukkan kelebihan dari hasil penjualan terhadap total biaya
variabel. Selisih positif tersebut menunjukkan dana yang tersedia untuk menutup
biaya. Apabila contribution margin
melebihi jumlah biaya tetap total, maka kelebihan merupakan laba.
Contoh:
Kalau diperhatikan, contribution margin per unit yang besarnya Rp.180,-, maka dapat
dianalisis bahwa setiap unit barang terjual mempunyai kontribusi untuk menutup
biaya tetap sebesar Rp.180,-. Biaya tetap pada laporan diatas menunjukkan
jumlah Rp.720.000,-. Dengan memperhatikan makna contribution margin per
unit, maka dapat dengan cepat diketahui berapa unit barang harus terjual agar
seluruh biaya tetap tadi tertutup. Dengan kata lain, dapat ditentukan titik
impasnya. Agar seluruh biaya tetap tertutup tanpa memperoleh laba, maka jumlah contribution margin total harus sebesar
Rp.720.000,-. Ini tercapai apabila jumlah produk yang terjual adalah 4.000
unit, biay tetap total dibagi dengan contribution
margin per unit (Rp.720.000,-/180 unit).
D.
Perencanaan Laba Melalui
Model Cost Volume Profit (CVP)
Perencanaan laba (profit planning) adalah pengembangan dari suatu
rencanaoperasi guna mencapai cita-cita dan tujuan perusahaan. Laba adalah
penting dalamperencanaan karena tujuan utama dari suatu rencana adalah laba
yang memuaskan (Carter,2009).
Berikut ilustrasi
terhadap perencanaan laba melalui persamaan CVP.
Diasumsikan suatu investasi sebesar Rp.1.000.000,- oleh suatu perusahaan
dan menetapkan return/laba sebesar
15% per tahun.
Biaya tetap saat ini per tahun Rp.400.000,- dengan biaya variabel Rp.15,-
per unit produk. Pada tahun lalu perusahaan memproduksi dan menjual produknya
sebanyak 50.000,- unit dengan harga Rp.25,- per unit.
Bagaimana manajemen dapat mencapai laba Rp.150.000,- (15% x investasi)?
Problemnya dapat diatasi dengan beberapa cara berikut.
D.1. Mengurangi Biaya Tetap
Persamaan:
Laba = HJp x Q – Total BT – BVp x Q
HJp = Harga jual per unit
BT = Biaya Tetap
BVp = Biaya variabel per unit
Maka,
Rp.150.000,- = (50.000 x Rp.25) – Total BT – (50.000 x
Rp.15)
Rp.150.000,- = Rp.1.250.000,- – Total BT – Rp.750.000,-
Total BT = Rp.1.250.000,- – Rp.750.000,- – Rp.150.000,-
Total BT = Rp.350.000,-
Atau Total Biaya Tetap harus berkurang sebesar Rp.50.000,-
(Rp.400.000,- – Rp.350.000,-).
D.2. Mengurangi Biaya Variabel
Rp.150.000,- = (50.000 x Rp.25) – Rp.400.000,- – (50.000 x
BVp)
Rp.150.000,- = Rp.1.250.000,- – Rp.400.000,- – (50.000 x
BVp)
50.000 x BVp = Rp.1.250.000,- – Rp.400.000,- – Rp.150.000,-
50.000 x BVp = Rp.700.000,-
BV per unit = 700.000/50.000
= Rp.14,-
Atau biaya variabel per unit turun sebesar Rp.1,-
(Rp.15 – Rp.14).
D.3. Meningkatkan Harga Jual
Per Unit
Rp.150.000,- = (50.000 x HJp) – Rp.400.000,- – (50.000 x
Rp.15,-)
Rp.150.000,- = (50.000 x HJp) – Rp.400.000,- – Rp.750.000,-
50.000 x HJp = Rp.150.000,- + Rp.400.000,- + Rp.750.000,-
50.000 x HJp = Rp.1.300.000,-
HJ per unit = 1.300.000/50.000
= Rp.26,-
Atau harga jual harus dinaikkan sebesar Rp.1,-
(Rp.26 – Rp.25,-).
D.4. Meningkatkan Unit (Q)
yang Dijual
Rp.150.000,- = (Rp.25,- x Q) – Rp.400.000,- – (Rp.15,- x Q)
(Rp.25,- x Q) – (Rp.15,- x Q) = Rp.400.000,- + Rp.150.000,-
Rp.10,- x Q = Rp.550.000,-
Q = 550.000/10 = 55.000 unit
Atau manajemen perlu menaikkan kuantitas atau
volume penjualan sebesar 5.000 unit atau 10% dari unit tahun lalu, agar
mendapatkan laba yang diinginkan sebsar Rp.150.000,-.
E.
Analisis Titik Impas (Break Even Point)
Dalam
rangka memproduksi atau menghasilkan suatu produk, baik barang maupun jasa,
perusahaan terkadang perlu terlebih dahulu merencanakan berapa besar laba yang
ingin diperoleh. Artinya dalam hal ini besar laba merupakan prioritas yang
harus dicapai perusahaan, di samping hal-hal lainnya. Agar perolehan laba mudah
ditentukan, salah satu caranya adalah perusahaan harus mengetahui terlebih
dahulu berapa titik impasnya break even
point). Artinya perusahaan
beroperasi pada jumlah produksi atau penjualan tertentu sehingga perusahaan
tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan.
Menurut
Kasmir (2010:332), analisis titik impas (break
even point analysis) digunakan untuk mengetahui pada titik berapa hasil
penjualan sama dengan jumlah biaya. Atau perusahaan beroperasi dalam kondisi
tidak laba atau tidak rugi, atau laba sama dengan nol.
Menurut
Jumingan (2011:183), analisis titik impas atau analisis break even point diperlukan untuk mengetahui hubungan antara volume
produksi, volume penjualan, harga jual, biaya produksi, biaya lainnya baik yang
bersifat tetap maupun variabel, dan laba atau rugi.
Dari
uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa melalui analisis titik impas, akan
diketahui bagaimana hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan
volume kegiatan (penjualan atau produksi). Analisis break even point memberikan pedoman tentang berapa jumlah produk
minimal yang harus diproduksi atau dijual.
Penggunaan
analisis titik impas bagi perusahaan memberikan banyak manfaat. Secara umum
analisis titik impas digunakan sebagai alat untuk mengambil keputusan dalam
perencanaan keuangan, penjualan, dan produksi.
Menurut
Kasmir (2010:334-335), penggunaan analisis titik impas memiliki beberapa tujuan
yang dicapai, yaitu:
1. Mendesain spesifikasi produk;
2. Menentukan harga jual per satuan;
3. Menentukan jumlah produksi atau penjualan
minimal agar tidak mengalami kerugian;
4. Memaksimalkan jumlah produksi; dan
5. Merencanakan laba yang diinginkan.
Disamping
memiliki tujuan dan mempu memberikan manfaa yang cukup banyak bagi perusahaan,
analisis titik impas juga memiliki beberapa kelemahan. Menurut Kasmir
(2010:336-337), kelemahan dari analisis titik impas sebagai berikut:
1. Perlu asumsi;
2. Bersifat statis;
3. Tidak digunakan untuk mengambil keputusan
akhir;
4. Tidak menyediakan pengujian aliran kas yang
baik;
5. Hubungan penjualan dan biaya;
6. Kurang mempertimbangkan resiko-resiko yang
terjadi selama masa penjualan; dan
7. Pengukuran kemungkinan penjualan.
Menurut
Kasmir (2010:338), menjelaskan asumsi-asumsi dan keterbatasan analisis titik
impas sebagai berikut:
1. Biaya
Dalam
analisis titik impas, hanya digunakan dua macam biaya, yaitu biaya tetap dan
biaya variabel. Oleh karena itu, harus dipisahkan komponen antara biaya tetap
dan biaya variabel.
2. Biaya tetap (fixed cost)
Merupakan
biaya yang secara total tidak mengalami perubahan, walaupun ada perubahan
volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu).
3. Biaya variabel (variabel cost)
Merupakan
biaya yang secara total berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi
atau penjualan.
4. Harga jual
Harga jual
maksudnya dalam analisis ini hanya digunakan untuk satu macam harga jual atau
harga barang yang dijual atau diproduksi.
5. Tidak ada perubahan harga jual
Artinya diasumsikan harga jual per satuan
tidak dapat berubah selama periode analisis.
F.
Analisis Perhitungan Titik Impas (Break Even Point)
Analisis
titik impas (break even point) dapat
dihitung dengan menggunakan metode persamaan (equation method) dan metode margin kontribusi (contribution margin method). Kedua metode tersebut ekuivalen.
Adapun kedua metode tersebut adalah:
DAFTAR PUSTAKA
Lamsihar. 2009. Analisis Perhitungan Biaya Volume Laba untuk
Mencapai Target Laba pada PT Indoteras Sumatera Medan. Skripsi. Universitas
Sumatera Utara dalam http://www.google.com/
Verawati, Eti. Penerapan Metode CVP (Cost-Volume-Profit)
sebagai Alat Bantu Analisis Perencanaan Laba dalam Mencapai Target Perusahaan
pada UKM Vinito Brownis. Skripsi. Universitas Dian Nuswantoro Semarang
dalam http://www.google.com/

No comments:
Post a Comment