Tuesday, January 10, 2017

ANALISIS BIAYA VOLUME LABA (COST VOLUME PROFIT ANALYSIS)

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Analisis biaya volume laba (cost volume profit analysis) merupakan suatu alat yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dalam suatu perusahaan. Karena analisis biaya volume laba menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas yang terjual, dan harga, semua informasi keuangan perusahaan terkandung di dalamnya. Analisis biaya volume laba dapat menjadi suatu alat yang bermanfaat untuk mengidentifikasi cakupan dan besarnya kesulitan ekonomi yang dihadapi suatu perusahaan dan membantu mencari pemecahannya. Tujuan dari suatu perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang maksimal agar kelangsungan hidup perusahaan terus berjalan. Besar kecilnya laba perusahaan akan menjadi ukuran sukses tidaknya manajemen dalam mengelola perusahaan. Sedang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat laba adalah harga jual, biaya dan volume penjualan.
Tingkat laba perusahaan dipengaruhi secara langsung oleh harga jual per unit, volume penjualan, total biaya tetap dan biaya variabel satuan. Perubahan salah satu atau beberapa komponen diatas dapat berpengaruh dalam proses penyusunan atau perencanaan laba. Untuk itu, diperlakukan penilaian atau evaluasi terhadap perubahan-perubahan tersebut. Digunakan analisis biaya volume laba menyebabkan perusahaan dapat merencanakan tingkat labanya secara teliti dan akurat.


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Biaya Volume Laba(Cost Volume Profit)
Sebelum menjelaskan pengertian biaya volume laba, maka kata biaya volume laba jika diuraikan terdiri dari 3 bagian, yaitu:
1.     Biaya
2.     Volume (penjualan atau produksi)
3.     Laba
Penguraian ini perlu dijelaskan agar dapat lebih dipahami dan dimengerti arti dari biaya volume laba itu sendiri.
A1.  Biaya(Cost)
Dalam arti sempit, biaya (cost) memiliki arti pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva, jumlah yang dikorbankan tersebut secara tidak langsung disebut harga pokok dan dicatat pada neraca sebagai aktiva. Secara luas, biaya(cost) mengandung arti pengorbanan sumber ekonomi yang dapat diukur dalam satuan uang, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi untuk tujuan tertentu (Iman Firmansyah, 2014:25).
Menurut American Accounting Association, yang dikutip oleh Kamaruddin Ahmad (2013:34), biaya (cost) adalah pengeluaran yang diukur dalam moneter yang telah dikeluarkan atau potensial akan dikeluarkan untuk memperoleh dan mencapai tujuan tertentu.
Pengukuran biaya sebagian besar bergantung padakemampuan untuk menelusuri biaya terhadap objek biaya. Objek biaya merupakan sesuatu atau aktivitas dimana biaya diakumulasikan (Kaharuddin Ahmad, 2013:13).
Kaharuddin Ahmad (2013:13) menambahkan bahwa ada empat jenis objek biaya adalah: (1) produk atau kelompok produk yang saling berhubungan; (2) jasa; (3) departemen (teknik dan sumber daya manusia); dan (4) proyek, seperti penelitian, promosi pemasaran atau usaha jasa.
Seringkali kata biaya (cost) dan beban (expense) terkadang diasumsikan memiliki pengertian yang sama. Padahal dalam penerapan di perusahaan diperoleh penjelasan yang berbeda tentang keduanya. Menurut AICPA dalam Accounting Terminology Bulleting No. 4, yang dikutip oleh Winwin Yadiati (2010:77), beban (expense) adalah expired cost, yaitu biaya yang manfaatnya telah digunakan dan berkaitan dengan revenues untuk periode yang bersangkutan.
Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa biaya dan beban merupakan suatu bentuk pengorbanan sumber ekonomi, tetapi tujuan pengorbanannya berbeda. Biaya dikeluarkan untuk memperoleh barang dan jasa, sedangkan beban untuk memperoleh pendapatan.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:34-36), biaya dapat diklasifikasikan menjadi:
1.     Biaya berdasarkan fungsinya, yaitu:
a)     Biaya produksi
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu barang.
b)     Biaya pemasaran
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk menjual suatu barang atau jasa.
c)      Biaya administrasi
Adalah pengeluaran untuk menjalankan kebijaksanaan-kebijaksanaan.
d)     Biaya keuangan
Adalah bagian pengeluaran yang dikaitkan upaya mencari dana.
2.     Biaya berdasarkan unsur-unsurnya, yaitu:
a)     Bahan langsung
Adalah bahan baku yang merupakan bagian yang integral dari produk jadi.
b)     Upah langsung
Adalah upah tenaga kerja langsung untuk keperluan komponen produk jadi.
c)      Biaya umum pabrik
Adalah mencakup segala bahan, upah tidak langsung serta biaya produksi yang tidak langsung dapat dibebankan pada satuan, pekerjaan atau produk tertentu.
3.     Biaya dalam hubungannya dengan produk, yaitu:
a)     Biaya langsung
Adalah biaya yang dibebankan kepada produk tanpa memerlukan alokasi lebih lanjut.
b)     Biaya tidak langsung
Adalah biaya yang dialokasikan.
4.     Biaya dalam hubungannya dengan departemen produksi, yaitu:
a)     Biaya produksi
Adalah satu unit kegiatan yang dilaksanakan atas suatu komponen atau suatu produk yang biayanya dialokasikan lebih lanjut.
b)     Biaya pelayanan/jasa
Adalah suatu unit yang tidak langsung terlibat dalam kegiatan produksi dan biaya pada akhirnya dibebankan kepada suatu produksi.
5.     Biaya saat dibebabnkan kepada pendapatan, yaitu:
a)     Biaya produk
Adalah biaya-biaya yang dimasukkan pada waktu penghitungan biaya produksi. Biaya produk termasuk dalam persediaan dan dalam harga pokok penjualan apabila produk dijual.
b)     Biaya periode
Adalah biaya yang berkaitan dengan perjalanan waktu dan bukan dengan jumlah produk. Biaya ini ditunjukkan pada biaya perhitungan rugi/laba setiap akhir periode karena tidak ada lagi manfaat yang diterima dimasa mendatang.
6.     Biaya dalam hubungannya dengan volume produksi/penjualan, yaitu:
a)     Biaya variabel
Adalah biaya yang jumlahnya berubah secara proporsional dengan perubahan kegiatan bersangkutan. Biaya satuan tidak berubah dan tidak dipengaruhi oleh volume.
b)     Biaya tetap
Adalah biaya yang tidak berubah jumlahnya sekalipun volume berubah. Harga satuannya akan turun bila volumenya meningkat.
7.     Biaya dalam hubungannya dengan periode yang dicakup (periode akuntansi), yaitu:
a)     Pengeluaran modal
Adalah biaya yang diharapkana akan member manfaat dimasa mendatang dan diklasifikasikan sebagai aktiva.
b)     Pengeluaran pendapatan
Adalah biaya yang diharapkan akan member manfaat pada waktu terjadi pengeluaran dan biasanya dianggap expense.
8.     Biaya dalam hubungannya dengan tingkat rata-rata, yaitu:
a)     Biaya total
Adalah biaya komulatif menurut kategori yang ditentukan.
b)     Biaya satuan
Adalah keseluruhan jumlah biaya dibagi dengan unit/volume.
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa biaya dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, unsur-unsurnya, dalam hubungannya dengan produk, hubungannya dengan departemen produksi, biaya saat dibebankan kepada pendapatan, hubungannya dengan volume produksi/penjualan, hubungannya dengan periode akuntansi, dan hubungannya dengan tingkat rata-rata.
Pusat biaya (cost centres) adalah area tanggung jawab yang memproduksi suatu produk atau memberikan suatu servis. Manajer yang bertanggung jawab atau pusat biaya mempunyai keleluasaan dan pengendalian biaya pada penggunaan fisik dan sumber daya manusia untuk menyelesaikan tugas yang diberikan (Amin Widjaja Tunggal, 1993:69).
Selama proses perencanaan, manajer pusat biaya diberi kuota produksi dan dapat berpartisipasi dalam menentukan tujuan biaya yang realitas dan wajar untuk tingkat keluaran yang diantisipasi. Hasil performa secara berkala dilaporkan kepada manajer dalam bentuk laporan yang membandingkan biaya actual yang terjadi, dengan biaya yang dianggarkan.
A2.  Volume (Penjualan atau Produksi)
Menurut Halim dan Supomo (2005:49), volume penjualan berpengaruh terhadap volume produk atau jasa tersebut. Volume produksi akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi. Dengan demikian, volume penjualan atau produksi merupakan bagian yang mempengaruhi perolehan laba perusahaan.
A3.  Laba
Laba merupakan salah satu tujuan utama perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya. Pihak manajemen selalu merencanakan besar perolehan laba setiap periode, yang ditentukan melalui target yang harus dicapai. Penentuan target besarnya laba ini penting guna mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan (Kasmir, 2010:302).
Laba yang diperoleh perusahaan akan digunakan untuk berbagai kepentingan oleh pemilik dan manajemen. Laba akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan pemilik dan karyawan atas jasa yang diperolehnya. Laba juga digunakan untuk penambahan modal dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi untuk melakukan perluasan pemasaran ke berbagai wilayah.
Dalam prakteknya, laba yang diperoleh perusahaan terdiri dari dua macam, yaitu:
1.     Laba kotor (gross profit); dan
2.     Laba bersih (net profit).
Menurut Kasmir (2010:307), ada tiga faktor yang mempengaruhi perubahan laba kotor, yaitu:
1.     Berubahnya harga jual;
2.     Berubahnya jumlah kuantitas (volume) barang yang dijual; dan
3.     Berubahnya harga pokok penjualan.
Menurut Jumingan (2011:165), ada enam faktor yang mempengaruhi perubahan laba bersih, yaitu:
1.     Naik turunnya jumlah unit yang dijual dan harga jual per unit;
2.     Naik turunnya harga pokok penjualan;
3.     Naik turunnya biaya usaha yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dijual;
4.     Naik turunnya posa penghasilan atau biaya nonoperasional yang dipengaruhi oleh variasi jumlah unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan perubahan kebijaksanaan dalam pemberian atau penerimaan discount;
5.     Naik turunnya pajak perseroan yang dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang diperoleh atau tinggi rendahnya tariff pajak; dan
6.     Adanya perubahan dalam metode akuntansi.
Pusat laba adalah segmen dimana manajer mempunyai pengendalian, baik pendapatan maupun biaya. Manajer dinilai dengan basis efisiensi mereka dalam menghasilkan pendapatan dan mengendalikan biaya. Keleluasaan mereka dalam biaya termasuk biaya untuk menghasilkan produk atau jasa (Amin Widjaja Tunggal, 1993:72).
Dengan menjadikan unit organisasi sebagai pusat laba, maka kualitas keputusan dapat meningkat, karena keputusan tersebut dibuat oleh para manajer yang paling dekat dengan titik keputusan.
Kesadaran akan laba dapat lebih ditingkatkan karena para menajer yang bertanggung jawab atas laba akan selalu mencari cara dan tindakan yang tepat untuk meningkatkan labanya. Sebagai contoh, seorang manajer yang bertanggung jawab untuk kegiatan pemasaran cenderung untuk menyetujui pengeluaran promosi untuk meningkatkan penjualan.
Setelah diuraikan pengertian dan penjelasan biaya, volume dan laba, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian biaya volume laba (cost volume profit) adalah suatu hubungan yang menekankan keterkaitan antara biaya, kuantitas yang terjual dan harga, sehingga semua informasi keuangan perusahaan terkandung di dalamnya.
B.    Perilaku Biaya
Biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) diartikan dalam hubungannya dengan bagaimana biaya total berubah karena tercapainya fluktuasi kuantitas aktivitas tertentu (Lili M. Sadeli dan Bedjo Siswanto, 2004:35).
Hansen dan Mowen (2005:84) mendefiniskan perilaku biaya meupakan istilah umum untuk mengambarkan apakah biaya berubah seiring dengan perubahan output. Biaya-biaya bereaksi pada perubahan output seperti perubahan biaya tetap, biaya variabel dan biaya campuran.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:87), biaya tetap mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1.     Biaya total yang tidak berubah atau tidak dipengaruhi oleh periode yang ditentukan atau kegiatan tertentu.
2.     Biaya per unitnya berbading terbalik dengan perubahan volume, pada volume rendah fixed cost unitnya tinggi, sebaliknya pada volume yang tinggi fixed cost per unitnya rendah.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:89), biaya variabel mempunyai pola sebagai berikut:
1.     Total biaya variabel berubah proporsional dengan perubahan volume/kapasitas, makin besar kapasitas yang digunakan semakin besar pula total biaya variabel, demikian pula sebaliknya.
2.     Per unit biaya variabel konstan/tetap. Misalnya biaya bahan langsung, contoh dimuka biaya pemakaian bahan langsung, bensin, oli yang dihitung dan tergantung kilometer yang ditempuh.
Menurut Kamaruddin Ahmad (2013:100), sifat biaya campuran seperti berikut ini:
1.     Totalnya berubah mengikuti perubahan volume, tetapi perubahannya tidak proporsional.
2.     Per unitnya juga berubah, tetapi terbalik dengan perubahan volume, dan tidak sebanding.

C.    Contribution Margin: Dasar-dasar Analisis Cost Volume Profit
Jumlah laba yang diperoleh merupakan indikator keberhasilan bagi perusahaan yang orientasinya mencari laba. Agar diperoleh laba seusai yang dikehendaki. Perusahaan perlu menyusun perencanaan laba yang baik. Hal tersebut ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam memprediksi kondisi dimasa yang akan dating yang penuh dengan ketidakpastian, serta mengamati kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi laba perusahaan.
Biaya yang timbul dari perolehan atau untuk pengolahan suatu produk atau jasa akan mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan. Dengan adanya analisis perhitungan biaya volume laba dapat merencanakan dan mengawasi pengeluaran biaya yang terjadi dan volume biaya yang harus diupayakan perusahaan agar laba yang direncakan dapat dicapai.
Dasar analisis perhitungan biaya volume laba memanfaatkan contribution margin. Menurut Sugiri (2002:107), contribution margin merupakan selisih antara hasil penjualan dan seluruh komponen biaya variabel (produksi, administrasi dan penjualan).
Contribution margin positif menunjukkan kelebihan dari hasil penjualan terhadap total biaya variabel. Selisih positif tersebut menunjukkan dana yang tersedia untuk menutup biaya. Apabila contribution margin melebihi jumlah biaya tetap total, maka kelebihan merupakan laba.
Contoh:

Kalau diperhatikan, contribution margin per unit yang besarnya Rp.180,-, maka dapat dianalisis bahwa setiap unit barang terjual mempunyai kontribusi untuk menutup biaya tetap sebesar Rp.180,-. Biaya tetap pada laporan diatas menunjukkan jumlah Rp.720.000,-. Dengan memperhatikan makna contribution margin  per unit, maka dapat dengan cepat diketahui berapa unit barang harus terjual agar seluruh biaya tetap tadi tertutup. Dengan kata lain, dapat ditentukan titik impasnya. Agar seluruh biaya tetap tertutup tanpa memperoleh laba, maka jumlah contribution margin total harus sebesar Rp.720.000,-. Ini tercapai apabila jumlah produk yang terjual adalah 4.000 unit, biay tetap total dibagi dengan contribution margin per unit (Rp.720.000,-/180 unit).

D.    Perencanaan Laba Melalui Model Cost Volume Profit (CVP)
Perencanaan laba (profit planning) adalah pengembangan dari suatu rencanaoperasi guna mencapai cita-cita dan tujuan perusahaan. Laba adalah penting dalamperencanaan karena tujuan utama dari suatu rencana adalah laba yang memuaskan (Carter,2009).
Berikut ilustrasi terhadap perencanaan laba melalui persamaan CVP.
Diasumsikan suatu investasi sebesar Rp.1.000.000,- oleh suatu perusahaan dan menetapkan return/laba sebesar 15% per tahun.
Biaya tetap saat ini per tahun Rp.400.000,- dengan biaya variabel Rp.15,- per unit produk. Pada tahun lalu perusahaan memproduksi dan menjual produknya sebanyak 50.000,- unit dengan harga Rp.25,- per unit.
Bagaimana manajemen dapat mencapai laba Rp.150.000,-        (15% x investasi)?
Problemnya dapat diatasi dengan beberapa cara berikut.
D.1.   Mengurangi Biaya Tetap
Persamaan:
Laba     =  HJp x Q – Total BT – BVp x Q
HJp       =  Harga jual per unit
BT         =  Biaya Tetap
BVp       =  Biaya variabel per unit
Maka,
Rp.150.000,-   =   (50.000 x Rp.25) – Total BT – (50.000 x Rp.15)
Rp.150.000,-   =   Rp.1.250.000,- – Total BT – Rp.750.000,-
Total BT           =   Rp.1.250.000,- – Rp.750.000,- – Rp.150.000,-
Total BT           =   Rp.350.000,-
Atau Total Biaya Tetap harus berkurang sebesar Rp.50.000,- (Rp.400.000,- Rp.350.000,-).
D.2.   Mengurangi Biaya Variabel
Rp.150.000,-   =   (50.000 x Rp.25) – Rp.400.000,- – (50.000 x BVp)
Rp.150.000,-   =   Rp.1.250.000,- – Rp.400.000,- – (50.000 x BVp)
50.000 x BVp  =   Rp.1.250.000,- – Rp.400.000,- – Rp.150.000,-
50.000 x BVp  =   Rp.700.000,-
BV per unit      =  700.000/50.000  = Rp.14,-
Atau biaya variabel per unit turun sebesar Rp.1,- (Rp.15 – Rp.14).
D.3.   Meningkatkan Harga Jual Per Unit
Rp.150.000,-   =   (50.000 x HJp) – Rp.400.000,- – (50.000 x Rp.15,-)
Rp.150.000,-   =   (50.000 x HJp) – Rp.400.000,- – Rp.750.000,-
50.000 x HJp   =   Rp.150.000,- + Rp.400.000,- + Rp.750.000,-
50.000 x HJp   =   Rp.1.300.000,-
HJ per unit      =  1.300.000/50.000  = Rp.26,-
Atau harga jual harus dinaikkan sebesar Rp.1,- (Rp.26 – Rp.25,-).
D.4.   Meningkatkan Unit (Q) yang Dijual
Rp.150.000,-   =   (Rp.25,- x Q) – Rp.400.000,- – (Rp.15,- x Q)
(Rp.25,- x Q) – (Rp.15,- x Q) = Rp.400.000,- + Rp.150.000,-
Rp.10,- x Q      =   Rp.550.000,-
Q                       =   550.000/10 = 55.000 unit
Atau manajemen perlu menaikkan kuantitas atau volume penjualan sebesar 5.000 unit atau 10% dari unit tahun lalu, agar mendapatkan laba yang diinginkan sebsar Rp.150.000,-.

E.     Analisis Titik Impas (Break Even Point)
Dalam rangka memproduksi atau menghasilkan suatu produk, baik barang maupun jasa, perusahaan terkadang perlu terlebih dahulu merencanakan berapa besar laba yang ingin diperoleh. Artinya dalam hal ini besar laba merupakan prioritas yang harus dicapai perusahaan, di samping hal-hal lainnya. Agar perolehan laba mudah ditentukan, salah satu caranya adalah perusahaan harus mengetahui terlebih dahulu berapa titik impasnya break even point).  Artinya perusahaan beroperasi pada jumlah produksi atau penjualan tertentu sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan.
Menurut Kasmir (2010:332), analisis titik impas (break even point analysis) digunakan untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya. Atau perusahaan beroperasi dalam kondisi tidak laba atau tidak rugi, atau laba sama dengan nol.
Menurut Jumingan (2011:183), analisis titik impas atau analisis break even point diperlukan untuk mengetahui hubungan antara volume produksi, volume penjualan, harga jual, biaya produksi, biaya lainnya baik yang bersifat tetap maupun variabel, dan laba atau rugi.
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa melalui analisis titik impas, akan diketahui bagaimana hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan (penjualan atau produksi). Analisis break even point memberikan pedoman tentang berapa jumlah produk minimal yang harus diproduksi atau dijual.
Penggunaan analisis titik impas bagi perusahaan memberikan banyak manfaat. Secara umum analisis titik impas digunakan sebagai alat untuk mengambil keputusan dalam perencanaan keuangan, penjualan, dan produksi.
Menurut Kasmir (2010:334-335), penggunaan analisis titik impas memiliki beberapa tujuan yang dicapai, yaitu:
1.     Mendesain spesifikasi produk;
2.     Menentukan harga jual per satuan;
3.     Menentukan jumlah produksi atau penjualan minimal agar tidak mengalami kerugian;
4.     Memaksimalkan jumlah produksi; dan
5.     Merencanakan laba yang diinginkan.
Disamping memiliki tujuan dan mempu memberikan manfaa yang cukup banyak bagi perusahaan, analisis titik impas juga memiliki beberapa kelemahan. Menurut Kasmir (2010:336-337), kelemahan dari analisis titik impas sebagai berikut:
1.     Perlu asumsi;
2.     Bersifat statis;
3.     Tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir;
4.     Tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik;
5.     Hubungan penjualan dan biaya;
6.     Kurang mempertimbangkan resiko-resiko yang terjadi selama masa penjualan; dan
7.     Pengukuran kemungkinan penjualan.
Menurut Kasmir (2010:338), menjelaskan asumsi-asumsi dan keterbatasan analisis titik impas sebagai berikut:
1.     Biaya
Dalam analisis titik impas, hanya digunakan dua macam biaya, yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Oleh karena itu, harus dipisahkan komponen antara biaya tetap dan biaya variabel.
2.     Biaya tetap (fixed cost)
Merupakan biaya yang secara total tidak mengalami perubahan, walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan (dalam batas tertentu).
3.     Biaya variabel (variabel cost)
Merupakan biaya yang secara total berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi atau penjualan.
4.     Harga jual
Harga jual maksudnya dalam analisis ini hanya digunakan untuk satu macam harga jual atau harga barang yang dijual atau diproduksi.
5.     Tidak ada perubahan harga jual
Artinya diasumsikan harga jual per satuan tidak dapat berubah selama periode analisis.

F.     Analisis Perhitungan Titik Impas (Break Even Point)
Analisis titik impas (break even point) dapat dihitung dengan menggunakan metode persamaan (equation method) dan metode margin kontribusi (contribution margin method). Kedua metode tersebut ekuivalen. Adapun kedua metode tersebut adalah:



DAFTAR PUSTAKA
Lamsihar. 2009. Analisis Perhitungan Biaya Volume Laba untuk Mencapai Target Laba pada PT Indoteras Sumatera Medan. Skripsi. Universitas Sumatera Utara dalam http://www.google.com/

Verawati, Eti. Penerapan Metode CVP (Cost-Volume-Profit) sebagai Alat Bantu Analisis Perencanaan Laba dalam Mencapai Target Perusahaan pada UKM Vinito Brownis. Skripsi. Universitas Dian Nuswantoro Semarang dalam http://www.google.com/

No comments: