Bab ini akan
membahas mengenai kompensasi bagi manajemen. Kompensasi merupakan mekanisme
penting dalam pemberian penghargaan terhadap anggota organisasi dalam mendorong
dan memotivasi anggota mencapai tujuan organisasi.
A. KARAKTERISTIK RENCANA KOMPENSASI INSENTIF
Paket
kompensasi dari seorang manajer terdiri dari 3 komponen yaitu:
- Gaji
- Benefit (biasanya selain
dalam bentuk dana pensiun dan manfaat kesehatan, juga berbagai bentuk
penghasilan tambahan lainnya).
- Kompensasi insentif
Ketiga komponen di atas saling
berkait, tapi kompensasi insentif secara khusus berkaitan dengan fungsi
pengendalian manajemen. Kompensasi tersebut berbeda dengan dua jenis kompensasi
yang lain yaitu gaji atau upah dan berbagai jenis tunjangan. Kompensasi
insentif akan diterima anggota organisasi apabila realisasi laba, volume
produksi, volume penjualan atau hasil penjualan berada diatas anggaran.
Perbedaan lainnya antara insentif dengan gaji dan tunjangan-tunjangan adalah
dalam pembagian jumlah yang akan diterima oleh manajer dan karyawan.
Rencana kompensasi insentif dapat
dibagi menjadi dua yaitu: (1) rencana kompensasi jangka pendek dan (2)
kompenasi insentif jangka panjang.
B. RENCANA INSENTIF JANGKA PENDEK
Formula yang dapat digunakan
untuk mencapai jumlah total bonus yang bisa dibayar pada kelompok yang
berkualifikasi dari pegawai pada tahun yang diberikan, yang disebut ”bonus
pool”. Metode penentuan ”bonus pool” dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Metode paling sederhana adalah membuat formula bonus dengan menentukan
persentase tertentu dari laba.
Dana bonus =X % x Laba bersih
2. Metode bonus didasarkan pada persentase tertentu dari laba setelah tingkat
laba per saham (EPS) minimum tercapai.
Dana bonus = X % x ( Laba bersih –Total EPS Minimum)
Metode ini tidak memperhitungkan
kenaikan dari laba yang diinvestasikan kembali. Agar metode ini tetap relevan
digunaka, maka laba per lembar saham (EPS) minimum harus disesuaikan untuk
tahun-tahun berikutnya dengan cara meningkatkan angka minimum EPS dengan
persentase tertentu dari kenaikan laba yang ditahan.
3. Metode lain yang menghubungkan
laba dengan modal yang digunakan. Modal dalam hal ini adalah kekayaan pemegang
saham ditambah hutang jangka panjang. Bonus dalam hal ini sama dengan
presentase laba sebelum pajak dan bunga atas hutang jangka panjang minus beban
modal atas total kekayaan pemegang saham ditambah hutang jangka panjang.
Perusahaan yang memakai metode
ini mendasari pada alasan bahwa kinerja manajemen hendaknya didasarkan pada
penggunaan aset neto yang menghasilkan laba, dan karena proporsi utang jangka
panjang terhadap modal ditentukan oleh kebijakan keuangan, maka proporsi ini
seharusnya tidak berpengaruh terhadap penilaian kinerja operasional.
4. Metode lain yang digunakan adalah sama dengan metode ke-3, tetapi
pengertian modal dalam hal ini sama dengan kekayaan pemegang saham.
Kesulitan dari metode ketiga dan keempat adalah jika pada satu tahun
mengalami kerugian akan mengurangi kekayaan pemegang saham, sebaliknya
meningkatnya bonus yang harus dibayar pada tahun yang mengalami keuntungan.
5. Bonus didasarkan pada kenaikan profitabilitas suatu tahun dibandingkan
dengan tahun sebelumnya.
6. Bonus didasarkan pada kemampuan
memperoleh laba perusahan relatif dibandingkan dengan kemampuan memperoleh laba
industri. Mencari data industri yang diperbandingkan mungkin saja sulit, karena
hanya beberapa perusahaan saja yang mempunyai campuran produk dan sistem
akuntansi yang sama. Akibatnya metode ini dapat memberikan bonus yang tinggi
pada tahun-tahun yang pas-pasan karena salah satu atau lebih komponen industri
pesaing mengalami tahun terburuk.
Carryovers.
Merupakan rencana insentif jangka
pendek, dimana diatur agar setiap tahun dibagi bonus, dan bonus yang dibagikan
tidak tergantung pada beasrnya laba. Misalnya, pemberian gaji ke-13.
Keuntungan dari metode ini
adalah:
1. Fleksibel yaitu pemberian bonus
tidak ditentukan secara otomatis formula dan dipengaruhi oleh judgement
dewan komisaris.
2. Mengurangi anggapan bahwa bonus
didasarkan pada formula tertentu.
Kelemahannya adalah tidak secara
langsung menggambarkan kinerja sesungguhnya saat ini.
Kompensasi yang Ditunda .
Jumlah bonus dihitung setiap
tahun, pembayarannya bisa saja dilakukan beberapa kali sepanjang periode
tertentu.
Contoh bonus yang dibagikan
secara beberapa kali dalam jangka waktu 5 tahun (tiap tahun mendapat 20%):
Tahun
|
Bonus
Tahun
1
|
Bonus
Tahun
2
|
Bonus
Tahun
3
|
Bonus
Tahun
4
|
Bonus
Tahun
5
|
Bonus
Tahun
6
|
1
|
20%
|
|||||
2
|
20%
|
20%
|
||||
3
|
20%
|
20%
|
20%
|
|||
4
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
||
5
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
6
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
|
7
|
20%
|
20%
|
20%
|
20%
|
||
8
|
20%
|
20%
|
20%
|
|||
9
|
20%
|
20%
|
||||
10
|
20%
|
Keuntungan dari sistem pembayaran
bonus seperti ini adalah:
1. Manajer bisa mengestimasi dengan
akurasi yang rasional pendapatan tunai mereka untuk tahun mendatang.
2. Pembayaran yang
ditunda meratakan penerimaan kas manajer, karena pengaruh fluktuasi siklik.
3. Seorang manajer yang berhenti
akan terus menerima pembayaran samapai beberapa tahun.
4. Dengan ditundanya waktu
pembayaran akan mendorong pemikiran yang lebih jauh untuk menghasilkan
keputusan yang tepat.
Kelemahanya adalah bahwa bonus yang menjadi hak manajer tidak sepenuhnya
diterima pada tahun bonus yang dihasilkan. Hal ini akan mengakibatkan kurangnya
motivasi secara langsung dari insentif, karena bonus tidak berhubungan langsung
dengan laba atau kinerja.
C. RENCANA INSENTIF JANGKA PENDEK
Kompensasi insentif jangka
panjang dihubungkan dengan nilai atau harga saham dipasar modal. Alasan
mendasar penerapan rencana ini adalah bahwa pertumbuhan dalam nilai modal saham
perusahaan menunjukkan prestasi perusahaan dalam jangka panjang,. Ada beberapatiperencanayaitu :
1. Stock Option,
yaitu hak untuk membeli sejumlah saham dengan harga yang
disetujui pada saat opsi itu dilakukan (biasanya harga pasar atau 95%
dari harga pasar saat ini) selama periode tertentu di masa yang akan datang.
2. Phantom Stock,
yaitu memberi penghargaan kepada manajer dengan sejumlah saham secara akuntansi saja.
3. Stock Appreciation Rihgts,
yaitu hak untuk menerima pembayaran kas didasarkan pada peningkatan nilai saham sajak saat pemberian hadiah hingga periode
yang telah ditentutakan di masa mendatang.
4. Performance Shares,
yaitu memberikan penghargaan jumlah saham tertentu pada manajer apabila tujuan jangka panjang telah tercapai.
5. Performance Unit. Penghargaan atas kinerja yaitu
menerima bonus berupa kas atas tercapainya target jangka panjang tertentu.
D.
INSENTIF UNTUK CORPORATE OFFICER
Setiap pimpinan perusahaan,
kecuali chief eecutife officer ikut bertanggung jawab, waalupun sebagian,
terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan. Pimpinan seperti ini dinilai
dan dimotivasi atas dasar bonus untuk kinerja yang baik. Walaupun bagian
kinerja yang mereka hasilkan tidak bisa diukur. Untuk mendorong motivasi yang
diinginkan, pimpinan puncak biasanya mendasarkan pada perhitungan kinerja
masing-masing orang.
Kompensasi CEO (Chief Executive Officer)
Kompensasi untuk CEO biasanya
didiskusikan oleh panitia kompensasi dari dewan direktur setelah CEO
mempresentasikan rekomendasi kompensasi untuk bawahannya. Dari presentasi ini,
sikap dasar CEO tentang keinginan presentase tertentu atas kompensasi insentif
yang diberikan bisa dilihat nantinya. Dalam keadaan biasa panitia secara
sederhana menerapakan presentase yang sama untuk kompensasi CEO. Namun, panitia
biasanya memberi tanda untuk kinerja CEO yang berbeda dengan memutuskan apakah
memberikan presentase yang lebih tinggi atau lebih rendah.
E. INSENTIF UNTUK MANAJER UNIT BISNIS
Beberapa bentuk pilihan dalam
pengembangan paket kompensasi insentif untuk manajer unit usaha sebagai
berikut:
1.
Tipe Insentif
a. Penghargaan keuangan
1)
Peningkatan gaji
2)
Bonus
3)
Kesejahteraan
4)
Penghasilan tambahan
b.
Pengahargaan sosial dan psikologi
1)
Kemungkinan promosi
2)
Pemberian tanggung jawab
3)
Pemberian otonomi
4)
Menempatkan ke wilayah yang lebih baik
5) Pengakuan
2. Ukuran relatif Bonus Terhadap Gaji
a. Upper Cutoffs adalah tingkat
prestasi dimana bonus maksimum bisa dicapai
b. Lower Cutoffs adalah tingkatan
bawah dimana tidak ada bonus yang diberikan.
3. Bonus Atas Dasar
a. Laba unit usaha
b. Laba perusahaan
c. Kombinasi laba unit usaha dan perusahaan
4. Kriteria Kinerja
a. Kriteria keuangan
1) Kontribusi margin
2) Laba langsung unit usaha
3) Laba unit usaha yang bisa dikontrol
4) Laba sebelum pajak
5) Laba bersih
6) Return on Investment
7) Residual Income
b. Periode waktu
1) Kinerja keuangan tahunan
2) Kinerja keuangan beberapa tahun
c. Kriteria keuangan
1) Pertumbuhan penjualan
2) Pangsa pasar
3) Kepuasan konsumen
4) Kualitas
5) Pengembangan produk baru
6) Pengembangan personalia
7) Tanggung jawab publik
d. Beratnya tugas yang dibebankan
menurut kriteria keuangan dan non keuangan
e. Pengukuran perbandingan
1) Anggaran laba
2) Kinerja masa lalu
3) Kinerja pesaing
5. Pendekatan Penentuan Bonus
a. Atas dasar formula
b. Subyektif
c. Kombinasi atas dasar formula ataupun subyektif
6. Bentuk Pembayaran Bonus
a. Kas
b. Saham
c. Stock option
d. Phantom stock
e. Performance shares
F. HUBUNGAN
KEAGENAN (PRINCIPLE-AGENT) DAN KOMPENSASI MANAJEMEN
1. KONSEP
Suatu
hubungan keagenan ada jika satu pihak (prinsipal) menyewa pihak lain (agen)
untuk menjalankan beberapa jasa. Jasa yang dimaksud membutuhkan prinsipal untuk
mendelegasikan beberapa otorisasi pembuatan keputusan kepada agen. Ada dua
bentuk hubungan keagenan. Pertama, adanya kesepakatan dimana pemilik
ataupun pemegang saham suatu perusahaan menyewa CEO untuk menjadi agen mereka
dalam mengelola perusahaan dengan menjaga kepentingan terbaik perusahaan
tersebut. Kedua, ada persetujuan dimana CEO perusahaan bertindak sebagai
prinsipal dan menyewa manajer suatu bagian atau divisi sebagai agen untuk
mengelola suatu unit organisasi yang telah didesentrasikan.
a.
Perbedaan tujuan antara prinsipal
dan agen
Teori agen mendasarkan pada semua individu bekerja sesuai kepentingannya
sendiri. Agen diasumsikan menerima kepuasan tidak hanya dari kompensasi
keuangan tapi juda dari penghasilan tambahan yang berkaitan dengan hubungan
keagenan. Perbedaan lainnya adalah preferensi resiko. Teori agen mendasarkan
pada asumsi bahwa manager lebih suka kekayaan dikurangi, tapi utility
marginal ataupun kepuasaan menurun setelah harta terkumpul. Agen pada
dasarnya, kekayaan yang ada padanya tergantung pada keberuntungan perusahaan.
Kekayaan ini terdiri dari kekayaan keuangan dan modal pribadi.
Karena penurunan utilitas kekayaan dan jumlah modal agen tergantung pada
perusahaan, maka agen diasumsikan risk averse;
b. Tindakan agen yang tidak bisa diamati
Perbedaan dalam hal preferensi kaitannya dengan kompensasi dan penghasilan
tambahan lainnya timbul jika prinsipal tidak bisa dengan mudah memonitor
kinerja CEO. Keadaan ini menyebabkan 2 hal yaitu pertama, situasi dimana
informasi asimetris (prinsipal tidak tahu pasti kontribusi sebenarnya dri agen
terhadap hasil yang dicapai. Kedua, resiko moral (kesalahan dalam
memberi informasi).
2. MEKANISME KONTROL
Teori agen menyatakan ada
2 cara utama yang berkaitan dengan perbedaan tujuan dan asimetri informasi
yakni monitoring dan incentives.
a.
Monitoring
Prinsipal bisa mendesain sistem pengendalian untuk memonitor tindakan agen.
Contohnya dengan mengaudit laporan keuangan yang dilakukan pihak luar dan
dikirmkan ke pemilik. Teori agen berupaya menjelaskan mengapa perbedaan
hubungan agen yang berbeda memerlukan tingkatan monitoring yang berbeda pula.
b. Insentif
Prinsipal berusahan membatasi perbedaan preferensi yang membuat kontrak
insentif yang memadai. Makin banyak imbalan seorang agen tergantung pada ukuran
kinerja, makin banyak insentif yang diperlukan untuk agen meningkatkan ukuran
tersebut. Sistem kompensasi yang tidak mendorong ke arah kontrak insentif akan
membawa masalah yang serius.
Tidak ada satupun persetujuan
insentif yang bisa menjamin keselarasan tujuan secara lengkap. Hal ini karena
perbedaan resiko preferensi antara 2 pihak, asimentris infromasi dan biaya
monitoring.
3. RENCANA
KOMPENSASI DAN KEPEMILIKAN SAHAM UNTUK CEO
Sebagai
contoh biaya agen yang berkaitan dengan kompensasi insentif, jika perusahaan
membayar seorang CEO dengan bonus dalam bentuk stock option. Agen yang
telah memiliki risk averse, menambah resiko jika ia dibayar atas dasar kinerja
harga saham. Masalah lainnya adalah kurangnya kaitan secara langsung antara
usaha agen dan perubahan atas harga saham. Harga saham dipengaruhi oleh faktor
diluar kemampuan seorang agen untuk mengawasinya.
4. MANAJER UNIT
USAHA DAN INSENTIF ATAS DASAR AKUNTANSI
Hubungan
usaha manajer unit usaha dan harga pasar lebih sedikit dibandingkan dengan
hubungan antara usaha CEO dan harga saham. Mengisolasi kontribusi yang
dihasilkan oleh unit usaha secara tersendiri dalam peningkatan harga saham
adalah sulit. Karena kesulitan ini, bonus menajer unit usaha bisa didasarkan
pada laba bersih unit usaha.
5. KRITIK
Teori agen ditemukan pada tahun
60-an, tetapi teori ini tidak mempunyai pengaruh yang besar dalam praktik
proses pengendalian manajemen. Sebagian dari mereka yang telah mempelajari
teori agen menyatakan bahwa model seperi ini tidak lebih sekedar pernyataan
fakta yang jelas diungkapkan dalam simbol matematis. Yang lain menyatakan
elemen dalam model ini tidak bisa dikuantifikasi dan model ini terlalu
menyederhanakan kenyataan sebenarnya hubungan antara atasan dan bawahan.
No comments:
Post a Comment