BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembahasan tentang paradigma ilmu
termasuk bagian dari materi filsafat ilmu. Sedangkan filsafat ilmu merupakan
salah satu cabang kajian filsafat yang membahas tentang hakikat ilmu.
Sebelum membahas aliran-aliran
paradigma ilmu, lebih dulu penulis kemukakan hasil penulusuran asal-usul
filsafat. Ach. Maimun Syamsuddin menyatakan, pada umumnya para ilmuwan
menganggap bahwa tanah tumpah darah filsafat adalah Yunani. Namun Al-Farabi dalam
Tahsil al-Sa’adah mencatat bahwa orang-orang Kaldan (kawasan
Mesopotamia) sejak zaman purba merupakan pemilik tradisi filsafat yang diwarisi
orang-orang Mesir lalu turun ke Yunani. Di Yunani inilah memang tradisi mencari
kearifan dilakukan lebih intensif, dengan metode yang kian teratur dan
sistematis, berusaha melepaskan diri dari berbagai mitos.
Muhammad Al Bahi dalam Al-Janibul
Ilahi minat afkiril Islami menerangkan pula adanya sumber-sumber filsafat
termasuk dari kebudayaan Timur yakni dari agama-agama Aria, yaitu: Brahma,
Budha, Zuruastra dan Manu, serta dari agama-agama Semit, yaitu: Yahudi dan
Masehi (Kristen).
Al Bahi menyatakan, filsafat
Greek (Yunani) bukanlah ciptaan para filsuf Greek. Bukti dan argumen yang
dikemukannya adalah bahwa di dalam filsafat Yunani terdapat hubungan dengan
agama primitif Yunani yang menjadi unsur-unsur filsafatnya. Contohnya, filsafat
Yunani menjadikan “api hiraqlith” sebagai asal alam, sebagai indikasi bahwa ada
pengaruh agama Timur di dalamnya, sebab penyucian dengan api pada umumnya ada
di agama-agama Timur. Selain itu dalam filsafat Yunani juga menjadikan “akal
iliyah-i” sebagai asal alam, barangkali adalah konklusi penyucian jiwa, sebagai
asal akidah agama primitif.
Martin Bernal dalam bukunya Black
Athena, menyelidiki jalinan kesetaraan dan keserupaan kebudayaan dan
intelektual antara peradaban Semit (Yahudi), Yunani dan Mesir. Ternyata Bahasa
Yunani, walaupun termasuk rumpun bahasa Indo-Eropa, banyak meminjam
perbendaharaan kata bahasa Kan’an dan bahasa Mesir. Peradaban Yunani banyak
terpengaruh oleh peradaban Mesir dan Funesia, akibat penjajahan selama 1500
tahun oleh kedua bangsa itu. George Sarton menegaskan bahwa ’keajaiban’ Yunani
dalam bidang sains sebenarnya telah didahului oleh ribuan tahun pencapaian
sains di Mesir dan Mesopotamia, sehingga pandangan bahwa sains bermula dari
Yunani adalah pemalsuan hakikat sejati yang merupakan sikap ’kekanak-kanakan’.
Prof. George GM. James dalam bukunya Stolen Legacy: Greek Philosophy is
Stolen Egyptian Philosophy memaparkan tesis bahwa para filosof Yunani
seperti Thales, Pythagoras, Socrates, Plato dan sebagainya telah menerima
pendidikan atau setidaknya meminjam buah pikiran para paderi dan pendeta Mesir.
Dengan demikian, banyaknya
literatur yang menuliskan bahwa asal-usul filsafat berasal dari Yunani
hendaknya perlu diluruskan sebab pandangan tersebut hanya akan menyembunyikan
sejarah filsafat.
Filsafat sendiri sebenarnya juga
menjadi kajian ilmu. Namun, dalam definisi yang umumnya diakui ada perbedaan
antara ilmu dengan filsafat.
Definisi ilmu ternyata beragam,
berdasarkan pendapat para ahli yang berbeda. C.A. Peursen menyatakan bahwa ilmu atau ilmu
pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi
kenyataan dalam alam manusia.
Dalam Tanbihun.com dirangkum
berbagai definisi ilmu pengetahuan dari banyak ahli, beberapa di antaranya
sebagai berikut ini. Mohammad Hatta
mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum
kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut
kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut hubungannya dari dalam. Ralp Ross
dan Ernest van Den Haag menyatakan bahwa ilmu adalah yang empiris, rasional,
umum dan sistematik, dan keempatnya serentak. Cambridge Dictionary 1995
mengartikan ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar, mempunyai
objek dan tujuan tertentu dengan sistim, metode untuk berkembang serta
berlaku universal yang dapat diuji kebenarannya.
Begitu pula definisi filsafat ada
bermacam-macam menurut pendapat para ahli filsafat dari waktu ke waktu. Plato
memandang filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan
kebenaran yang asli. Plato juga menyatakan bahwa filsafat tidak lain dari
pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles menyatakan bahwa filsafat
adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
Aristoteles juga menyatakan bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab
dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali.
Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan
ilmu. Sementara itu Al Farabi mengartikan filsafat adalah ilmu tentang alam
maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
Apabila diperhatikan berbagai
definisi tentang ilmu tersebut, dapat dikatakan bahwa ilmu bukanlah sekadar
pengetahuan, tetapi merupakan sekumpulan pengetahuan yang benar dan dapat
secara sistematik diuji dengan suatu metode. Sedangkan penggunaan metode
ilmiah akan bergantung pada paradigma ilmu yang akan dibahas selanjutnya dalam
makalah ini, apakah suatu metode ilmiah bersifat tetap sebagai pedoman yang
positivistik demi menentukan kepastian cara menguji kebenarannya, ataukah
metode tersebut dapat berubah-ubah.
Berbeda dengan ilmu pengetahuan,
filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan
percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah, mencari solusi untuk
itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir
dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika.
Namun demikian, ketika filsafat
dikaji dalam dan sebagai suatu studi ilmiah maka filsafat juga menjadi bagian
dari ilmu itu sendiri, termasuk pula filsasat ilmu. Hal itu tampak pada
bagaimana perbedaan ahli dalam memandang filsafat ilmu.
A.
Cornelius Benjamin memandang filsafat ilmu sebagai berikut. ”That philosophic
discipline which is the systematic study of the nature of science, especially
of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general
scheme of intellectual disciplines.” Disini Cornelius Benjamin
memandang filsafat imu merupakan cabang dari filsafat.
Namun,
Conny Semiawan dan kawan-kawan (at al)
menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang
berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya
di atas ilmulainnya. Disini Conny Semiawan at al
memandang filsafat ilmu sebagai ilmu tentang ilmu pengetahuan.
Tulisan ini selanjutnya akan menelaah tentang beberapa paradigma ilmu
yang saya batasi pada paradigma positivisme, pospositivisme dan konstruktivisme.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan
masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
- Paradigma
Ilmu
- Paradigma
Positisme
- Paradigma
Pospositisme
- Paradigma
Positisme dan Konstruktivisme
C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Untuk
mengetahui tentang Paradigma Ilmu
- Untuk mengetahui tentang Paradigma Positisme
- Untuk mengetahui tentang Paradigma Pospositisme
- Untuk
mengetahui tentang Konstruktivisme.
D. Manfaat
Adapun manfaat
penulisan makalah ini adalah Menambah wawasan bagi penulis tentang Paradigma
Ilmu, Paradigma Positisme dan Konstruktivisme yang didukung beberapa ilmuan
yang populer.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PARADIGMA ILMU
Pemikiran manusia dari zaman ke
zaman selalu berubah, mengalami perkembangan. Kita dapat menelaah sejarah di
mana ilmu pada zaman sebelum Masehi sudah berkembang, terutama yang terkenal di
Mesopotamia, Babilonia, Mesir, India, Cina hingga zaman Yunani Kuno.
Perkembangan agama Kristen di
Eropa pada zaman Masehi turut mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan pada
waktu itu, di mana hegemoni tafsir ayat agama dalam pemerintahan yang sempat
mengintervensi dan menghakimi pemikiran ilmiah seperti yang terkenal terjadi
pada kasus Galileo yang melakukan falsifikasi terhadap pandangan geosentris,
dengan mengemukakan teori baru bahwa matahari merupakan pusat tatasurya
(heliosentris).
Namun demikian
kesewenang-wenangan gereja tersebut tidak membuat para ilmuwan menyerah.
Kondisi-kondisi masyarakat Eropa seperti itu justru memunculkan para ilmuwan
dan filsuf yang peduli terhadap perubahan sosial, berusaha melakukan perubahan
dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga muncullah gagasan-gagasan atau
paradigma tentang ilmu pengetahuan, di antaranya positivisme, pospositivisme,
konstruktivisme.
B. POSITIVISME
Pemikir Barat yang dianggap
sebagai pencetus positivisme adalah Auguste Comte dengan nama lengkap Isidore
Marie Auguste François Xavier Comte; lahir di Montpellier, Perancis, 17 Januari 1798. Comte meninggal di Paris 5 September 1857 pada umur 59 tahun. Comte
merupakan seorang ilmuwan Perancis yang dijuluki
sebagai "bapak sosiologi". Dia dikenal
sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial.
Aguste Comte hidup pada zaman
pasca Revolusi Perancis abad ke-19 yang karut-marut. Pada mulanya Comte
merupakan seorang ahli fisika dan politeknik terkemuka zaman itu. Ia mencoba
memberikan sebuah solusi tentang konsep masyarakat ideal yang disebutnya
sebagai masyarakat positivistik.
Auguste Comte saat itu
menggambarkan masyarakat Perancis dalam tiga tahap, yaitu masyarakat teologis
atau mitos, masyarakat metafisika, dan masyarakat positivis yang disebut oleh
Aguste comte sebagai masyarakat yang mapan.
Comte melihat keadaan Perancis sama
dengan keadaan di Eropa pada umumnya. Maka Comte menetapkan satu hukum
universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebut sebagai 'hukum
tiga fase'. Menurutnya, masyarakat berkembang melalui tiga fase: teologi,
metafisika, dan tahap positif (atau sering juga disebut "tahap
ilmiah").
Fase teologi tersebut berada di
permulaan abad pencerahan, dimana kedudukan seorang manusia dalam masyarakat
dan pembatasan norma dan nilai manusia didapatkan didasari pada perintah Tuhan.
Masa itu ditandai adanya dominasi hukum gereja. Ilmu pengetahuan yang
berkembang dilarang berlawanan dengan ayat-ayat Injil. Tetapi, tentu saja
ayat-ayat Injil tersebut ditafsirkan oleh otoritas agama yang tidak luput dari
kekeliruan.
Fase berikutnya adalah fase
metafisika, yaitu tahap di mana manusia dengan akal budinya mampu menjelaskan
tentang realitas, fenomena, dan berbagai peristiwa dicari dari alam itu
sendiri. Comte berpendapat bahwa metafisika belum bisa bersifat empirik,
sehingga tidak akan menghasilkan pengetahuan baru tentang realitas dan belum
dapat menjelaskan hukum alam, kodrat manusia dan keharusan mutlak tentang
manusia.
Comte menyatakan bahwa cara
berfikir manusia harus keluar dari dua tahap tersebut, yaitu dengan masuk pada
fase berikutnya, yaitu tahap pengetahuan positivis yang dapat dijadikan sarana
untuk memperoleh kebenaran dengan cara observasi untuk menemukan keteraturan
dunia fisik maupun sosial.
Comte mengembangkan suatu
penggolongan hirarkis dan sistematis dari semua ilmu pengetahuan, termasuk ilmu
fisika tidak tersusun teratur (ilmu perbintangan, ilmu pengetahuan bumi dan ilmu kimia) dan ilmu fisika
organik (biologi) dan bentuk
badan sosial yang dinamai sosiologi.
Dalam paradigma positivisme ini,
C.A. van Peursen menilai bahwa positivisme logis memecahkan kendala yang
dihadapi empirisisme berkaitan dengan kaidah-kaidah logika dan matematika yang
berlaku umum. Positivisme logis menganggap ilmu formal (matematika, logika)
bukan sebagai pengetahuan yang berhubungan dengan sesuatu di luar bahasa
(kenyataan). Positivisme logis bertolak dari data empiris, seperti pengamatan
dan fakta yang dinyatakan dengan memakai ungkapan pengamatan atau “kalimat
protokol”. Sedangkan ilmu formal tidak mengenai data empiris (kenyataan) tapi
menjalin hubungan antara lambang-lambang yang membuka kemungkinan memakai data
observasi yang telah diperoleh untuk menghitung (menyusun penjabaran logis dan
deduksi).
Paradigma positivisme berpandangan bahwa teori terbentuk dari seperangkat hukum
universal yang berlaku. Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk menemukan hukum-hukum tersebut. Dalam pendekatan ini,
seorang peneliti memulai dengan sebuah hubungan sebab akibat umum yang
diperoleh dari teori umum. Kemudian,
menggunakan idenya untuk memperbaiki penjelasan tentang hubungan tersebut dalam konteks
yang lebih khusus.
Dengan demikian paradigma ilmu
positivisme merupakan paradigma yang menggunakan metodologi kuantitatif.
Paradigma tersebut selanjutnya mendapatkan kritik para ilmuwan, termasuk mereka
yang berparadigma pospositivisme.
C. POSPOSITIVISME
Salah satu bentuk paradigma pospositivisme adalah paradigma interpretatif. Pendekatan interpretif berasal dari filsafat Jerman
yang menitikberatkan pada peranan bahasa,
interpretasi dan pemahaman dalam ilmusosial.
Salah satupendiripospositivismeadalah Karl
Popper.Karl Popper lahir di Vienna,Austria, 28 Juli 1902 dan meninggal di London, Inggris, 17 September 1994 (umur 92 tahun). Popper
merupakan salah satu dari sekian banyak filsuf ilmu dan pakar dalam bidang psikologi belajar.
Popper dikenal dengan gagasan falsifikasi, sebagai lawan dari verifikasi
terhadap ilmu. Falsifikasi adalah gagasan melihat suatu teori dari sudut pandang
kesalahan. Dengan menganggap teori itu salah, dan dengan segala upaya
dibuktikan kesalahan tersebut hingga mutlak salah, dibuatlah teori baru yang
menggantikannya.
Saya berpendapat bahwa tujuan falsifikasi dimungkinkan semata-mata untuk
terus-menerus mencari kebenaran suatu teori, bukan sebagai sikap subyektif
untuk mencari-cari kesalahan yang motif negatif. Falsifikasi ala Popper di sini
mempunyai motif positif. Salah satu contoh falsifikasi telah disebutkan di
depan pada kasus Galileo Galilei yang membantah atau melakukan falsifikasi
terhadap teori geosentris dengan mengemukakan teori heliosentris.
Di zaman yang lebih modern Albert Einstein juga melakukan falsifikasi teori
tentang relativitas dalam mekanika. Einstein pada tahun 1905 memaparkan teori
elektrodinamika benda yang bergerak. Dia memanfaatkan teori elektro-dinamika
dari Maxwell, untuk menemukan batasan dari mekanika Newton, membenturkan kedua
teori, yakni mekanika klasik dengan teori elektro-magnetisme. Einstein hendak
menunjukan bahwa kerangka fisika dan mekanika klasik yang berbasis ruang dan
waktu absolut, yang secara matematik dituliskan sebagai transformasi Galileo
Galilei, tidak berlaku dalam kecepatan amat tinggi. Einstein sekaligus
membantah teori dari Heinrich Hertz mengenai medium yang disebut ether pembawa
cahaya, dimana gaya listrik dan gaya magnet tidak dapat melampaui batasan
ruang. Dengan teorinya yang dijuluki sebagai Teori Relativitas Khusus itu
Einstein menunjukan ternyata tidak ada waktu absolut, akan tetapi hanya ada
ruang- waktu yang tergantung dari relasi-sistem. Dengan kata lain, dalam
ruang-waktu yang memuai secara cepat, pengukur waktu yang berdetik cepat-pun
akan berjalan lebih lambat. Teori elektro-dinamika benda bergerak itu,
kemudian terbukti dalam percobaan di laboratorium menggunakan jam atom, serta
dalam pengamatan waktu paruh dari partikel yang bergerak dengan kecepatan
mendekati kecepatan cahaya.
Kembali pada pemikiran Karl Popper tentang gagasan prinsip falsifikasinya.
Popper menggarisbawahi bahwa akal baru sungguh-sungguh bersifat kritis, apabila
mau membuang parameter yang mula-mula dipaksakan (imposed regulaties).
Pandangan ini disebut pula sebagai rasionalisme kritis di mana rasionalisme
tidak berarti bahwa pengetahuan didasarkan pada nalar seperti dikatakan
Descartes dan Leibniz, melainkan bahwa sifat rasional dibentuk lewat sikap yang
selalu terbuka untuk kritik. Inilah di antaranya prinsip falsifikasi yang diutarakan oleh Popper dalam
melakukan kritik terhadap paradigma positivisme yang dianggap kaku dengan cara
menggunakan serta hanya mengakui metoda ilmiah yang umumnya digunakan (bersifat
positivistik).
D. KONSTRUKTIVISME
Konstruktivisme adalah suatu filsafat
pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan telah ditangkap manusia adalah
konstruksi (bentukan) manusia itu sendiri (Matthews, 1994 dalam Suparno, 1997).
Maka pengetahuan bukanlah tentang dunia lepas dari pengamatan tetapi merupakan
ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia sejauh yang
dialaminya. Proses konstruksi pengetahuan berjalan terus menerus dengan setiap
kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru (Piaget,
1971 dalam Suparno, 1997). Suatu ilmu pengetahuan setelah mengalami proses yang
cukup lama menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang lazim bagi manusia untuk
dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan keseharian. Sebelum dilazimkan
oleh manusia sebuah pengetahuan mengalami penyempurnaan akibat bertambahnya
pengalaman baru manusia yang disebut proses reorganisasi ilmu pengetahuan yang
berupa pendefinisian kembali, pemantapan konsep dan ilmu pengetahuan yang
relatif baku.
Ada pendapat yang menyatakan
bahwa gagasan pokok konstruktivisme dimulai oleh Gimbatissta Vico, epistemologi
dari Italia. Dialah cikal bakal konstruktivisme. Pada tahun 1970, Vico dalam De
Antiquissima Italorum Sapientia mengungkapkan filsafatnya dengan berkata,
“Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan.” Dia
menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti ‘mengetahui bagaimana membuat sesuatu.’
Vico menyatakan bahwa pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang
dibentuk. Lain halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan
itu harus menunjuk kepada kenyataan luar. Namun menurut banyak pengamat, Vico
tidak membuktikan teorinya (Suparno: 2008).
Namun demikian penelitian sejarah
pemikiran konstruktivisme lainnya dapat memberikan gambaran bahwa
konstruktivisme lahir sebelum tahun 1970-an. Kita bisa membaca pemikiran
Charles S. Pierce yang juga dianggap sebagai salah satu pemikir
konstruktivisme, yang hidup pada tahun 1839-1914.
Van Peursen membagi
konstruktivisme dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama dinyatakannya sebagai
kelompok yang paling dekat dengan positivisme logis sebab sangat mementingkan
logis ilmu. Kelompok ini disebut juga sebagai tesis “Duhem-Quine” mengacu pada
pendapat W.V.O Quine yang disebut sebagai bentuk holisme atau bertolak dari
keseluruhan. Sedangkan P. Duhem mengajarkan bahwa suatu sistem ilmiah terdiri
atas lambang-lambang (simbol), atas konstruksi simbolik melalui kaidah logis
seakan-akan menyajikan suatu “terjemahan” mengenai data empiris. Oleh karenanya
ilmu harus mengadakan kontak dengan pengalaman. Apabila terjadi konflik antara
ilmu dengan pengalaman maka hal itu menyangkut sistem sebagai keseluruhan.
Namun demikian ini tidak berarti bahwa seluruh sistem harus dihapus, biasanya
cukup memperbaharui terjemahan dengan mengganti lambang-lambang tertentu. Quine
melawan pendapat yang dogmatis dalam empirisme.
Kelompok kedua diberi nama
“filsafat ilmu baru.” Para tokoh dalam kelompok ini di antaranya P.K.
Feyeabend, N.R. Hansen, Thomas Kuhn, M. Polanyi, S. Toulmin. Kelompok ini
melangkah lebih jauh lagi di mana sistem dan kenyataan empiris saling
resap-meresapi. Perkembangan ilmu terjadi melalui aturan di luar ilmu lebih
berperan, seperti misalnya anggapan susila dan sosial. Kelompok ini menaruh
perhatian besar terhadap upaya menyusun suatu teori ilmiah, sehingga heuristik
juga diperhatikan. Setiap analisis ilmiah bertolak dari organisasi bahan yang
mendahuluinya, bertitik tolak pada gambaran menyeluruh yang menentukan
terbentuknya sistem ilmu. Kuhn berpendapat bahwa pembenaran suatu teori
bergantung pada struktur menyeluruh yang baru (paradigma). Verifikasi dan
falsifikasi bukanlah hal yang menentukan. Heuristik mulai memegang peranan
penting bagi metode suatu ilmu, khususnya bagi pembaharuannya.
Kelompok ketiga yang menganut
paham konstruktivisme disebut aliran “genetis.” Kelompok ini berpendapat bahwa
terjadinya sistem, genesis sistem, merupakan bagian dari sifat khas sistem
semacam itu. Proses terjadinya (genesis) dan hasilnya tidak dapat dipisahkan.
Aliran ini dipengaruhi oleh pragmatisme dan instrumentalisme dari Charles S.
Pierce dan J. Dewey. Titik pangkalnya dari anggapan Pierce dengan ajarannya
tentang abduksi. Selain deduksi dan induksi, Pierce menyampaikan metode
abduksi.
Pierce itu menyatakan bahwa
abduksi sebagai logika yang menentukan pembentukan hipotesis apapun.
Setiap pengamatan dan interpretasi merupakan hipotesis yang dibuat berdasarkan
abduksi. Sebagai sebuah proses sadar, abduksi merupakan bentuk ke tiga
kesimpulan logis (seni melakukan penyimpulan), sesudah induksi dan
deduksi. Abduksi bisa dipandang sebagai pencarian akan penjelasan
terbaik bagi fenomena apapun yang diamati yang memerlukan penjelasan: X
(misalnya, penggunaan tak terduga sebuah kata tertentu) sungguh luar biasa; A,
B, C merupakan kemungkinan penjelasan akan penggunaan ini; B (misalnya posisi
sosial penutur, yang membedakannya dari interlokuter lain) tampaknya paling
meyakinkan. Jika B memang benar, fenomena X tidak lagi luar biasa; dengan
demikian B diterima sebagai satu hipotesis yang bisa menguraikan kejadian X.
Secara lebih sederhana, perbedaan
deduksi, induksi dan abduksi dapat digambarkan sebagai berikut:
Deduksi:
(1.1)
Semua buncis yang
berasal dari kantong itu (adalah) putih
(1.2)
Buncis ini (adalah)
berasal dari kantong itu
-----------------------------------------------------------------------------
Buncis ini (adalah) putih
-----------------------------------------------------------------------------
Buncis ini (adalah) putih
Induksi:
(2.1) Buncis ini
(adalah) berasal dari kantong itu
(2.2) Buncis ini
(adalah) putih
---------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------
(2.3) Semua buncis
yang berasal dari kantong itu (adalah) putih
Abduksi:
(3.1) Semua buncis yang berasal dari kantong itu (adalah) putih
(3.2) Buncis ini (adalah) putih
-----------------------------------------------------------------
(3.3) Buncis ini (adalah) berasal dari kantong itu
(3.1) Semua buncis yang berasal dari kantong itu (adalah) putih
(3.2) Buncis ini (adalah) putih
-----------------------------------------------------------------
(3.3) Buncis ini (adalah) berasal dari kantong itu
Di dalam filsafat Islam, filsuf
Al-Kindi tampaknya juga termasuk pemikir konstruktivis. Dalam karyanya yang
diterjemahkan dalam Bahasa Inggris berjudul Treatise on Metaphysics ia
menyatakan: “Kita seharusnya tidak malu untuk mengakui kebenaran dan
menerimanya dari sumber manapun yang datang kepada kita, sekalipun ia dibawa
kepada kita oleh generasi-generasi sebelumnya dan orang asing. Bagi orang yang berusaha
menemukan kebenaran, tidak ada nilai yang lebih tinggi dari kebenaran itu
sendiri; ia tidak pernah merendahkan atau melecehkan orang yang mencapainya,
justru memuliakan dan menjadikannya terhormat.” Hal ini menunjukkan
bahwa Al Kindi tidak berpatokan pada satu sumber saja dalam mencari kebenaran.
Begitu pula dengan Ibnu Sina yang
tertarik dengan semua metodologi ilmu pengetahuan. Dalam kajian-kajiannya
tentang ilmu alam Ibnu Sina bertumpu pada semua jalan pengetahuan yang terbuka
bagi manusia, dari rasiosinasi dan interpretasi terhadap Kitab Suci hingga
observasi dan eksperimentasi. Ibnu Sina memodifikasi silogisme Aristoteles,
melakukan pengembangan ilmu fisika melahirkan fisika modern melakukan kritik
terhadap teori-teori Aristoteles, melakukan observasi dan eksperimentasi
sekaligus.
Para ilmuwan Islam pada dasarnya
memang telah diajari tradisi konstruktivisme guna mengembangkan ilmu
pengetahuan. Oleh sebab itu dalam Islam muncul berbagai mazhab Ja’fari, Hanafi,
Maliki, Syafi’i dan Hambali serta banyak mucul Thariqah.
Dalam ilmu tafsir Al Quran muncul
bermacam-macam metode, diantaranya metode tafsir bil ma’tsur (tafsir
melalui riwayat para sahabat Nabi Muhammad SAW), tafsir bil ra’yi (tafsir
menggunakan akal) maupun gabungan keduanya. Imam Al Baghawi di
dalam mukadimah kitab Ma’alim at-Tanzil menyatakan: “Tidak menambah atas apa
yang telah para ulama sebelumnya lakukan, tetapi tiap-tiap masa harus ada
pembaharuan atas apa yang telah lama masanya, penuntut ilmu berkurang masanya,
sebagai peringatan bagi orang yang terhenti, motivasi bagi yang
sungguh-sungguh, maka dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya yang baik.”
Saya berpendapat bahwa
konstruktivisme menjadi jalan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara lebih
leluasa, asalkan metode yang disusun dapat dipertangungjawabkan kebenarannya.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Munculnya filsafat pertama kali
ternyata bukanlah dari Yunani. Berdasarkan pelacakan sejarah para ilmuwan
ternyata filsafat Yunanipun dipengaruhi oleh kebudayaan agama-gama yang berasal
dari dunia Timur, terutama dari Mesir, Babilonia, Mesopotamia. Selain itu, di
bagian dunia lainnya juga berkembang filsafat, seperti di India dan Cina.
Filsafat ilmu dengan berbagai
macam paradigmanya merupakan sejarah jalan menuju perkembangan ilmu pengetahuan
di masa kini. Pandangan konstruktif dibutuhkan untuk mengembangkan ilmu dan
pengetahuan dengan metode apapun asalkan dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
Dalam dunia Islam, paradigma
konstruktivisme merupakan tradisi pemikiran Islam sejak kemunculan Islam itu
sendiri.
B.
Saran
Seseorang yang
mempelajari paradigma akuntansi hendaknya banyak mecari fakta sebagai
pendukung. Antara satu paradigama dengan paradigma yang lain tidaklah
bertentangan, tergantung dari pemahaman terhadap paradigma yang dibahas,
disarankan untuk banyak mengkaji, mencari fakta, mencari buku sumber serta
ditelaah dengan cermat.
No comments:
Post a Comment