Wednesday, February 1, 2017

PENERAPAN OUTSOURCING DALAM PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PADA SUATU PERUSAHAAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang Masalah
Sistem informasi dan teknologi telah menjadi komponen yang sangat penting bagi keberhasilan bisnis dan organisasi.Teknologi informasi, memainkan peranan penting dan makin luas dalam bisnis. Teknologi informasi dapat membantu segala jenis bisnis meningkatakan efisiensi dan efektivitas proses bisnis perusahaan, pengambilan keputusan manajerial, dan kerja sama kelompok kerja, hingga dapat memperkuat posisi kompetitif mereka dalam pasar yang cepat sekali berubah.

Setiap perusahaan memiliki rencana yang disusun dan direvisi secara berkala. Dokumen rencana yang dikenal sebagai business plan ini secara prinsip menjabarkan strategi perusahaan, dengan segala kelebihan dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki, dalam proses pencapaian visi dan misi usahanya. Dikatakan sebagai strategi karena tidak hanya berisi deskripsi global mengenai hal-hal yang ingin dicapai dalam jangka panjang saja, namun berisi ringkasan perencanaan dan pengembangan sumber daya yang dimiliki, seperti keuangan, manusia, asset, sistem informasi, dan lain sebagainya. Strategi Manajemen Sistem Informasi merupakan sub-bagian dari sebuah business plan, terutama bagi perusahaan dimana peranan sistem informasi dinilai sangat kritikal bagi kelangsungan hidup perusahaan.

Pentingnya peran sistem informasi dalam sebuah perusahaan membuat setiap perusahan harus memiliki sistem informasi yang baik agar dapat mendukung bisnis dari perusahaan tersebut, tetapi tidak semua perusahaan melakukan pengembangan sistem informasinya sendiri, karena berbagai alasan. Keterbatasan sumberdaya yang dimiliki perusahaan dalam pengembangan sistem informasi merupakan salah satu faktor perusahaan mengikutsertakan pihak lain untuk terlibat dalam pengembangan sistem informasi perusahaan tersebut.Salah satu alternatif yang perlu dilakukan perusahaan untuk mengantisipasi sumber daya yang terbatas dalam pengembangan sistem informasi adalah dengan melakukanbeberapa metode pengembangan sistem informasi.Salah satunya adalah dengan menggunakan metode Outsourcing. Oleh karena itu dalam makalah ini akan diuraikan lebih jauh mengenai bagaimana konsep pengembangan sistem informasi dengan menggunakan metode Outsourcing, dan juga bagaimana tahapan – tahapan dalam pengembangan sistem informasi dengan menggunakan metode Outsourcing pada suatu perusahaan serta untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan penggunaan Outsourcing yang mendukung operasional suatu perusahaan dalam penyusunan dan pengembangan sistem informasi.

1.2          Perumusan Makalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
  1. Apakah pertimbangan perusahaan melakukan pengembangan sistem informasi?
  2. Apakah tahapan – tahapan dalam pengembangan sistem informasi melalui metode Outsourcing pada suatu perusahaan?
  3. Apakah keuntungan dan kerugian penggunaan metode Outsourcing dalam pengembangan sistem di suatu perusahaan?

1.3          Tujuan Makalah
Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam makalah ini adalah untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan yang telah diidentifikasikan di atas, yaitu :
  1. Untuk mengetahui pertimbangan perusahaan untuk mengembangkan sistem informasi?
  2. Untuk mengetahui tahapan – tahapan dalam pengembangan sistem informasi melalui metode Outsourcing pada suatu perusahaan?
  3. Untuk mengetahui keuntungan serta kerugian pengembangan sistem melalui metode Outsourcing pada suatu perusahaan?
1.4          Manfaat Makalah
Adapun hasil dari makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
  1. 1.     Bagi Penulis
Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis mengenai penerapan metodeOutsourcing dalam pengembangan sistem informasi pada suatu perusahaan.
  1. 2.     Bagi Perusahaan
Mendapatkan informasi tambahan tentang konsep pengembangan sistem informasi dan mengetahui tahapan – tahapan dalam pengembangan sistem informasi melalui metode Outsourcing pada perusahaan, serta mengetahui keuntungan serta kerugian pengembangan sistem informasi melalui metode Outsourcing.
  1. 3.     Bagi Pihak Lain
Terutama untuk rekan – rekan mahasiswa Magister Bisnis Institut Pertanian Bogor dan pihak – pihak lain bahwa hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan I nformasi dan pengetahuan yang bermanfaat.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1          Konsep Sistem Informasi
Terdapat beberapa pendapat dan definisi mengenai sistem informasi, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.Turban, McLean, dan Wetherbe (1999)
Sistem informasi adalah sebuah sistem informasi yang mempunyai fungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik.
2. Bodnar dan HopWood (1993)
Sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna.
3. Alter (1992)
Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang, dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah perusahaan.
John Burch dan Gary Grudnitski, (“Information Systems Theory and Practice”, John Wiley and Sons, New York, 1986) mengemukakan bahwa sistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebutnya sebagai blok bangunan (block building).Block building ini kemudian dibagi menjadi :
  1. 1.     Blok masukan (input block)
Input mewakili data yang masuk kedalam sistem informasi. Input disini termasuk metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukkan, yang dapat berupa dokumendokumen dasar.
  1. 2.     Blok model (model block)
Komponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yang akan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan cara yag sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.
  1. 3.     Blok keluaran (output block)
Hasil dari sistem informasi adalah keluaran yang merupakan informasi yang berkualitas dan dokumentasi yang berguna untuk semua pemakai sistem.
  1. 4.     Blok teknologi (technology block)
Teknologi merupakan “tool box” dalam sistem informasi, Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, neghasilkan dan mengirimkan keluaran, dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan.
  1. 5.     Blok basis data (data base block)
Basis data (database) merupakan kumpulan data yang saling berkaitan dan berhubungan satu dengan yang lain, tersimpan di pernagkat keras komputer dan menggunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya. Data perlu disimpan dalam basis data untuk keperluan penyediaan informasi lebih lanjut.Data di dalam basis data perlu diorganisasikan sedemikian rupa supaya informasi yang dihasilkan berkualitas.Organisasi basis data yang baik juga berguna untuk efisiensi kapasitas penyimpanannya.Basis data diakses atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak paket yang disebut DBMS (Database Management System).
  1. 6.     Blok kendali (controls block)
Banyak hal yang dapat merusak sistem informasi, seperti bencana alam, api, temperatur, air, debu, kecurangan-kecurangan, kegagalan-kegagalan sistem itu sendiri, ketidak efisienan, sabotase dan lain sebagainya. Beberapa pengendalian perlu dirancang dan diterapkan untuk meyakinkan bahwa hal-hal yang dapat sistem dapat dicegah ataupun bila terlanjur terjadi kesalahan-kesalahan dapat langsung cepat diatasi

Dari definisi-definisi sistem informasi di atas tersebut, dapatlahditarik kesimpulan bahwa sistem informasi harus mencakup unsur-unsur perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur-prosedur, model analisis, perencanaan, teknik pengambilan keputusan dan basis data.Jadi jelas bahwa sistem informasi mencakup sejumlah komponen yakni manusia, komputer, teknologi informasi dan prosedur kerja, ada sesuatu yang diproses yakni data menjadi informasi dan dimaksudkan untuk mencapai suatu sasaran atau tujuan.

2.2          Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen (SIM) menurut O’Brien (2002) dikatakan bahwa SIM adalah suatu sistem terpadu yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dari suatu organisasi. Sistem Informasi Manajemen (SIM) merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen (Wikipedia, 2012). Tujuan SIM, yaitu:
v Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
v Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
v Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebuah sistem informasi melakukan pemrosesan data dan kemudian mengubahnya menjadi informasi.Menurut O’brien (2010) SIM merupakan kombinasi yang teratur antara people, hardware, software, communicationnetwork dan data resources (kelima unsur ini disebut komponen sistem informasi) yang mengumpulkan, merubah dan menyebarkan informasi dalam organisasi.

2.3          Konsep Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan sistem (system development) merupakan aktivitas menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang sudah ada. Pengembangan sistem menurut Rustono (2003) dilakukan dengan merencanakan dan mengembangkan arsitektur sistem informasi organisasi yang terdiri atas komponen-komponen software, hardware, brainware, proses dan prosedur, infrastruktur, dan standar.

Pengembangan sistem informasi menurut Loudon (dalam Husein dan Wibowo, 2000:89) didorong oleh faktor eksternal dan faktor internal.Faktor eksternal adalah faktor lingkungan organisasi yang mempengaruhi adopsi dan desain sistem. Beberapa faktor lingkungan eksternal adalah peningkatan biaya tenaga kerja atau sumber daya lain, persaingan dari perusahaan lain dan perubahan regulasi pemerintah (UU). Sedangkan faktor internal adalah faktor institusional organisasi yang mempengaruhi proses adopsi dan desain sistem informasi. Faktor ini mencakup value (tata nilai), norma, dan hal-hal penting yang dapat membentuk strategi penting dalam organisasi.


2.4          Strategi Pengembangan Sistem Informasi
Menurut Earl (1989), strategi pengembangan  sistem informasi meliputi tiga pilar utama, yaitu Information System Strategy (ISS), Information Technology Strategy (ITS), dan Information Management Strategy (IMS). 

ISS, ITS, dan IMS mempunyai fokus yang berbeda namun memiliki keterkaitan yang sangat erat sehingga perubahan pada salah satu strategi akan sangat mempengaruhi strategi yang lain. ISS menekankan pada hubungan antara informasi dan kebutuhan bisnis organisasi.ITS fokus pada teknologi yang harus dimiliki dan dikembangkan organisasi. IMS berorientasi pada teknik manajemen yang akan dipergunakan organisasi.
  1. A.    Information System Strategy (ISS)
ISS berkaitan dengan bagaimana mendefinisikan kebutuhan informasi yang mendukung kebutuhan organisasi secara umum, untuk menjamin terjadinya “the flow of information” yang efektif dan berkualitas.Setiap organisasi memiliki kebutuhan informasi yang unik. Keunikan tersebut antara lain terlihat dari (1) jenis dan karakteristik informasi, (2) relevansi informasi yang dihasilkan, (3) kecepatan alir informasi dari satu bagian ke bagian lain dalam organisasi, (4) keakuratan informasi, (5) target nilai ekonomis informasi yang diperoleh, (6) batasan biaya yang harus dikeluarkan dalam pengolahan informasi, dan (7) struktur para pengguna informasi. Berdasarkan faktor-faktor keunikan tersebut sistem informasi yang dikembangkan oleh rumah sakit misalnya akan berbeda dengan sistem informasi yang dikembangkan oleh bank. Bahkan sistem informasi yang dikembangkan oleh rumah sakit A akan berbeda dengan sistem informasi yang dikembangkan rumah sakit B.

Adanya keunikan informasi pada setiap organisasi, ISS perlu memperhatikan siklus informasi (information cycle) atau siklus pengolahan data (data processing cycles).

Siklus informasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Data dari setiap kejadian atau aktivitas diinput, untuk selanjutnya diproses berdasarkan model tertentu. Proses tersebut akan menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penerima (level management) sebagai dasar dalam membuat suatu keputusan atau melakukan tindakan tertentu. Keputusan atau tindakan tersebut akan menghasilkan kejadian-kejadian tertentu yang akan digunakan kembali sebagai data untuk dimasukkan ke dalam model (proses), begitu seterusnya.
  1. B.    Information Technology Strategy (ITS),
Komponen utama yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah sistem informasi yang efektif dan efisien adalah teknologi informasi.Teknologi informasi merupakan sebuah domain dari produk-produk hasil perkembangan ilmu komputer dan telekomunikasi. Oleh karena itu menurut Jogiyanto (2005:52) ITS berkaitan dengan strategi memilih teknologi sistem komputer (hardware dan software), dan teknologi sistem telekomunikasi yang akan digunakan organisasi.

Pada kenyataannya, saat ini terdapat beragam tipe produk yang berkaitan dengan teknologi informasi.Fenomena yang terlihat sehubungan dengan hal ini adalah berlombanya beribu-ribu perusahaan untuk menciptakan produk-produk yang dapat dijadikan standar internasional pada kelasnya masing-masing. Berdasarkan kenyataan ini sudah terlihat, bahwa perusahaan memerlukan strategi khusus paling tidak dalam memilih teknologi mana saja yang akan dibeli dan dimanfaatkan agar dapat dikembangkan sistem informasi yang dibutuhkan. Alasan lain diperlukannya ITS adalah karena adanya suatu resiko tertentu yang akan menjadi tanggungan perusahaan sehubungan dengan pemilihan suatu teknologi tertentu. Menurut Indrajit (1999) ITS diperlukan karena alasan berikut.
  1. Perkembangan teknologi informasi sedemikian cepatnya (tumbuh secara eksponensial) sehingga usia suatu produk tertentu sangat pendek karena tergantikan dengan versi yang baru yang lebih baik;
  2. Untuk satu jenis kelas produk, terdapat beribu-ribu vendor yang menjualnya dengan kelebihan dan kekurangan kualitas produk dan pelayanan yang dimiliki;
  3. Sistem teknologi informasi terdiri dari ratusan komponen berbeda yang disatu sisi saling independen, sementara di sisi lain memiliki ketergantungan yang sangat tinggi;
  4. Perusahaan dapat melihat infrastruktur teknologi informasi ini dari berbagai sudut pendekatan, seperti teknologi informasi sebagai cost center, profit center, investment center, atau service center yang masing-masing memiliki cara penanganan yang berbeda;
  5. Teknologi informasi yang dibangun harus secara signifikan menjawab kebutuhan akan informasi yang telah didefinisikan pada ISS dengan catatan tetap mempertimbangkan keterbatasan perusahaan (misalnya biaya investasi dan kemampuan sumber daya manusia);

  1. C.    Information Management Strategy (IMS)
IMS berkaitan dengan strategi menentukan orang atau unit organisasi yang akan menangani sistem informasi dalam organisasi. IMS menjabarkan strategi organisasi agar target pembentukan sebuah sistem informasi yang handal dengan menggunakan teknologi informasi yang ada dapat diterapkan secara operasional baik untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, sejalan dengan tumbuhnya organisasi di masa mendatang. Tekanan strategi di sini tidak hanya pada siapa yang akan bertanggung jawab terhadap implementasi sistem informasi, tetapi lebih jauh lagi pada bagaimana sistem yang telah dibangun dapat dipelihara dan dikembangkan di kemudian hari.

2.5          Metode – Metode Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan sistem informasi dapat dilakukan dengan beberapa cara. Menurut Jogiyanto (2005:433) pengembangan sistem informasi dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah  pengembangan sistem informasi konvensional dengan menggunakan siklus hidup pengembangan sistem atau system development life cycle (SDLC). Sistem dikembangkan oleh analis sistem, yaitu orang yang memiliki kemampuan mengembangkan sistem cara profesional. Pengembangan sistem dilakukan melalui tahapan analisis sistem, perancangan sistem, implementasi sistem, dan operasi serta perawatan sistem.

Cara kedua adalah dengan menggunakan metode baru yang merupakan metode alternatif dari metode SLDC, sehingga dapat disebut  dengan metode-metode alternatif (alternatif methods). Husein dan Wibowo (2000:145),  Jogiyanto (2005:479), McLeod (2004:133), dan Susanto (2003:313)  menyebutkan metode-metode alternatif meliputi  (A) Paket (package), (B) Prototipe (prototyping), (C) Pengembangan oleh pemakai akhir (end-user development atau end-user computing), (D) Outsourcing.

  1. A.    Paket (package)
Pengembangan sistem dilakukan dengan membeli paket yang sudah tersedia.Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih paket adalah spesifikasi paket yang dibutuhkan, ketersediaan paket, dan hasil evaluasi kemampuan paket.
  1. B.    Prototyping
Merupakan pengembangan sistem secara bertahap, yaitu dengan mengembangkan prototipe sederhana dulu dan ditingkatkan dari waktu ke waktu sampai sistem selesai dikembangkan.
  1. C.    End User Computing
Pengembangan sistem oleh pemakai sistem dan digunakan oleh pemakai sistem itu sendiri.
  1. D.   Outsourcing
Pengembangan sistem dengan bantuan pihak ke tiga dan sekaligus dioperasikan oleh pihak ketiga.Pemakai sistem dapat menggunakan sistem dengan menerima informasi secara periodik oleh pihak ketiga atau dapat menggunakan terminal yang dihubungkan ke tempat pihak ketiga yang mengoperasikan sistem.

Tabel 1 menunjukkan perbedaan pengembang dan pengguna sistem berdasarkan metode pengembangan sistem yang dipilih oleh organisasi atau perusahaan.

Tabel 1
Pengembang dan Pengguna Sistem Berdasarkan
Metode Pengembangan Sistem
Metode Pengembangan Sistem
Pengembang
Pengguna
SDLC
Analis sistem
Departemen sistem informasi
Paket
Pihak ketiga
Departemen sistem informasi
Prototyping
Analis sistem
Pemakai sistem
End User Computing
Pemakai sistem
Pemakai sistem
Outsourcing
Pihak ketiga
Pihak ketiga
Sumber:  Jogiyanto (2005:480)

Menurut Wahid (2001) pemilihan metode pengembangan sistem informasi perlu dilakukan dengan tepat agar sistem yang dikembangkan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan organisasi, tepat waktu dan sesuai dengan anggaran organisasi. Ketepatan pemilihan metode pengembangan sistem oleh organisasi menurut Jogiyanto (2005:476) ditentukan oleh beberapa faktor,  yaitu ketersediaan paket, sumber daya sistem teknologi informasi, dampak dari sistem dan jadwal pemakai sistem. 

Prioritas pertama pemilihan metode pengembangan sistem adalah paket. Ketersediaan paket merupakan faktor penentu pembelian paket. Jika paket tidak tersedia prioritas kedua jatuh pada Outsourcing. Penentuan apakah akan dikerjakan dan dioperasikan oleh pihak ketiga (Outsourcing) ditentukan oleh faktor kemampuan sumber daya sistem teknologi informasi (STI) yang dimiliki organisasi. Jika keputusan akan dikembangkan secara internal (in sourcing) biasanya yang dipertimbangkan adalah metode pengembangan End User Computing (EUC). Faktor penentu pengembangan EUC adalah dampak dari sistem yang dikembangkan. Jika dampaknya sempit yaitu hanya pada individu pemakai sistem yang sekaligus pengembang sistem itu saja, maka EUC tepat jadi pilihan. Sebaliknya jika dampaknya luas sampai ke organisasi, pengembangan sistem dengan EUC akan berbahaya, karena jika terjadi kesalahan dampaknya akan berpengaruh pada pemakai sistem lainnya atau pada organisasi secara luas.

Metode berikutnya yang perlu dipertimbangkan setelah EUC adalah metode prototyping. Pertimbangan memilih metode ini adalah jadwal pemakaian sistem. Metode ini tepat digunakan untuk mengembangkan sistem yang harus segera dioperasikan, karena jika tidak permasalahan yang harus diselesaikan menjadi basi dan proses pengambilan keputusan menjadi terlambat. Jika jadwal pemakaian sistem  masih lama, dalam arti sistem tidak harus segera dioperasikan, metode SDLC tepat menjadi pilihan.

2.6          Konsep Dasar Outsourcing
Terdapat berbagai definisi mengenai Outsourcing saat ini. Definisi Outsourcingmenurut Suwondo (2003) yang dikutip oleh Dani (2010) adalah “pendelegasian operasi dan manajemen operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (pihak perusahaan Outsourcing).”. 

Sedangkan menurut Indrajit dan Djokopranoto (2003) yang kembali dikutip oleh Dani (2010) definisi Outsourcing adalah “penyerahan aktivitas perusahaan pada pihak ketiga dengan tujuan untuk mendapatkan kinerja pekerjaan yang professional dan berkelas dunia”. Sedangkan definisi lain menurut Pfannenstein dan Tsai (2004) yang dikutip oleh Diah (2008) Outsourcing adalah “memindahkan pekerjaan suatu perusahaan kepada pihak lain dalam waktu yang tertentu”.

Maurice F. Greaver II memberikan definisi Outsourcing sebagai berikut: “Outsourcing is the act of transferring some of a company`s recurring internal activities and decisiton rights to outside provider, as set forth in a contract. Because the activities are recurring and a contract is used, Outsourcing goes beyond the use of consultants. As a matter of practice, not omly are the activities transferred, but the factors of production and decision rights often are, too. Factors of production are the resources that make the activities occur and include people, facilities, equipment, technology, and other assets. Decision rights are the respontsibilities for making decisions over certain elements of the activities transferred.”

Menurut O’Brien dan Marakas (2010) dalam bukunya “Introduction to Information Systems”, istilah Outsourcing dalam arti luas adalah pembelian sejumlah barang atau jasa yang semula dapat dipenuhi oleh internal perusahaan tetapi sekarang dengan memanfaatkan mitra perusahaan sebagai pihak ketiga. Dalam kaitannya dengan TI, outsorcing digunakan untuk menjangkau fungsi TI secara luas dengan mengontrak penyedia layangan eksternal.Outsourcing TI juga dapat diterjemahkan sebagai penyediaan tenaga ahli yang profesional di bidang TI untuk mendukung dan memberikan solusi guna meningkatkan kinerja perusahaan. Hal ini dikarenakan sering kali suatu perusahaan mengalami kesulitan untuk menyediakan tenaga TI yang berkompeten dalam mengatasi kendala-kendala TI maupun operasional kantor sehari-hari (www.midas-solusi.com). Jadi, Outsourcing adalah pemberian sebagian pekerjaan yang tidak bersifat rutin (temporer) dan bukan inti perkerjaan di sebuah organisasi/perusahaan ke pihak lain atau pihak ketiga.

Dari pengertian lain outsource adalah sistem yang dibuat atau dibeli dari vendor (Laudon ,2002 : 438). Yang dimaksud dengan vendor adalah individu atau kelompok yang menjual produk-produk atau jasa layanan IT kepada organisasi yang membutuhkan jasa atau produknya. Vendor sendiri dapat dipisahkan atas 2 (dua) bagian, yaitu vendor yang membuat produk dan layanannya sendiri disebut kontraktor, dan vendor yang hanya menjual produk dan jasa IT dari perusahaan lainnya (reseller) disebut sebagai vendor saja (Administration for Children and Families [b], 2005).

Sehingga secara umum pengertian dari Outsourcing adalah suatu pengalihan aktivitas perusahaan baik barang atau jasa ke perusahaan lain yang memiliki 3 komponen tersebut. Hubungan dalam dunia Information Technology, IT Outsourcing adalah kontrak tambahan dari sebagian atau keseluruhan fungsi IT dari perusahaan kepada pencari Outsourcing external.IT Outsourcing merupakan pemanfaatan organisasi external untuk memproduksi atau membuat ketetapan jasa teknologi informasi.Jasa IT yang biasanya di Outsourcing adalah jaringan, desktop, aplikasi dan web hosting.






                                                                                      
BAB III
PEMBAHASAN

3.1           Pertimbangan Perusahaan Melakukan Pengembangan Sistem Informasi
Hal penting yang dilakukan dalam pengelolaan sumberdaya informasi adalah bagaimana mengembangkan sistem informasi. Pengembangan sistem informasi adalah menyusun sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Penggantian atau perbaikan ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain :
v Adanya permasalahan-permasalahan yang timbul pada sistem yang lama atau pada sistem yang lama timbul ketidakberesan dan pertumbuhan organisasi. Ketidakberesan sistem lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan sehingga kebenaran data kurang terjamin. Sedangkan pertumbuhan organisasi adalah kebutuhan informasi yang semakin luas, volume pengolahan data yang semakin meningkat, dan adanya perubahan prinsip baru sebagai akibat sistem lama yang tidak dapat memenuhi semua kebutuhan informasi yang dibutuhkan manajemen.
v Untuk meraih kesempatan-kesempatan. Dalam persaingan pasar yang semakin ketat, kecepatan informasi sangat menentukan keberhasilan strategi dan rencana yang disusun untuk meraih kesempatan dan peluang pasar sehingga teknologi informasi perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh manajemen.
v Adanya instruksi dari pimpinan atau dari luar organisasi, misalnya dari pemerintah.

3.2           Pertimbangan Perusahaan Melakukan Pengembangan Sistem Informasi Dengan Menggunakan Metode Outsourcing
Keputusan perusahaan untuk melakukan Outsourcing dipengaruhi oleh banyak faktor. Leeet al. (2000) dalam Benamati dan Rajkumar (2002) mengemukakan bahwa sejumlah besar keputusan Outsourcing didorong oleh masalah fundamental seperti  ekonomi, strategi dan teknis. Selanjutnya Lee (2004) menemukan beberapa perusahaan melakukan outsource untuk mencapai fleksibilitas produksi yang lebih tinggi, untuk mengembangkan kapasitas, atau agar lebih fokus pada kompetensi inti. Namun mayoritas perusahaan melakukan outsource terhadap aktifitas produksi untuk mengurangi biaya atau  meningkatkan kualitas produk dengan menggunakan keahlian dari supplier mereka. Microsoft adalah salah satu perusahaan yang menggunakan Outsourcing untuk memungkinkan teknologi informasinya bisa meningkatkan kapabilitas supply chainmereka (Bardhan et al., 2006). Melalui Outsourcing Microsoft mampu menghasilkan 360 game video dan sistem hiburan di akhir tahun 2005 dengan mempercayakan pada jaringan kontraktor dan supplier untuk menyampaikan komponen-komponen dan layanan-layanan utama yang penting bagi produk mereka.

Banyak perusahaan yang menggunakan Outsourcing untuk mengatasi masalah seperti tidak tersedianya keahlian di dalam perusahaan, kualitas yang jelek atau produktifitas yang rendah, permintaan yang sifatnya sementara atas keahlian tertentu, atau siklus hidup pengembangan produk yang panjang. Namun dibalik semua motivasi tersebut, keputusan untuk meng-outsource harus dibuat berdasarkan perspektif yang strategis dan memiliki tujuan dan sasaran yang jelas agar perusahaan benar-benar mendapatkan manfaat dari keputusan yang diambil.

Outsourcing dapat berupa meminta pihak ketiga untuk melaksanakan proses pengembangan sistem informasi termasuk pelaksana sistem informasi. Pihak perusahaan menyerahkan tugas pengembangan dan pelaksanaan serta maintenance sistem kepada pihak ketiga. Menurut Marakas (2006), beberapa pertimbangan perusahaan untuk memilih strategi Outsourcing sebagai alternatif dalam mengembangkan Sistem Informasi Sumberdaya Informasi diantaranya:
  1. Biaya pengembangan sistem sangat tinggi.
  2. Resiko tidak kembalinya investasi yang dilkukan sangat tinggi.
  3. Ketidakpastian untuk mendapatkan sistem yang tepat sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.
  4. Faktor waktu/kecepatan.
  5. Proses pembelajaran pelaksana sistem informasi membutuhkan jangka waktu yang cukup lama.
  6. Tidak adanya jaminan loyalitas pekerja setelah bekerja cukup lama dan terampil.
3.3           Tahapan Pengembangan Sistem Informasi Dengan Metode Outsourcing

Tahap 1:Pertimbangan Outsource
1.  Analisa Proses
v Memilih kandidat proses yang mungkin (meneliti dan mempelajari kandidat proses yang akan di-outsource)

2.  Benefit vs Risk
v Analisa risiko (melakukan analisa risiko  yang mungkin terjadi).
v Evaluasi biaya pelaksanaan (Mengevaluasi biaya total pelaksanaan (gross margin, biaya operasi, pajak), termasuk biaya infrastruktur, manajemen, perolehan pengetahuan, dan biaya pelatihan.

Tahap 2 :Pertimbangan Outsource
  1. Aktifitas
v Memilih aktifitas dengan cara memutuskan proses dan fungsi yang di-outsource.
  1. Evaluasi
v Mengevaluasi kesiapan organisasi dan pengukuran transisi.

Tahap 3 :Pemilihan Rekan
  1. Sumber Daya
v Analisa sumber daya aktifitas (Memeriksa sumber daya organisasi yang dimiliki dan yang tidak dimiliki serta nilai strategis aktifitas yang akan di-outsource).
v Penetapan sumber daya yang dibutuhkan (Pemilihan jenis dan jumlah sumber daya yang dibutuhkan).
  1. 2.     Vendor
v RFQ (Request For Quotation) yaitu mengundang suplier untuk memberikan penawaran untuk produk atau layananyang diinginkan, beserta informasi pendukung yang dibutuhkan.
v Evaluasi tawaran, yaitu mengevaluasi tawaran setelah kriteria pengembangan, mengunjungi rekan potensial, mendiskusikan sebuah pendekatan yang mengendalikan.
v Memilih supplier, yaitu memilih supplier berdasarkan track record, sumber daya yang dimiliki, spesialisasi industri, budaya organisasi, dan kriteria lain.

3.4           Keuntungan Dan Kerugian Pengembangan Sistem Informasi Dengan Metode Outsourcing
Keunggulan Outsourcing dibandingkan pendekatan lain menurut O’Brian (2007)  yaitu:
  1. Mengurangi dan mengendalikan biaya operasioanal. Pemilihan Outsourcing memang membutuhkan biaya yang mahal pada awal kontraknya, tetapi pertimbangan resiko yang akan ditanggung oleh perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan membangun sendiri dengan kemampuan kurang akan mengakibatkan permasalahan di kemudian hari dan berdampak pada segi pembiayaan perusahaan.
  2. Meningkatkan fokus perusahaan pada kegiatan utama usahanya tanpa dibebani permasalahan pengembangan sistem informasi.
  3. Mendapatkan akses terhadap sistem informasi premium atau kelas dunia bagi penerapan sistem informasi di perusahaannya.
  4. Sumber daya manusia dalam perusahaan dapat lebih fokus melakukan pekerjaan pada kegiatan utama perusahaan tanpa dibebani kegiatan pengembangan sistem informasi. Tentu saja hal ini diharapkan akan meningkatkan produktifitas perusahaan.
  5. Memberi jalan keluar terhadap permasalahan  ketidak tersediaan sumber daya dari perusahaan yang ahli dalam pengembangan sistem informasi, sehingga dapat mengurangi resiko salah penerapan sistem informasi.
  6. Menunjang akselerasi tujuan perusahaan untuk mempercepat mendapatkan keuntungan/ benefit dengan penerapan sistem informasi yang sesuai.
  7. Menghindarkan dari kendali internal mengenai tidak berfungsinya sistem informasi karena penerapan sistem informasi yang salah atau gagal.
  8. Peningkatan benefit perusahaan akan menyebabkan perusahaan dapat meningkatkan pertumbuhan modal usaha.
  9. Berbagi resiko terhadap implementasi sistem informasi antara perusahaan dan vendor. Kesalahan implementasi tidak ditanggung penuh oleh perusahaan saja, oleh karena itu dibutuhkan kerjasama yang baik dalam proses perencanaan sistem informasi antara perusahaan dan vendor.
  10. Perusahaan dapat mengontrol pemasukan dan pengeluaran kas dengan bantuan sistem informasi yang tepat.
Di samping keunggulan yang telah disampaikan di atas, penerapan metode Outsourcingjuga memiliki kelemahan,diantaranya adalah :
  1. Terdapat kekhawatiran tentang keamanan sistem informasi karena adanya peluang penyalahgunaan sistem informasi oleh vendor, misalnya pembajakan atau pembocoran informasi perusahaan.
  2. Ada peluang sistem informasi yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan dikarenakan vendor tidak memahami kebutuhan sistem dalam perusahaan tersebut.
  3. Transfer knowledge terbatas karena pengembangan sistem informasi sepenuhnya dilakukan oleh vendor.
  4. Relatif sulit melakukan perbaikan dan pengembangan sistem informasi karena pengembangan perangkat lunak dilakukan oleh vendor, sedangkan perusahaan atau organisasi umumnya hanya terlibat sampai rancangan kebutuhan sistem.
  5. Dapat terjadi ketergantungan kepada konsultan.
  6. Manajemen perusahaan membutuhkan proses pembelajaran yang cukup lama dan perusahaan harus membayar lisensi program yang dibeli sehingga ada konsekuensi biaya tambahan yang dibayarkan.
  7. Resiko tidak kembalinya investasi yang telah dikeluarkan apabila terjadi ketidakcocokan sistem informasi yang dikembangkan.
  8. Mengurangi keunggulan kompetitif perusahaan. Mungkin saja pihakoutsourcer tidak fokus dalam memberikan layanan karena pada saat yang bersamaan harus mengembangkan sistem informasi klien lainnya.
  9. Perusahaan akan kehilangan kendali terhadap aplikasi yang di-outsource-kan. Jika aplikasinya adalah aplikasi kritikal yang harus segera ditangani jika terjadi gangguan, perusahaan akan menanggung resiko keterlambatan penanganan jika aplikasi ini di-outsource-kan karena kendali ada pada outsourcer yang harus dihubungi terlebih dahulu.
  10. Jika kekuatan menawar ada di outsourcer, perusahaan akan kehilangan banyak kendali dalam memutuskan sesuatu apalagi jika terjadi konflik diantaranya.






BAB IV
PENUTUP

4.1.      Kesimpulan
Sistem informasi berperan penting dalam keberhasilan bisnis karena sistem informasi dapat berfungsi sebagai sistem pendukung operasi (operations support system) yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional perusahaan, selain itu sistem informasi juga berperan didalam sistem pendukung manajemen (management support system) yang dapat meningkatkan pengambilan keputusan manajerial kearah yang lebih baik.

Outsourcing tidak hanya memberi manfaat bagi usaha kecil dan menengah, seperti meningkatnya nilai perusahaan, meningkatkan fleksibilitas operasi, mengurangi biaya dan perusahaan bisa lebih fokus pada kompetensi inti, namun Outsourcing juga diikuti oleh munculnya resiko-resiko baru seperti penurunan dalam kinerja sistem, penurunan moral staf, atau hilangnya kemampuan inovatif. Resiko tersebut menyebabkan munculnya biaya-biaya yang tersembunyi (hidden cost). Resiko-resiko sebagaimana dimaksud umumnya muncul bila keputusan Outsourcing didasari semata-mata oleh dorongan untuk memotong biaya dan pemilihan sistem informasi yang akan di-outsource dilakukan secara sembarangan.

Untuk meminimalkan risiko tersebut pengambil keputusan harus memisahkan fungsi sistem informasi yang tidak memiliki nilai tambah dari fungsi kompetensi inti sistem informasi yang memiliki nilai tambah. Pengambil keputusan harus bisa menentukan tingkat resiko yang bisa ditolerir pada biaya yang paling minimal. Pertimbangan terhadap resiko, biaya dan manfaat dari aktifitas Outsourcing akan mempengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan Outsourcing atau tidak.










DAFTAR PUSTAKA


Sistem Informasi Manajemen, Dr. Ir. Arif Imam Suroso. MSc (CS) dan Prof. Dr. Ir. Kudang B. Seminar Msc (CS).
O’Brien, J. A. and Marakas, G. M. 2011.Management Information System Tenth Edition. Mc.Graw-Hill Companies. New York.
O’Brien, J.A. & Marakas, G.M. (2006). Introduction to Information Systems, 7th Ed., McGraw-Hill/Irwin. New York.
Mc Leod, Raymond dan Schell, George, 2007, Sistem Informasi Managemen. Jakarta : PT. Indeks.
Raharjo. B. 2002. Memahami Teknologi Informasi. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.
Pangestu, D. W. 2007. Teori Dasar Sistem Informasi Manajemen. http://www.ilmukomputer.com
O’Brien, James A. 2005. Pengantar Sistem Informasi, Perspektif  Bisnis dan Manajerial. Edisi 12. Terjemahan: Introduction to Information Systems, 12th Ed. Palupi W. (editor), Dewi F. dan Deny A. K. (penerjemah). Salemba Empat. Jakarta.
Jogiyanto. (2005). Sistem Teknologi Informasi. Andi: Yogyakarta.
Laudon, 2004. Management Information System : Managing The Digital Firm. New Jersey : Pearson Prentice Hall.
McLeod, Raymond. (2004). Management Information System. Science research Associates Inc..
Azhar Susanto, 2004, Sistem Informasi Manajemen : Konsep dan Pengembangan. Bandung : Lingga Jaya.
Husein, FakhriMuhammaddan Wibowo, Amin. (2000). Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Lucas, H.C., Jr. 1999. Information Technology and the Productivity Paradox: Assessing the Value of Investing in IT. Oxford University Press. New York.
Cortada, J. W. 1995. Total Quality Management: Terapan dalam Manajemen Sistem Informasi. McGraw-Hill Book Co. Yogyakarta.

Earl, Michael J. (1989). Management Strategies for Information Technology. United Kingdom: Prentice Hall International.

No comments: